Natal “Rasa” Persaudaraan dan Kemanusiaan di Ambon – Ambon Ekspres
Amboina

Natal “Rasa” Persaudaraan dan Kemanusiaan di Ambon

Ambon, AE– Puluhan pemuda berdiri di di depan pintu Gereja Maranatha di Jl. Pattimura Ambon saat ibadah malam berlangsung, Sabtu (24/12) malam. Memakai kopiah putih dan songkok, mereka serius berjaga.

Sebagian lainnya, berdiri di sisi lain dari gereja. Sejak pukul 18.00 wit, mereka sudah berada di sana. Selain berjaga-jaga, ada pula diantara mereka yang menuntun jemaat untuk menyeberang jalan.

Sementara di dalam dan di halaman gereja Protestan terbesar di Maluku itu, ribuan umat Kristen larut dalam ibadah. Ibadah malam Natal itu, berlangsung dengan tenang dan aman.

Ketika ibadah selesai sekira pukul 21.00, puluhan pemuda tersebut berkumpul di pintu masuk utama gereja. Mereka berdiri berjejer kiri-kanan membentuk barisan. Lalu, saling berjabat tangan dengan jemaat. “Terima kasih, ya,”ucap seorang jemaat.

Pantauan penulis, tak hanya berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih, jemaat dan para pemuda yang berasal dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) Maluku, Gerakan Pemuda Ansor Maluku dan remaja Masjid Waihaong itu, juga berfoto bersama. Sambil mengangkat dua jari tangan sebagai bentuk seruan perdamaian.

Pemandangan yang sama juga terlihat di beberapa geraja lainnya yakni Katedral, Gereja Silo dan Gereja Rehoboth. Bahkan, Uskup Diosis Amboina Mgr. P.C Mandagi, MSC—pemimpin Gereja Katolik Amboina, pun ikut berfoto bersama.

Malam itu, GP Ansor Maluku menurunkan sebanyak 34 personil, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid (BKPRMI) Maluku 50 orang dan 30 pengurus GPI Maluku. Sejumlah pemuda dari Waringin, Talake, Perigi Lima dan Waihaong juga ambil bagian.

Ini bukan hal baru baru di Ambon dan beberapa kabupaten/kota lainnya di Maluku. Karena, setiap tahun, pemuda Muslim dari berbagai organisasi selalu berpartisipasi menjaga jalannya ibadah Natal. Begitu sebaliknya, jika perayaan Idul Fitri, pemuda Kristen berjaga di malam takbiran.

Hal itu dilakukan sebagai wujud toleransi dan persaudaraan yang selama ini tetap dijaga oleh masyarakat Maluku. Juga untuk menghapus stigma negatif Maluku yang pernah didera konflik, sekaligus membangun citra daerah itu sebagai labotorium kerukunan dan perdamaian.

BACA JUGA:  DPRD Sasar K2 Bodong

“Harapan kita, Natal ini mambawa damai bagi kita semua, bukan saja umat Kristen tapi seluruh umat,”ujar Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP)provinsi Maluku, Daim Baco Rahawarin.

Uskup Mandagi merasa bangga dan berterima kasih atas partisipasi pemuda Muslim . “Terima kasih kepada umat Muslim dan pemuda Muslim yang menjaga keamanan dan jalannya ibadah. Ini luar biasa. Saya bangga sekali,”kata Uskup Mandagi seusai ibadah.

Menurut Mandagi, semua agama mengajarkan kebaikan. Dan di Indonesia, saling menghargai dan menghormati kehidupan beragama dan suku sangat kental. Seperti yang terjadi pada malam itu.

“Dan kebaikan itu seperti ditunjukkan oleh umat Muslim malam ini. Luar biasa, saya bangga,”kata Mandagi lagi.
Hanya saja, Mandagi berpesan agar semua warga kota Ambon bersikap hati-hati dengan kelompok-kelompok tertentu yang mencoba menghancurkan persaudaraan. Orang-orang seperti itu, sebut Uskup, berpakaian agama tetapi anti terhadap ajaran agama yang benar.

“Cuman ya kelompok-kelompok yang menghancurkan persaudaraan kita. Karena mereka berpakaian agama, tapi sebenarnya mereka anti agama. Karena itu, kita mesti hati-hati juga,”seru dia.
Pancasila di Panggung Christmas Carols

Partisipasi warga Muslim tak sebatas pada pengawalan ibadah malam Natal. Tetapi, juga dalam acara Christmas Carols di Ambon yang selenggarakan oleh para seniman dan pendeta selama dua hari (22 dan 23 Desember).
Christmas Carol sudah berjalan selama lima tahun. Dalam tiga tahun terakhir, kegiatan Christmas Carols tidak saja diisi oleh komunitas Kristen, tapi juga komunitas Hindu, Budha dan Muslim secara sukarela.

