Memotret Komparasi Program Debat Paparisa Baru Versus Pantas – Ambon Ekspres
Ragam

Memotret Komparasi Program Debat Paparisa Baru Versus Pantas

Debat antara Paparisa Baru vs Pantas di gedung Baileo Siwalima Sabtu (10/12) lalu patut diapresiasi secara kritis. Dengan debat, pasangan calon dapat memaparkan visi misi dan program kepada warga kota.  Debat memungkingkan warga kota  untuk menilai dan memutuskan pilihan politiknya sesuai konsep pasangan calon dalam membangun Ambon.

Debat tersebut adalah ronde pertama dari rencananya dua ronde debat yang akan diselenggarakan selama masa kampanye. Dengan mengangkat tema kesejahteraan rakyat, Paparisa Baru dengan pasangan Richard Louhenapessy – Syarief Hadler dan Paulus Kastanya – Sam Latuconsina memaparkan programnya yang ikut juga disiarkan secara langsung TVRI Stasiun Ambon.

Dalam enam sesi, debat diawali dengan pemaparan visi misi. Richard menyatakan Paparisa Baru mengusung visi Ambon kota yang harmonis, sejahtera dan religius, dengan empat visi, dan lima strategi pendekatan.

Secara umum konsep Paparisa Baru bertumpuh pada peningkatan aspek budaya pela gandong, toleransi beragama, peningkatan kualitas layanan dasar, serta pendidikan karakter yang religius. Strateginya menjadikan Ambon menjadi kota harmoni, kota berkualitas, berdaya guna, kota berpartisipasi dan kota yang sejahtera.

Sedangkan Pantas mengusung visi Ambon kota berkeadaban, berdaya saing, sejahtera, berbasis potensi lokal yang berkeadilan, didukung partisipasi masyarakat secara berkelanjutan. Misi mereka adalah kualitas pelayanan dasar, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, kinerja pemerintahan profesional, tertib tata ruang, serta tata kehidupan sosial.“?

Pada sesi pemutaran film pendek pasangan calon diminta untuk menjawab kondisi kota pada dinamika kepadatan kependudukan, keadaan terminal dan merambahnya pemukiman di daerah-daerah perbukitan dan pesisir pantai. Imbasnya adalah kemungkinan tingginya tingkat kemiskinan di daerah-daerah pusat pertumbuhan. “?Richard menjawab kondisi ini dengan keadaan tata ruang kota berdasarkan kondisi jadian, dan bagian kota yang tumbuh karena perencanaan. Dengan adanya Jembatan Merah Putih, ujar Richard, daerah Teluk Ambon menjadi daerah pengembangan baru. Sebab konsentrasi pembanguna akan ditarik keluar dari pusat kota.

“Dikatakan Richard masalah kemiskinan berkaitan erat dengan kependudukan. Wilayah-wilayah di kota Ambon memiliki karakteristik masalah yang hampir sama. Karakter kota ini berpusat pada pusat-pusat kota dengan aktifitas jasa dan perdagangan, serta daerah-daerah pinggiran pada sektor pertanian.

Daerah pinggiran akan dikembangkan pada pertanian dan holtikultura, sedangkan pusat kota pada jasa dan perdagangan.“? Sedangkan Paulus menjawab kondisi ini secara elaboratif, dengan pendekatan Satuan Wilayah Pengembangan (SWP), melalui lima daerah pengembangan kecamatan dan satu daerah kawasan khusus bandara.

Dua diantaranya disebutkan kecamatan Sirimau dikembangkan sebagai kawasan perdagangan, jasa, keuangan, perhubungan darat dan laut, industri perikanan dan aneka industri, pariwisata, kesehatan dan pendidikan. Kecamatan Nusaniwe di Desa Latuhalat dan Desa Amahusu dikembangkan pariwisata, industri rumah tangga, perikanan, perkebunan, dan peternakan. “

?Empat SWP lainnya, yakni Kecamatan Baguala di Desa Passo dikembangkan pendidikan kejuruan, pariwisata dan pemukiman. Kecamatan Teluk Ambon di Desa Wayame dikembangkan pusat pendidikan tinggi, holtikultura, perikanan dan pariwisata. Kecamatan Leitumur Selatan di Desa Leahari- Rutong dan Desa Kilang-Naku antaranya dikembangkan pertanian holtikultura, perkebunan, peternakan dan pariwisata.

Serta Kawasan khusus Bandara di Desa Tawiri dan Laha dikembangkan kawasan pengamanan kesealamatan penerbangan dan industri jasa maritim. “?

Secara jangka panjang SWP akan menjawab kesempatan kerja terbuka dan penggangguran menurun, kemacetan di pusat kota teratasi, angka kemiskinan menurun, 15 kawasan kumuh terkelola secara manusia, dan terciptanya kreasi baru ekonomi kreatif. “?Dalam program pelayanan dasar Pantas lebih elaboratif dengan pelayanan prima Puskemas 24 jam, layanan kesehatan reproduksi gratis, peningkatan kapasitas SDM bagi Sekolah Minggu, TPQ, dan Sekami.

Selain itu Pantas akan memberikan beasiswa kepada 1000 siswa dan mahasiswa. Richard menjawab isu pelayanan dasar sebagai hak konstitusi warga, sehingga terkesan tidak indikatif dan elaboratif.“?Pada isu pengentasan kemiskinan ada disparitas antara menurunya angka kemiskinan dengan masih tingginya pengangguran. Selama lima tahun periode 2011 – 2016 Richard dan Sam mampu menekan pengangguran dari 7,6 persen menjadi 4,4 persen.

