Inflasi Bulanan Maluku Terus Menurun – Ambon Ekspres
Amboina

Inflasi Bulanan Maluku Terus Menurun

AMBON,  AE.—Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku, angka inflasi Maluku selama 10 bulan terakhir tercatat pada level yang rendah dan stabil. Pasalnya, hingga Oktober 2016, inflasi Maluku tercatat hanya sebesar 2,18 persen, jauh di bawah capaian inflasi tahun kalender (ytd) selama tiga tahun terakhir, yaitu 6,63 persen pada Oktober 2013, 5,67 persen pada Oktober 2014, dan 4,25 persen pada Oktober 2015.

“Rendahnya capaian inflasi tidak lepas dari kuatnya stabilitas makro ekonomi nasional, serta eratnya koordinasi kebijakan antar instansi dalam Tim Pengendali Inflasi (TPI) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” ungkap Ansy Setyo Biwado, Deputi Kepala Perwakilan BI Maluku, kemarin.

Dijelaskan, pada Oktober 2016, inflasi bahan pangan juga masih terpantau stabil. Secara bulanan (mtm), tekanan inflasi Maluku meningkat pada Oktober 2016, akibat meningkatnya tarif perguruan tinggi Kota Ambon sebesar 25,11 persen. Namun demikian, laju inflasi Maluku masih tertahan oleh kelompok bahan makanan, yang mengalami deflasi bulanan sebesar 0,41 persen di Kota Ambon. Deflasi tercatat terutama pada komoditas sayur-sayuran, yaitu sebesar 4,6 persen, seiring dengan menguatnya pasokan lokal sebagai dampak dari kondusifnya cuaca.

Sementara itu, kenaikan harga beras juga cukup terbatas, yaitu hanya 0,03 per setiap bulan di Kota Ambon dan bahkan stabil atau tidak mengalami inflasi di Kota Tual. Hal ini terjadi karena ketersedian pasokan dan stabilitas harga yang didukung peran Bulog Divre Maluku serta Dinas Perindustrian & Perdagangan Provinsi Maluku.

Sebagai dampaknya, Indeks Harga Konsumen (IHK) secara umum di Provinsi Maluku mengalami inflasi bulanan 0,55 persen pada Oktober 2016. Sehingga, akhir tahun, tekanan inflasi diperkirakan tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku. “Masuknya periode La Nina sejak Oktober lalu meningkatkan tekanan inflasi Maluku, terutama pada produksi ikan segar.

Tekanan inflasi komoditas sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan juga bepotensi meningkat, terutama seiring dengan penurunan produksi hortikultura dari daerah pemasok seperti Jawa Timur. Selain itu, tekanan inflasi angkutan udara juga diperkirakan meningkat, didorong oleh penyelenggaraan event besar seperti penyelenggaraan Table Top Exercise di Kota Ambon untuk mengantisipasi tsunami. Namun demikian, potensi inflasi hingga akhir tahun 2016 diperkirakan masih pada batas bawah sasaran TPID Provinsi Maluku, yaitu 4,5 – 6,5 persen,” paparnya.

Menghadapi risiko meningkatnya tekanan inflasi pada dua bulan terakhir 2016, kata Andy, TPID Provinsi Maluku melakukan beberapa langkah pengendalian inflasi. TPID Provinsi Maluku terus memantau realisasi program prioritas untuk peningkatan pasokan pangan lokal, seperti perluasan lahan padi dan hortikultura, peningkatan akses irigasi, dan realisasi program bantuan kapal laut. Selain itu, manajemen stok bahan pokok dan pengelolaan ekspektasi masyarakat juga menjadi prioritas.

“TPID Provinsi Maluku akan memperkuat operasi pasar dan program pasar murah melalui koordinasi antar instansi dan penguatan kerjasama dengan pihak swasta. Masyarakat juga dihimbau untuk tidak melakukan panic buying, karena stok bahan pokok akan terus dijaga. Stabilitas harga pangan Kota Ambon dan Kota Tual dapat dipantau langsung oleh masyarakat secara harian melalui situs PIHPS online, www.hargapangan.id , untuk menjadi acuan bagi produsen dan konsumen,” pungkasnya.

Kepala Kantor Perwakilan BI Maluku, Wuryanto mengatakan, inflasi Maluku (gabungan inflasi Ambon dan Tual) sesuai yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, secara bulanan (mtm) dan tahunan kalender (ytd) Januari-Oktober di atas nasional, yaitu Maluku 0,55 dan 2,19, sedangkan nasional 0,14 dan 2,11, tapi secara tahunan (yoy) inflasi Maluku lebih rendah dari nasional yaitu 2,65 dibanding 3,31 persen.

Komoditas lima besar penarik inflasi Maluku masih berkisar di komiditas ikan segar yaitu ikan layang, ikan selar dan ikan tongkol (di ambon), serta ikan cakalang, ikan kembung, ikan ekor kuning, dan ikan layang (di tual). Cuaca yang belum kondusif, menjadi penyebab langkanya ikan-ikan tersebut.

“Sampai oktober ini, inflasi Maluku secara tahunan masih di bawah nasional. Artinya tinggal dua bulan lagi, bila bisa mempertahankan inflasi yang rendah, inflasi Maluku bisa di bawah inflasi nasional. Suatu capaian yang luar biasa. Yang perlu diperhatikan adalah inflasi desember nanti, dimana ada hari besar keagamaan dan sambut tahun baru,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, koordinasi yang baik antar instansi yang tergabung dlaam TPID, juga para distributor dan petani, dalam menyediakan barang dan jasa yang cukup dibutuhkan masyarakat, menjadi kata kunci. “Untuk diketahui, inflasi 2013 sebesar 8,8, 2014 sebesar 7,1 dan 2015 sebesar 6,1, angka inflasi ini terus menurun. Semoga inflasi di 2016 ini bisa lebih rendah lagi. Untuk saat ini sampai Oktober inflasi Maluku baru mencapai 2,19 persen,” katanya. (IWU)

Most Popular

To Top