Gubernur: Maluku Rawan Kekerasan Seksual – Ambon Ekspres
Pilihan Redaktur

Gubernur: Maluku Rawan Kekerasan Seksual

Ambon,AE.–– Maraknya kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak dibawa umur, belakangan ini semakin memprihatinkan.

Berdasarkan data yang diperoleh koran ini, sejak enam bulan terakhir, kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, sekitar puluhan kasus. Pemerintah Provinsi, diharapkan jangan mengabaikan persoalan tersebut, karena akan mengancam generasi.

Gubernur Maluku Said Assagaff mengatakan, ruang public di Maluku, masih rawan terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

“Kita harus mengakui, jika daerah ini masih sangat rawan terjadinya tindak kekerasan dan seksual terhadap perempuan dan anak. Baik yang ditangani oleh aparat penegak hukum maupun yang tidak tertangani. Ini menjadi perhatian kita bersama,”kata gubernur dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2016, di kawasan Lapangan Merdeka, Sabtu akhir pekan kemarin,

Menurutnya, kampanye 16 hari yang dilakukan oleh para aktivis perempuan di Maluku, cukup membantu pemerintah dalam mensosialisasikan stop kekerasan seksual, kepada masyarakat sehingga bisa meminimalisir terjadinya tindakan bejat itu di bumi seribu pulau.

“Kampanye-kampanye ataupun kegiatan dalam rangka pencegahan ini (kekerasan dan pelecehan seksual red), memang dianggap penting sehingga mampu membantu pemerintah untuk mengatasi tindak kekerasan itu,”jelasnya.
Assagaff mengaku, kekerasan dan pelecehan seksual itu, diibaratkan seperti fenomena gunung es, untuk itu kampanye 16 hari yang dilakukan oleh aktivis perempuan terutama Kaukus Perempuan Parlemen dan LAPPAN dapat membantu menekan angka kekerasan pada perempuan kedepannya.

“Ruang-ruang public kita juga masih rawan akan terjadi kekerasan seksual. Dan menyikapi fenomena gunung es, maka kita berharap dengan kampanye 16 hari ini dapat membantu turunnya angka kekerasan pada perempuan kedepannya,” terang mantan Sekda Maluku ini.

Lewat momen itu, lanjut orang nomor satu di Maluku ini, dapat membuktikan bila persoalan perempuan menjadi perhatian serius dari seluruh stakeholder di Maluku. Dan sebagai mitra dengan pemerintah, lembaga-lembaga pemerhati perempuan ini harus meningkatkan kemitraannya dengan pemerintah provinsi, untuk bersama-sama aksi-aksi bejat itu.

“Jujur harus saya akui sangat membantu bahwa kehadiran lembaga-lembaga ini, sangat pemerintah Provinsi Maluku, oleh karenanya, saya berharap kemitraan ini bisa ditingkatkan,” tegasnya.

Lebih lanjut Assagaff menambahkan, jika 25 November 2016, seluruh lembaga terkait dan pemerintah, serta para terduga korban kekerasan, berada dalam suasana kebatinan yang dalam untuk melakukan perenungan, refleksi tentang persoalan-persoalan yang menimpa perempuan di Maluku.

Untuk itu, aksi-aksi kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak dibawa umur itu, kerapkali terjadi di Maluku, karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor tersebut, salah satunya karena kemiskinan, serta masih kuatnya budaya yang menempatkan pria pada posisi yang teratas.

Sementara perempuan masih terus berada di pada interior, sehingga banyak terjadi deskriminasi perempuan, yang akhirnya selalu menjadi korban.

“Adanya kekerasan kepada perempuan di Maluku itu, yang pertama, masih lemahnya sosialisasi. Kedua adalah masalah kesempatan ekonomi, atau masih ada keluarga yang miskin, ini juga membuat keluarga terus tidak harmonis dan terjadi tindakan KDRT, perbudakan seksual. Karena itu saya minta kedepan sosialisasi untuk terus digalakan. Saya akan anggarkan untuk kegiatan seperti ini. Pemprov Maluku, kedepan akan terus berupaya menurunkan angka kemiskinan,” terang Bib, sapaan gubernur.

Kendati demikian, politisi Golkar Maluku ini meminta, kepada seluruh kaum wanita yang ada di Maluku jangan malu untuk memberitahukan tindak kekerasan yang mereka alaminm, kepada orang lain. “Kalau tidak beritahu, kan ruginya diri sendiri. Mari kita lawan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual itu,”tantang gubernur.

Sementara itu, Kepala Kaukus Perempuan Parlemen Maluku, Ayu Hasanusi juga mengajak seluruh kaum wanita di Maluku, agar bersama-sama dengan aktivis perempuan, untuk memberantas kekerasan yang terjadi kepada perempuan.

“Saya mengajak kita perempuan untuk jangan takut dan jangan malu melaporkan kepada orang tua, teman atau pun kepada sahabat apabila terjadi kekerasan kepada saudara-saudara kita perempuan. Dan pada kesempatan ini saya ajak kita semua untuk perangi kekerasan itu agar pelaku itu bisa kapok,” katanya.

Tempat yang sama, Lembaga Advokasi Perlidungan Perempuan dan Anak (LAPPAN) Maluku, dalam rilisnya menyebutkan, dari periode Januari hingga November kemarin, pihak LAPPAN mendokumentasikan 137 kasus kekerasan terhadap perempuan. Yang mana mayoritas korban berusia antara 13 hingga 18 tahun dengan presentasi 52%.

Sedangkan kasus KDRT fisik adalah yang tertinggi 58 kasus, disusul pemerkosaan 43 kasus dan pencabulan 17 kasus.(AHA)

Most Popular

To Top