Dalam menjawab kesenjangan dari sisi kemiskinan dan pengangguran, Pantas menawarkan pelatihan bagi 5.000 pencari kerja dan peningkatan kapasitas usaha bagi 500 industri rumah tangga.“?Sedangkan pada program kemiskina Paparisa Baru menyatakan alokasi dana desa akan menyerap tenaga kerja, sehingga pemerataan kesejahteraan akan terjadi. “?

Pantas dan Paparisa Baru sama-sama mengatakan perlunya investasi dalam penyerapan tenaga kerja. Namun Paparisa Baru tidak menyebutkan strateginya dalam peningkatan iklim investasi. Sedangkan Paulus menegaskan peningkatan iklim investasi perlu didorong melalui memperpendek pengurusan perizinan dari selama ini 8 hari menjadi 1 s/d 4 hari.

“Komparasi Program“?Dari materi program pada debat yang disampaikan Paparisa Baru dan Pantas, setidaknya terdapat beberapa aspek komparasi program yang dapat dinilai perbandingannnya, dari sisi peruntukan ruang, strategi pelayanan dasar dan upaya peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan.“Pertama, dari aspek tata ruang dan pengembangan kawasan pertumbuhan baru, Paparisa Baru hanya melihat pada daerah pusat kota dan daerah pinggiran.

Karena keterbatasan memetakan secara elaboratif, sehingga program Paparisa Baru dalam konteks ini miskin pendekatan, dengan hanya melihat urgensi Jembatan Merah Putih, sebagai mobilitas pergerakan pertumbuhan di dari daerah kota menuju daerah Teluk Ambon.

“Sebaliknya Pantas memetakan dengan jelas dan indikatif pusat-pusat pertumbuhan baru secara utuh melalui konsep pengembangan wilayah berdasarkan 6 SWP, yang terdiri dari 5 daerah pengembangan kecamatan dan satu daerah kawasan khusus bandara. Terlihat jelas arah kebijakan tata ruang yang berbeda, karena Paparisa Baru hanya melihat daerah pusat kota dan daerah pinggiran.

Sedangkan Pantas mengintegrasikan pusat pertumbuhan baru pada segala bidang dalam SWP dengan pendekatan kecamatan sebagai sentra pemusatan aktifitas ekonomi pembangunan dan sosial budaya.“Kedua, dari sisi pelayanan dasar, terutama pada bidang pendidikan dan kesehatan Paparisa Baru cenderung menjawabnya secara normatif dan tidak indikatif. Richard misalnya mengatakan masalah pelayanan dasar merupakan kewajiban negara, karena merupakan hak warga yang telah diatur dalam konstitusi.

“Sebaliknya Pantas dalam programnya menawarkan pelayanan prima Puskesmas 24 jam di semua kecamatan, pelayanan kesehatan reproduksi gratis kepada remaja dan perempuan, layanan visu et repertum gratis bagi korban kekerasan ibu dan anak, pemberian 1000 beasiswa untuk siswa dan mahasiswa. Selain itu Pantas juga menjanjikan Pelayanan prima kesehatan di Puskesmas 24 jam tiap kecamatan .“ Serta ketiga, dalam strategi pengentasan kemiskinan dan perluasan tenaga kerja Paparisa Baru menyatakan dana desa dan peningkatan investasi secara umum.

Tidak disebutkan bagaimana strateginya secara mikro dalam konteks program. Richard misalnya hanya menyebut manfaat dana desa dalam menyerap tenaga kerja. Padahal dana desa merupakan program pemerintah pusat. Artinya baik Paparisa Baru maupun Pantas akan memanfaatkan program ini, karena berasal dari APBN.“Sedangkan Pantas selain secara makro menggunakan intervensi bidang pertumbuhan sektoral dan pemerataan ekonomi kewilayan melalui 6 SWP, secara mikro juga menjanjikan pelatihan kepada 5.000 pencari kerja, dan bantuan pembinaan dan permodalan kepada 500 industri rumah tangga.

Selain itu Pantas menawarkan iklim investasi yang ramah perizinan dengan memperpendek waktu perizinan dari 1-4 hari dari sebelumnya 8 hari. Strateginya dengan merubah pelayanan satu atap menjadi pelayanan satu pintu.“Perubahan nomeklatur pelayanan satu atap menjadi satu pintu, karena selama ini birokrasi perizinan di kota Ambon masih bersifat satu atap karena kekurangan kelengkapan berkas perizinan diurus di instansi teknis masing-masing.

Dengan pelayanan satu pintu birokrasinya diintegrasikan kedalam satu badan yang disebut Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Di PTSP tersebut kekurangan berkas perizinan diselesaikan di loket-loket pengurusan yang telah tersedia. “?Perbedaan program dari kedua pasangan ini sebenarnya tidak hanya bersifat teknis dan strategik, namun juga berakar dari perbedaan konsep dari keduanya. Pantas melihat interaksi ruang dan manusia secara berkelanjutan, sehingga memadukan kemanfatan ruang, partisipasi, karya dan keadaban manusia untuk menjawab isu kesejahteraan.

Sebaliknya Paparisa Baru relasi sosial apa adanya dalam menjawab isu kesejahteraan. “Debat secara esensial memotret konsep, karenanya akan menumbuhkan budaya pilihan politik yang berbasis program, dan bukan janji. Debat juga tidak dimaksudkan mengagungkan impresi personal dengan banyak retorika, namun meretas komitmen pasangan calon untuk membangun kota ini. Program seharusnya indikatif dan terukur, sehingga dapat dinilai dan dikawal pencapaiannya oleh warga kota ini. (**)

Most Popular

To Top