Swing Voters Cenderung ke PANTAS – Ambon Ekspres
Politik

Swing Voters Cenderung ke PANTAS

AMBON,AE.—Peluang kemenangan pasangan Paulus Kastanya dan Muhammad
Armyn Syarif Latuconsina, dinilai sangat ditentukan oleh swing voter atau pemilih mengambang. Olehnya itu, tim dan pasangan calon Walikota dan wakil Walikota Ambon itu harus memaksimalkan pertemuan tatap muka dan meyakinkan pemilih.

Jumlah pemilih mengambang atau pemilih yang belum menentukan pilihan untuk pemilihan Walikota dan wakil Walikota Ambon 2017, belum diketahui pasti. Namun, hasil survei Konsultan Citra Indonesia (KCI), jaringan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipublikasikan akhir Oktober 2016, menunjukkan angka pemilih mengambang cukup tinggi, yakni 15,5 persen.

Selain survei KCI, belum ada lembaga lain yang merilis dan mempublikasikan hasilnya. Hasil survei KCI menjadi parameter bagi pasangan calon Walikota dan wakil Walikota, baik Paulus Kastanya dan Muhammad Armyn Syarif Latuconsina maupun Richard Louhenapapessy-Syarif Hadler memaksimalkan konsolidasi guna meningkatkan elektabilitas.

Pengamat komunikasi politik Universitas Pattimura, Said Lestaluhu mengatakan, hasil pasangan Paulus Kastanya dan Muhammad Armyn Syarif Latuconsina dengan akronim PANTAS, itu memiliki peluang signfikan merebut suara pemilih mengambang. Pasalnya, pasangan ini memiliki koalisi partai politik yang besar.

Selain itu, pasangan yang diusung oleh PDIP, Hanura, PKB, PBB, PKS, PAN, Demokrat, Gerindra dan PKPI sebagai partai pendukung juga menawarkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Pasangan ini kan juga dibekingi dengan logistik yang kuat serta pasangan yang cukup energik. Kalau PANTAS maksimal menggarap mereka, maka ini menjadi penentu kemenangan pasangan PANTAS. Tapi saya kira mereka punya peluang untuk meraup 15 persen (pemilih mengambang) itu,”kata Said via seluler, Senin (7/11).

Said menilai, 15,5 persen sesuai hasil survei KCI, merupakan angka yang cukup besar dari perhitungan menang kalah dalam Pilkada serentak 2017 tanpa dua putaran. Untuk mencapai perolehan suara 50 persen lebih, dari 33,3 persen (survei KCI) medio Oktober, PANTAS tidak hanya mengandalkan mesin partai koalisi.

Efektifitas kampanye tatap muka yang berlangsung saat ini, itulah yang harus dilakukan oleh pasangan dengan jargon ‘Bisa Biking Labe’ itu. Apalagi hari pencoblosan tersisah tiga bulan saja.

“Melalui pendekatan kampanye tatap muka itu harus dilakukan secara efektif dan continue. Karena mengubah presepsi orang itu agak cukup lama dan sulit. Apalagi mereka menghadapi pak Richard sebagai mantan Walikota yang dianggap berhasil,”ungkap magister ilmu politik Universitas Negeri Makassar (UNM) itu.

Selain PANTAS juga harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa program-program tersebut bisa terealisasi jika mereka terpilih. Sebab mayoritas pemilih kota Ambon adalah pemilih rasional.

“Kalau di kota yang memiliki tipe pemilih yang agak rasional, memang harus diyakinkan secara betul-betul dengan program paslon dengan memiliki nilai jual yang tinggi dan konsisten dengan jargon Bisa Biking labe,”ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut Said, pasangan PANTAS juga harus berhati-hati dengan pemilih yang belum menentukan pilihan politik dalam Pilwakot menjelang tiga bulan pencoblosan atau 15 Februari 2017. Sebab, ada dua tipe pemilih mengambang, yakni belum menentukan pilihan karena masih menelusuri rekam jejak atau program serta karena menunggu stimulant calon, termasuk politik uang.

“Pemilih mengambang itu sangat rentan. Karena biasa mereka menunggu stimulasi yang diberikan oleh para kandidat. Bisa saja bersifat material maupun lainnya. Katakanlah politik uang,”paparnya.

Pengamat politik Unpatti lainnya, Paulus Koritelu mengatakan, pemilih mengambang biasanya cenderung memilih pasangan calon yang bukan incumbent atau petahana. Dibawa ke Pilwakot, pemilih mengambang berpeluang besar akan memilih pasangan PANTAS.

“Memang kecenderungan pemilih mengambang itu dia akan lari kepada bukan incumbent. Kecuali incumbent lebih banyak memberi kepastian-kepastian, ”kata Koritelu.

Kemungkinan kecenderungan pemilih kepada pasangan PANTAS, kata Koritelu, bisa diukur dari beberapa indikator. Pertama, kemungkinan mereka menilai bahwa, keberhasilan pemerintahan kota Ambon lima tahun lalu tidak terlepas dari kontribusi Latuconsina sebagai wakil Walikota.

Kedua, karena pemilih mengambang beranggapan bahwa ada janji-janji politik yang belum direaliasikan oleh Richard. Ketiga, dibandingkan dengan PANTAS, dalam kondisi itu pasangan Richard-Syarif lebih terbebani.

“Jadi dari aspek freedom of ekspresion (kebebasan bersekpresi) memang PANTAS punya peluanv yang besar untuk mengalokasi kepentingan, ketimbang PAPARISSA BARU. Karena beban moril PAPARISSA BARU jauh lebih besar karena sudah terbentuk dari janji politik yang belum direalisasikan atau diwujud nyatakan,”jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, dalam beberapa momentum selama tahapan berjalan, presentase kehadiran pasangan PAPARISSA BARU kecil dibandingkan dengan PANTAS. Misalnya, penetapan pasangan calon di Komisi Pemilihan Umum (KPU) kota Ambon akhir Oktober lau.

“Saya lihat secara pribadi, sepertinya PAPARISSA BARU menghindari beberapa event yang cukup berpengaruh. Entah itu bagian dari strategi. Tapi itu semakin memberikan kepastian bagi pemilih mengambang untuk pada waktunya akan menentukan pilihan politiknya,”terang dia.

Kemudian, gencarnya sosialiasi dan kampanye, juga memberi dampak signifikan bagi peningkatan elektabilitas atau tingkat keterpilihan pasangan PANTAS. Karena itu, sangat berpeluang meraup suara pemilih mengambang guna memenangkan Pilwakot.

“Saya kira gencarnya konsolidasi PANTAS beberapa bulan terakhir ini, memberikan pengaruh signfikan terjadap kenaikan elektabiklitas mereka. Dan dalam teori politik, hukum probabilitas (peluang) itu pasti ada,”pungkasnya.(TAB)

Most Popular

To Top