Pembunuh AKBP Mairuhu Divonis 14 Tahun – Ambon Ekspres
Amboina

Pembunuh AKBP Mairuhu Divonis 14 Tahun

AMBON,AE.—Tujuan mereka ingin memberikan support bagi keluarga yang menjadi terdakwa dalam sidang putusan kasus pembunuhan AKBP Marten Mainruhu.

Namun tidak diduga, dua terdakwa masing-masing Febry Suitela dan Wellem Salampessy dijatuhi hukuman penjara. Keluarganya pun histeris usai mendengar putusan hakim.

Awalnya keluarga kedua terdakwa yang sudah mengetahui jadwal sidang, hadir di Pengadilan Negeri Ambon sekitar pukul 11.00 Wit di Pengadilan Negeri Ambon. Berselang beberapa jam kemudian, keluarga korban AKBP Martin Mairuhu juga mendatangi Pengadilan.

Meski pihak keluarga terdakwa maupun korban datang lebih awal, namun sidang baru dimulai pukul 16.00 Wit. Ruang sidang dipenuhi oleh keluarga terdakwa, Febry Suitella dan Wellem Salampessy.

Pembacaan putusan oleh hakim secara bergilir berlangsung sekitar 30 menit. Pertimbangan demi pertimbangan pun dibacakan hakim mengarah pada perbuatan kedua terdakwa yang terbukti melakukan pembunuhan terhadap AKBP Martin Mairuhu.

Pembacaan putusan awalnya berlangsung lancar. Keluarga terdakwa dengan saksama menyimak putusan hakim. Sementara keluarga korban, hanya mendengar putusan dari arah pintu keluar ruang sidang.

BACA JUGA:  Keputusan Berani Richard Kejar PDI Perjuangan

Hakim menyatakan, terdakwa Wellem Salampessy bersalah dan dijatuhi vonis 14 tahun penjara. Sementara terdakwa Febry Suitela, dijatuhi vonis 13 tahun penjara. Usai mendengar putusan, keluarga terdakwa terlihat sedih. Ada yang mengeluarkan air mata.

Terdakwa bersama keluarga dikawal beberapa jaksa kembali ke ruang tahanan Pengadilan Negeri Ambon. Berselang 3 menit kemudian, tangisan dari pihak keluarga terdakwa pun tak terelakan. Bahkan ada yang histeris. Lantaran mereka tidak terima dengan putusan hakim.

“Beta (saya) punya kakak tidak bersalah. Dia tidak membunuh. Dia bukan seorang pembunuh, “teriak salah satu saudara terdakwa. Keluarga terdakwa yang dominannya perempuan itu menangis histeris tidak ada henti-hentinya. Tidak sampai disitu, mereka juga menuding hakim telah mengambil putusan yang tidak adil.

“Hakim dunia tidak adil. Nanti hakim di akhirat saja yang berikan keadilan, ” teriak salah satu ibu yang diduga merupakan ibu terdakwa Febry Suitella.

Tidak hanya hakim, keluarga terdakwa juga menuduh pihak kepolisian yang telah merekayasa dan menuding anak mereka hingga diseret ke Pengadilan. Meskipun dinasehati oleh beberapa keluarga, namun tidak dihiraukan. Mereka terus menagis histeris.

BACA JUGA:  Mogok Ditengah Laut, Penumpang Panik

Beruntung, keluarga korban AKBP Martin Mairuhu tidak ikut campur. Sehingga hanya pihak terdakwa yang beraksi. Berselang beberapa menit kemudian, anggota polisi dari Polsek Sirimau datang dan mencoba menenangkan keluarga terdakwa.

Dengan cepat, polisi lalu membawa kedua terdakwa dengan mobil tahanan ke Rutan. Alhasil, keluarga terdakwa membubarkan diri.

Terkait putusan itu sendiri, hakim menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan, melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Keduanya dijerat dengan pasal 340 KUHP.

Menurut hakim, dalam pertimbangannya kedua terdakwa tidak mengakui perbuatannya yang saat kejadian turut melakukan penganiayaan terhadap korban AKBP Martin Mairuhu sehingga meninggal dunia. Selain itu, hal-hal yang memberatkan kedua terdakwa, yakni perbuatan terdakwa telah menghilangkan nyawa orang lain.

Kendati demikian, putusan hakim lebih ringan dari tuntutan JPU Kejari Ambon yang meminta agar hakim menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada kedua terdakwa.
Menyikapi putusan itu, pihak penasehat hukum kedua terdakwa, Chriss Latupeirissa menyatakan pikir-pikir sebelum menempuh upaya hukum banding. Hal yang sama juga dinyatakan JPU, Lili Heluth. (AFI)

Most Popular

To Top