Komarudin Maju, Edwin Digandeng Assagaff? – Ambon Ekspres
Politik

Komarudin Maju, Edwin Digandeng Assagaff?

AMBON,AE.—Kader PDI Perjuangan, ternyata mulai menyikapi pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Maluku 2018. Ini terbukti dengan adanya niat dari mereka untuk bertarung. Meski belum resmi, tapi dua figur yang disebut-sebut kemungkinan maju adalah Komarudin Watubun dan Edwin Adrian Huwae.

Komarudin Watubun telah menyatakan isyarat itu sejak beberapa bulan lalu saat berkunjung ke Maluku dalam rangka tugasnya sebagai anggota DPR. Kata Watubun, banyak masyarakat Maluku yang menginginkannya maju sebagai calon gubernur.

Bahkan, ketua badan kehormatan DPP PDI Perjuangan itu telah membangun komunikasi dengan beberapa petinggi PDI Perjuangan Maluku. Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri juga telah mengetahui niat Komarudin.

Akan tetapi, tidak saja Komarudin yang mengincar restu Megawati untuk mendapatkan rekomendasi. Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, Edwin Adrian Huwae juga ingin maju. Said Assagaff disebut akan menggandeng ketua DPRD Maluku itu.

PDI Perjuangan tidak membatasi kader untuk berkompetisi. Dengan siapapun, sepanjang mengikuti proses internal yang telah digariskan dalam aturan dan mekanisme partai.

“Kan, pak Edwin punya hak politik yakni dipilih dan memilih. Olehnya menurut saya, sah-sah saja keinginan untuk berpasangan dengan SA (Said Assagaff). Namun, PDI Perjuangan punya mekanisme,”kata ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD PDI Perjuangan Maluku, Tobhyhend J.M Sahureka kepada Ambon Ekspres, Selasa (6/12).

Selain Edwin akui Sahureka, dua kader PDIP lainnya Komarudin dan Herman Koedoeboen juga ingin maju. Bahkan, Komarudin dan Herman telah menyampaikan niat mereka, sementara Edwin belum sempat.
“Kalau yang pernah menyampaikan niat untuk maju, yakni pak Herman dan pak Komar. Niat itu disampaikan secara pribadi ke saya,”ungkapnya.

“Lebih lanjut ungkap dia, Komar—sapaan akrab Komarudin Watubun, bahkan menyarankan agar dia dan sekretaris DPD PDI Perjuangan provinsi Maluku, Lucky Wattimuri dan Edwin untuk mulai berproses dengan masyarakat.
”Dan pak Komar sendiri pernah menyarankan untuk saya, pak Lucky dan Edwin untuk berproses kebawah (dengan masyarakat) dalam rangka pilkada gubernur 2018,”bebernya.

Dia memastikan PDI Perjuangan akan serius mengusung calonnya dalam kontestasi politik. Sehingga, betul-betul siap menghadapi Pilgub Maluku 2018 yang tahapannya dimulai Juni 2017.
“Terhadap itu, maka setiap momentum politik, PDI Perjuangan serius dalam menggodok informasi yang sifatnya aspiratif dari masyarakat,”jelasnya.

Urus Partai Dulu
Tidak semua kader PDI Perjuangan, menyambut baik niat Edwin. Dia disarankan agar mengurus partai dulu. Sebab, partai belum dikelola dengan baik.

“Ya, urus partai saja tidak beres. Kedua, urus dewan saja belum maksimal. Dia (Edwin) urus partai baik-baik dulu. Urus partai saja tidak beres-beres, mau siap ditugaskan??,” kata salah satu fungsioner PDIP yang tidak mau namanya ditulis.

Lagi pula, lanjut sumber, Komar telah bertemu dengan Edwin untuk membicarakan Pilgub Maluku. Komar sendiri juga sudah menyampaikan niatnya kepada Edwin.

“Sudah. Dia malah datang dengan Ramly Umasugy ketemu BK (Bang Komar) di Jakarta,”akui dia, namun tidak menjelaskan waktu dan hasil pertemuan tersebut.

Kendati Edwin tetap maju, terutama sebagai bakal calon wakil gubernur Maluku, menurut dia, cukup berat untuk direkomendasikan oleh PDI Perjuangan. “Cuman berat, sepanjang Komar masih mau. Karena ibu ketum sudah tahu,”ungkapnya.

