Jaksa Jangan Diamkan Kasus Dana Atlet – Ambon Ekspres
Amboina

Jaksa Jangan Diamkan Kasus Dana Atlet

AMBON,AE––Sudah berstatus penyidikan, namun hingga kini pengusutan kasus dugaan korupsi dana dekonsentrasi pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Maluku tahun 2014, tidak ada kemajuan. Dana dekonsentrasi pada Dispora Maluku tahun 2014 ini diperuntukan untuk pembinaan atlet di berbagai cabang olahraga. Namun, diduga dana miliaran rupiah terindikasi korupsi.

Kejari Ambon pada 1 Maret 2016 lalu bahkan sudah melakukan tindakan hukum berupa penggeledahan di dua kantor milik Pemerintah Provinsi Maluku, Dispora Maluku dan kantor Inspektorat provinsi Maluku. Dalam proses penggeledahan itu, aparat penegak hukum menyita berbagai dokumen tentang penggunaan dana dekonsentrasi tahun 2014 yang diduga disalahgunakan.

Meski begitu, hingga kini penanganan kasus itu oleh Kejari Ambon belum menemui titik terang. Bahkan, Kejari Ambon, Herlie Robert Ilath beberapa waktu lalu mengakui pihaknya belum menemukan titik terang soal siapa yang paling bertanggungjawab atas kasus dugaan korupsi dana dekonsentrasi pada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Maluku.

Menyikapi hal itu, Ketua DPW Indonesia Investigasi Korupsi (IIK) Maluku, Faizal Yahya Marasabessy menilai, Kejari Ambon seolah-plah tidak serius dalam mengusut tuntas kasus itu. Meskipun kasus ini sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan bahkan dilakukan penggeledahan, namun belum ada titik terang.

“Kalau penanganan kasusnya seperti ini kan, nanti Jaksa dibilang tidak serius. Padahal, sebagai aparat penegak hukum, Kejari Ambon harus memberikan kepastian terkait penegakan hukum dalam kasus-kasus tertentu, “jelasnya.

Menurutnya, Kejari Ambon harus menyatakan sikap tegas terkait pengusutan kasus tersebut. Jika dibiarkan, maka kasus ini akan mengambang dan tidak tuntas. “Kasusnya kalau dibiarkan, maka akan mengambang. Maka dari itu, publik akan bertanya-tanya, kapan kasus yang diduga apa perbuatan yang melawan hukum ini dituntaskan? “kata Marasabessy.

Apalagi, kata dia, jika kasus ini sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan. Otomatis, penyidik Kejari Ambon memiliki alasan kenapa sampai kasus tersebut ditingkatkan statusnya.

Karena, lanjutnya, dalam suatu kasus jika ditingkatkan ke tahap penyidikan, sudah pasti kejaksaan sudah mempunyai bukti adanya dugaan perbuatan melawan hukum terkait pengelolaan dana atlet itu. Oleh yang demikian, maka perlu sikap profesional jaksa dalam melakukan penegakan hukum terhadap suatu dugaan-dugaan tertentu.

“Kalau sudah naik ke Penyidikan, otomatis jaksa mempunyai alasan berdasarkan bukti. Sehingga, jaksa harus mengambil langkah guna menuntaskan kasus ini, sehingga publik bisa mendapatkan kepastian hukum, “tandasnya.

Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette saat dikonfirmasi menjelaskan, kasus ini ditangani oleh pihak Kejari Ambon. Sehingga mereka yang lebih mengetahui secara detail dan sampai dimana perkembangannya. “Kasusnya kan di Kejari Ambon. Jadi sebaiknya konfirmasi langsung ke Kejari Ambon saja, “singkat Sapulette.

Untuk diketahui, barang bukti dokumen yang berhasil disita penyidik di kantor Dispora Maluku diantaranya, bukti pembayaran dan belanja perjalanan dinas dan RKKS serta kwitansi tahun 2014 sebanyak sembilan bundel. Bukti foto copy peraturan gubernur Maluku nomor 15 tahun 2014 tentang tunjangan kinerja daerah Provinsi Maluku tahun anggaran 2014.

Selain itu ada juga dokumen pembinaan PPLM Provinsi Maluku Universitas Pattimura, dokumen SPT kegiata PPLP tahun 2014, dokumen surat perintah kerja tahun 2014 dengan CV Berkat, dokumen kegiatan HAORNAS tahun 2014, dua buku agenda tantang daftar menu untuk atlet.

Sementara barang bukti dokumen yang disita penyidik di kantor Inspektorat Maluku hanya satu bundel laporan hasil audit Inspektorat Kementerian Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Maluku.

Berdasarkan data awal Kejari Ambon dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi dana dekonsentrasi itu sebesar Rp 5 miliar lebih yang bersumber dari APBN Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI tahun 2014. Ternyata, dalam dokumen yang disita Jaksa penyidik ini total anggarannya sebesar Rp 8 miliar lebih. (AFI)

Most Popular

To Top