48 Tahun Berkonflik, Kini Hidup Berdampingan – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

48 Tahun Berkonflik, Kini Hidup Berdampingan

Ambon, AE.––Kehidupan masyarakat di dua desa bertetangga, Hulaliu dan Desa Aboru, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, sudah puluhan tahun mereka hidup dalam ketidaknyamanan. Dendam membara selalu menghantui. Bahkan aktivitas masyarakat di dua desa selalu dibatasi dengan situasi yang menakutkan, seolah ada petaka yang akan menghampiri mereka.

Kini perasaan takut itu tinggal kenangan. Aman, damai, rukun dan hidup berdampingan saat ini telah mewarnai keseharian mereka. ”Sejak 1968 bukan waktu yang singkat. Perjuangan perdamaian selalu dilakukan dua desa, namun konflik lagi.

Damai lagi dan konflik lagi. Begitulah perputaran waktu yang kita alami dalam siklus 48 Tahun. Kini kami ingin tenang, nyaman dan hidup berdampingan dan bahu membahu membangun negri kami,” kata Raja Negeri Hulaliu Doni F Noya saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan kondisi terakhir di dua desa dalam acara tatap muka Pangdam XVI Pattimura bersama komponen masyarakat dalam rangka sosialisasi tentang ancaman isu global, di Makorem 151 Binaiya, Kamis, (17/11), kemarin.

BACA JUGA:  Pengamat: Kasus BM Cacat Prosedur

Diakuinya konflik berkepanjangan lantaran tidak diikuti dengan sikap tegas pemerintah. Di antaranya proses penegakkan hukum yang lemah, sehingga memberikan peluang di dua desa untuk terus bertikai. Untuk itu dirinya dalam kesempatan itu minta atensi pemerintah setempat, untuk selalu melihat kehidupan masyarakat di kedua negeri, sehingga maju sejajar dengan daerah lain di tanah air.

”Pertahanan negara akan kuat, bila masyarakatnya sejahtera. Artinya mereka tidak berpikir tentang kejahatan lagi, sebaliknya berpikir tentang kemajuan untuk kesejahteraan,” kata Noya, kepada Ambon Ekspres, sesaat setelah berakhirnya pertemuan tersebut.

Bak gayun bersambut, Raja Aboru Jhon Riry juga memiliki pemikiran serupa. Menurutnya, perdamaian yang dialami lantaran niat baik dari masyarakat kedua negeri, Pangdam XVI Pattimura bersama pemerintah setempat secara rutin membuka pikiran-pikiran positif dari dua desa.

Dari inspirasi tersebut kemudian timbul kesadaran untuk berdamai. ”Selain dukungan material dari pemerintah untuk pembangunan insfrastruktur di dua desa, juga kami mendapatkan dukungan moril dari Pangdam. Kami sadar konflik itu tidak ada gunanya, yang ada hanya penderitaan,” kata Riry dalam kesempatan yang sama.

BACA JUGA:  Mukti-Ramly Gugur, Assagaff Menguat

Riry kemudian mencontohkan warganya kala berkonflik. Ketika warga Aboru hendak bepergian ke Tulehu harus rela melewati rintangan. Sebaliknya dengan masyarakat Hulaliu yang tidak bisa lagi membuka lahan kebun mereka lantaran ada perasaan takut.

Kini masyarakat dua desa telah berpikir positif untuk masa depan generasi muda yang lebih baik, sehingga perlu untuk berdamai. ”Saat ini kita bukan lagi berpikir dengan otot, tetapi harus dengan otak agar tidak ketinggalan dengan daerah lain. Makanya harus berdamai. Terima kasih juga buat Pangdam XVI Pattimura dan instansi terkait lainnya yang mencurahkan pemikiran untuk kedamaian dua desa,” kata Riry.

Untuk itu dia berharap ke depan jangan lagi ada konflik. Kalau pun ada harus diselesaikan secara kekeluaragaan, kemudian selesaikan secara adat. Dan jika perlu diselesaikan secara hukum setegas-tegasnya. ”Sekali berdamai tetap damai selamanya,” pinta Riry. (AHA/ASI)

Most Popular

To Top