“Dia menambahkan, sebenarnya PDIP mengusung Komar dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur 2013. Akan tetapi Komar belum bersedia, sehingga rekomendasi diberikan kepada Herman Koedoeboen dan Daud Sangadji sebagai pasangan.

“Lagian, sejarah periode kemarin (Pilgub Maluku 2013), itu punya pa Komar. Tapi karena beliau merasa belum siap, maka dikasih ke Herman. Faktanya, Herman waktu itu daftar jadi wagub,”pungkasnya.
Sulit Berkoalisi

Sementara itu, menurut pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti) Johan Tehuayo, Golkar dan PDIP sulit berkoalisi pada Pilgub. Ini karena kekuatan kedua partai itu berimbang, sehingga memiliki kecenderungan untuk tetap mempertahankan kekuasaan masing-masing.

Selain nyaris seimbang dalam hal perolehan suara pemilihan umum dan kursi DPRD provinsi, Golkar dan PDIP juga berbeda ideologi dan platform. Kedua partai bisa berkoalisi dalam Pilkada kabupaten, seperti Maluku Tengah, Buru dan daerah lainnya dimana kekuatan tidak seimbang.

”Sehingga PDIP dan Golkar sulit, bahkan tidak bisa berkoalisi di pilgub. Pilgub berbeda dengan pilkada kabupaten/kota yang mana Golkar dan PDIP bisa berkoalisi, seperti Malteng, Buru dan lainnya,”kata Tehuayo.
Apalagi saat ini, kader Golkar yakni Assagaff akan menjadi incumbent di Pilgub. Dan kecenderungan Golkar selama ini dalam kontestasi politik lokal, selalu mengutamakan kader internal sebagai calon wakil.

Sebaliknya, PDIP juga memiliki kekuatan dominan di DPRD provinsi Maluku dan beberapa kabupaten/kota lainnya. Dengan demikian, ungkap Tehuayo, PDIP juga akan mengusung calonnya sendiri, harus berkoalisi Golkar.
Olehnya itu, lanjut Tehuayo, kemungkinan akan hanya bisa berkoalisi dengan PKS, PAN, PKB atau partai lainnya guna menambahkan kekuatan.

“Tapi dengan PDIP, itu sangat sulit. Karena PDIP juga merupakan partai yang memiliki maksimal dan tentu mempersiapkan figurnya menjadi gubernur dan wakil gubernur,”papar kandidat doktor di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu.

Sehingga menurut dia, wacana yang sedang berkembang terkait duet Assagaff dan Edwin, hanya bagian dari strategi elit bersangkutan untuk membentuk opini masyarakat seraya bertahap kenaikkan popularitas. “Itu hanya pembentukkan opini untuk menaikkan popularitas calon atau Golkar sendiri. Dan itu hal yang wajar yang dilakukan oleh setiap elit, ”pungkasnya.

Sejumlah kader Golkar yang dimintai tanggapan mengenai informasi rencana konfigurasi pasangan calon, belum menjawab. Sebelumnya ditulis Ambon Ekspres, Senin (5/12), pengurus DPD Partai Golkar Maluku, Haerudin Tuarita mengatakan, terdapat sejumlah nama bisa berpasangan dengan Assagaff.

Mereka adalah mantan ketua DPD Golkar yang saat ini menjabat wakil gubernur Maluku, Zeth Sahuburua, Ketua DPD PDIP Maluku Edwin Huwae, Michael Wattimena dari Demokrat dan kader Golkar yang kini menjabat Bupati Maluku Tenggara Andre Rentanubun.

Figur politisi, tentu ada pada Edwin dan Michael. Sedangkan birokrasi, Andre Rentanubun. Tetapi secara subjektif, ia lebih memilih duet Assagaff-Sahuburua dilanjutkan. Kepemimpinan Assagaff dan Sahuburua bisa saja dapat dilanjutkan, karena membawa perubahan bagi Maluku.

“Kalau dari sisi subjektivitas, saya lebih suka beliau berdua berpasangan lagi. Karena kinerja mereka bagus. Ada kedamaian yang memang selama ini kita butuhkan. Mereka saling mendukung. Tapi kita tidak tahu, dinamika ke depannya seperti bagaimana,” pungkas sekretaris Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) provinsi Maluku itu.(TAB)

Most Popular

To Top