BARA LAGI di Kampus Merah – Ambon Ekspres
Amboina

BARA LAGI di Kampus Merah

AMBON,AE.––Bara di Universitas Darussalam Ambon tak pernah padam. Kemarin, bakar-bakar masih terjadi di depan kampus merah itu. Mahasiswa menuntut hak mereka tak dikorbankan untuk urusan sengketa antar dua yayasan yang tak pernah tuntas.

Awal November lalu ratusan mahasiswa asal kampus itu, melakukan unjuk rasa di kantor Gubernur Maluku, mempertanyakan nasib mereka lantaran pangkalan data perguruan tinggi (PDDIKTI) Unidar yang diblokir tak kunjung di buka Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti).

Gubernur dan Menristekdikti, diminta bertanggungjawab atas nasib ribuan mahasiswa Universitas tersebut. Usai demo kala itu, Gubernur Maluku, bersama Presiden mahasiswa Unidar Ambon, kampus Wara, bertemu Menristekdikti untuk membuka pangkalan data yang selama ini terblokir.

Kini setelah pangkalan data itu di buka oleh Menristekdikti, ternyata ratusan mahasiswa yang selama ini mengikuti proses perkuliahan di kampus induk Tulehu, tidak terdaftar dalam pangkalan data.

Informasi yang diperoleh koran ini menyebutkan pangkalan data Universitas Darussalam Ambon itu resmi dibuka oleh Menristekdikti, pada 19 November, sehari setelah Gubernur Maluku dan perwakilan mahasiswa Unidar, menemui Menteri Ristekdikti, di kantor Kemenristekdikti, Jakarta.

BACA JUGA:  48 Tahun Berkonflik, Kini Hidup Berdampingan

Usai pertemuan itu Menteri Muhammad Nasir menyerahkan SK pembukaan pangkalan data kepada Gubernur Maluku yang juga Ketua Pembina Yayasan Darussalam Maluku. “Tanggal 19 pak gub bersama perwakilan mahasiswa menemui pak menteri, tanggal 19 mulai dibuka dan tanggal 21 kemarin SK pembukaan pangkalan data itu diserahkan kepada pak gubernur. Pangkalan data itu, beralamatkan Jalan Waehakila Puncak Wara Ambon,”jelas sumber Koran ini, Rabu kemarin.

Menanggapi itu, ratusan mahasiswa universitas Darussalam Ambon yang selama ini mengikuti aktivitas perkuliahan di kampus Tulehu, akhirnya turun jalan. Ratusan mahasiswa kembali melakukan aksi protes.

Pantauan koran ini disekitar kampus A Tulehu, pukul 09.00, kemarin, aksi protes mulai dilakukan dengan melakukan orasi secara bergantian oleh sejumlah mahasiswa. Mahasiswa juga membawa sejumlah tulisan, bertuliskan protes terhadap Menresdikti dan Gubernur Maluku.

Termasuk tulisan berisikan ‘kami menolak penghancuran sistimatis terhadap kampus induk Unidar yang berdiri sejak 1986’. Ada juga tulisan ‘kemudian kami menolak pemberian PD Dikti secara sepihak’ hingga tulisan berisikan sindiran yakni ‘tolak politisasi pendidikan di Maluku’. Aksi berlangsung di dalam kampus A.

BACA JUGA:  Vanath tak Kooperatif

Setelah 15 menit berorasi, bakar ban bekas pun dilakukan. Sejumlah ban bekas dibakar, akibatnya kampus merah itu langsung diselimuti asap hitam tebal dari ban-ban bekas itu.

Puluhan personil polisi dari Polsek Salahutu, diterjunkan untuk mengawal aksi mahasiswa guna menghindari jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

“Kami secara keseluruhan mahasiswa kampus A Tulehu, merasa di anak tirikan oleh pememrintah provinsi, menyangkut dengan dikeluarkan SK pembukaan PD Dikti oleh kampus Wara ini,” teriak Pradina Sukirno, yang mengaku sebagai Presma Unidar saat unjuk rasa berlangsung, Rabu pagi kemarin.

Tak saja dianggap sebagai anak tiri, ratusan mahsiswa ini juga merasa dirugikan lantaran tidak diakomodir dalam PDDikti tersebut. “Pemerintah provinsi lewat Gubernur Maluku harus netral sebab persoalan ini-kan (konflik internal red), masih dalam proses hukum. Jadi kami (Mahasiswa red), menilai langkah yang diambil pemerintah memihak di satu pihak,”kata dia.

Orator lain, menegaskan, seharusnya PDDIKTI di buka dengan mengakomodir seluruh mahasiswa Darussalam Ambon, baik itu kampus A Tulehu, Kampus B Wara Ambon, dan C Masohi.

BACA JUGA:  Richard Cs Ajukan Pembatalan Toisuta

Selama ini mahasiswa yang ada di kampus Tulehu, maupun mahasiswa yang berada dibawah Yayasan Pendidikan Darussalam Maluku, berharap ketika dibukanya PDDIkti mengakomodir seluruh mahasiswa Unidar Ambon.

Pra mahasiswa juga mengancam akan melakukan unjuk rasa lebih besar lagi di Kota Ambon. Bahkan mahasiswa berencana menduduki kantor Gubernur Maluku untuk meminta penjelasan dari gubernur atas konflik yang selama ini masih di ranah hukum.

Aksi ratusan mahasiswa ini berakhir sekira pukul 12.30 WIT, tanpa ada pihak kampus menemui mahasiswa. Mahasiswa sendiri kemudian membubarkan diri sambil membersihkan sampah akibat unjuk rasa mahasiswa.

Perseturuan di kampus Unidar itu terjadi sekira 2014 lalu terkait perebutan kepemilikan. Perseteruan itu berakhir dengan adanya pemblokiran pangkalan data oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi dengan menonaktifkan sebanyak 243 Perguruan Tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Darussalam (Unidar) Ambon.

Namun kini kampus tersebut, telah memiliki dua rektor, yakni DR Ibrahim Ohorella dari Yayasan Pendidikan Darussalam Maluku dan DR Farida Monny dari Yayasan Darussalam Maluku. Keduanya sama-sama melaksanakan tugas dikampus tersebut.(AHA)

Most Popular

To Top