Perginya Kemudaan dan Kesederhaan Putra Namalean – Ambon Ekspres
Ragam

Perginya Kemudaan dan Kesederhaan Putra Namalean

Selamat Jalan Fathani Sohilauw

Telepon saya  berdering pukul 21.15 WIB di Jakarta, Jumat (4/11). Amir Kotarumalos mengabarkan meninggalnya Fathani Sohilauw, mantan Ketua DPRD Maluku. Kami memiliki kedekatan tertentu, karena hubungan kekeluargaan dari ibunya.

Kabar itu mengejutkan, karena tidak didahului oleh sakit berat  sebelumnya. Tekanan darahnya naik hari itu, kemudian dirujuk di RSU dr. Haulussy Ambon. Namun nasibnya tidak tertolong, karena pembuluh darah di otaknya pecah.

Berpulangnya Fathani diyakini sudah takdir Tuhan. Diusia yang relatif muda Tuhan pula telah menyempurnakan bhkatinya kepada negeri ini. Dua periode di DPRD Maluku, Fathani mendapatkan kesempatan menjadi Ketua DPRD Maluku, periode 2009 – 2014. Dia juga menjadi Sekretaris DPD Golkar Maluku mendampingi Ety Sahuburua. Mereka baru saja melepas masa periodesasi kepengurusan di Golkar, September 2016 lalu.

Selain itu Fathani memimpin organisasi sayap Golkar, sebagai Ketua DPD AMPI Maluku. Karir politiknya di Golkar melejit cepat, usai menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Perikanan Universitas Pattimura. Bersama dua koleganya, Ruslan Tawari dan Jauhari Tuarita, mereka mengasah diri melalui organisasi ekstra kampus di HMI. Pada masa itu Akbar Tanjung, senior mereka di HMI, sedang kuat-kuatnya di Golkar.

Pergaulan politik ketiganya diawali saat menjadi pengurus Badko HMI Maluku – Maluku Utara. Ruslan Tawari menjadi ketua, Fathani sekretaris dan Jauhari bendahara. Di organisisai ini mereka memiliki koneksi vertikal yang cukup baik. Mereka tersambung dengan elit-elit Golkar dari jaringan HMI, seperti Akbar Tanjung, Fahmi Idris, dan juga Fuad Bawazier.

Hubungan istimewa ketiganya dengan elit Golkar memberi jalan kepada ketiganya untuk menjadi politisi Golkar. Ruslan memiliki identifikasi ini lebih kuat, karena abangnya Yamin Tawari sudah menjadi Koordinator Wilayah Golkar Maluku, Maluku Utara dan Papua kala itu.

Selesai studi Ruslan memilih menjadi dosen di Faperik Unputi, sedangkan Fathani dan Jauhari menjadi pengurus Golkar Maluku. Mereka ikut pemilu 1999 dari Daerah Pemilihan Maluku Tengah, namun tidak lolos. Jauhari di rentang waktu itu diterima sebagai PNS di Pemda Kabupaten Maluku Tengah, sehingga meninggalkan Golkar. Fathani ketiban untung masuk di DPRD Maluku melalui jalur pergantian antar waktu (PAW).

Pada Pemilu 2004 – 2009 Fathani tidak terpilih kembali, karena setelah pemekaran Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), daerah ini tidak memiliki dapil sendiri. Dapil SBT gabung dengan dapil Maluku Tengah, merugikan wakil rakyat dari daerah itu. Namun pada Pemilu 2009, setelah dapil SBT terbentuk, Fathani terpilih sebagai anggota DPRD Maluku. Jabatannya kali itu adalah Ketua Pemenangan Pemilu Gokar Maluku memberi akses lebih baik di jajaran elit Golkar.

Nasib putra Desa Namalean, Kecamatan Gorom, melejit ketika lobi-lobi internal partai Golkar di DPP Golkar ikut mempertimbanhkan namanya sebagai calon ketua DPRD Maluku, selain Ketua DPD Golkar Maluku saat itu Memet Latuconsina. Dalam proses Pak Memet sakit keras, sehingga Fathani mendapatkan karpet merah sebagai Ketua DPD Golkar Maluku. Dalam sejarah Golkar di Maluku, hanya Ruswan Latuconsina dan Fathani Sohilauw yang menjadi ketua DPRD Maluku di usia 30-an tahun.

Pada Pemilu 2014 Fathani tidak lagi terpilih mewakili Golkar dari dapil SBT. Lemahnya konsolidasi Golkar di SBT, salah satu penyebabnya. Suara Fathani melorot dari sebelumnya, bahkan Golkar kehilangan jatah kursi dari SBT untuk DPRD Maluku.

Jauh sebelum ini, Fathani memiliki kesempatan menjadi pemimpin di daerah Ita Wotu Nusa. Setelah pemekaran SBT, pada Pilkada SBT 2005, dia sebenarnya menjadi calon wakil Abdullah Vanath. Sebab keduanya adalah tokoh pemekaran SBT, dimana Vanath menjadi ketua tim dan Fathani menjadi sekretaris. Namun paket ini buntu, karena Vanath akhirnya memilih Siti Umuriyah Suruwaky, salah satu PNS di Kabupaten Maluku Tengah.

Namun hubungannya dengan Vanath tetap akur. Dinamika politik yang ekstrem kadang menyandera sikap politik Fathani. Pada Pilkada Gubernur Maluku 2013, Fathani ada dalam dilema, karena majunya Vanath sebagai calon gubernur dan kewajibannya mengamankan calon Golkar, Said Assagaf – Ety Sahuburua. Dia memegang fatsun kelembagaan, namun tidak dapat berbuat banyak menggarap suara di SBT untuk Assagaf – Sahuburua.

Saya berdiskusi dengannya dan menangkap keinginannya menjadi bupati Seram Bagian Timur. Namanya sempat mewarnai bursa nama-nama bakal calon bupati SBT, menjelang Pilkada serentak 2015. Namun rekomendasi Golkar jatuh kepada Mukti Keliobas, Ketua DPD Golkar SBT. Pilkada SBT pun berlangsung diikuti dua pasangan Mukti Keliobas – Fachri Alkatiri, dan Siti Umuriyah Suruwaki – Sjafrudin Goo. Mukti- Fachri kemudian terpilih.

Kepergian Fathani menyisahkan pernak-pernik cerita politik, antara keberuntungan dan dilema sikap politik. Tuhan memberi begitu banyak kemudahan, sekaligus juga kesulitan bagi Fathani sebagai politisi. Sosok ini juga mengalami kelambatan dalam menemukan pendamping hidup. Hingga melewati masa keemasannya, dia satu-satunya politisi yang menonjol sebagai bujangan hingga akhir hayatnya.

Selamat jalan abang, kakanda, dan saudaraku. Terima kasih untuk waktu diskusi yang pendek, yang pernah kita lalui. Tuhan melengkapi kebaikanmu dengan kepergian yang begitu cepat. Semoga engkau kekal di disisi-Nya dalam alam keabadian…. (**)

Most Popular

To Top