Seperti terlihat pada Sabtu (23/12) malam itu. Ada grup musik cilik dari komunitas Budha dan Sanggar Kayla dari komunitas Muslim yang masing-masing membawakan satu lagu di awal dan pertengahan acara.
Ratusan penonton yang hadir pada malam itu, bersorak melihat penampilan anak-anak itu diatas panggung yang digelar di halaman gereja Baileo Oikemene.

BACA JUGA:  Patroli Polisi Ganti Penarikan

Mendekati akhir acara, penyanyi Kristen Sierra Latuperissa dan penyanyi Muslim Nurul Tosiuta berduet. Keduanya melantunkan lagu “Pancasila Rumah Kita” ciptaan almarhum Franky Sahilatua dan “Damai Bersamamu” yang diciptakan alarhum Chrisye, secara kompak. Ungkapan penyerahan iman dengan menyebut nama Tuhan mereka masing-masing, keluar dari mulut mereka.

Lewat penampilannya itu, Nurul berpesan kepada dunia, bahwa masyarakat Ambon dan Maluku pada umumnya hidup damai. Tidak ada sekat berarti atas dasar agama dan suku serta mengutamakan persatuan, seperti makna dari lirik lagu Pancasila Rumah Kita.

“Alasannya, karena saya ingin tunjukkan kepada dunia, bahwa kita agama Islam dan Kristen di kota Ambon itu damai. Dan indah jika kita saling berbagi,”tegas Nurul yang pada tahun lalu juga berpartisipasi.

Ketua Panitia yang juga pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) Jacky Manuputty mengatakan, kegiatan Christmas Carols 2016 diisi oleh sekitar seribu orang. Itu sebagai bentuk ungkapan syukur akhir tahun.
Manuputty berharap, keterlibatan warga dari semua agama dapat dijadikan sebagai contoh yang baik dalam menjaga toleransi dan persaudaraan. Apalagi, Maluku sedang dikembangkan sebagai laboratorium perdamaian di Indonesia.

“Itu yang menjadi harapan, kita menjadi contoh perdamaian dan toleransi umat beragama. Karena satu hal yang harus kita tegaskan di sini, yakni Maluku dan Ambon sedang dikembamngkan sebagai laboratorium perdamaian berbasis prinsip hidup orang basudara, ”kata Manuputty.

Tema Kemanusiaan
Panitia Christmas Carols mengusung tema We Care, We Share (Kita (Peduli, Kita Berbagi). Ini tema yang universal dan bernilai kemanusian, sebagai respons atas kejahatan kemanusian diberbagai belahan dunia selama beberapa tahun terakhir.

“Kita mengangkat tema yang sangat universal, tema kemanusiaan. Dan pada tahun ini, kita ingin berdoa untuk Allepo, berbagi untuk Allepo, karena di Allepo itu bukan saja ada orang Muslim, tapi Kristen juga,”kata Manuputty.
Belum lama ini, Manuputty mengaku menerima email dari temannya dari luar negeri yang juga sesama pegiat perdamaian. Temannya meminta dukungan dan do’a dari Maluku untuk warga Aleppo, Suriah yang terkena dampak peperangan.

BACA JUGA:  Kadishub Maluku akan Diperiksa Jaksa

“Yang mereka minta cuman doa dari kita. Terutama doa, untuk anak-anak di Allepo yang tidak bisa menikmati suka cita dan keceriahan seperti yang kita rasakan saat ini, karena peperangan di sana,”ungkapnya.
Video dan foto kegiatan Christmas Carol dan pengawalan pemuda Muslim di gereja-gereja mendapat apresiasi di media sosial Facebook dan Twitter. Terutama dari luar Maluku.

Seperti foto dua orang pemuda Muslim dengan pakian serba putih dan seroang siswa pramuka berjilbab yang berjaga di depan gereja Silo yang dibagi oleh Ferry Maitimu @FerryMaitimu. Foto dengan caption; Toleransi dari Ambon, Saudara-saudara Muslim ikut mengawal Ibadah malam Natal di Gereja Silo, Kota Ambon yang diambil oleh David Rampisela, itu direetwtet oleh 767 followersnya (pengikut).

“Indahnya keragaman, tapi tetap saling menghargai dan menghormati,”ciut akun widhi wedhaswara @widhiholic.
Rawat Toleransi

Sementara itu, dalam khotbahnya, Pendeta J.W. Parinussa meminta umat Kristiani menunjukkan sikap dan sifat toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga sumpah persaudaraan Pela Gandong dan Ale Rasa Beta Rasa.
Parinussa juga mengimbau umat berdoa untuk keutuhan bangsa Indonesia. Selain itu, berkomunikasi secara santun di media sosial dan menebarkan perdamaian.

“Berdoalah bagi keutuhan bangsa, karena kemerdekaan Indonesia adalah berkat Tuhan untuk semua warga Bangsa Indonesia. Janganlah memprovokasi. Cintailah Maluku dan Maluku Utara, cintai Indonesia. Gunakan media komunikasi secaera santun dan bermartabat, yaitu berkoomunikasi dengan membawa pesan perdamaian,”pesan Parinussa.(**)

Click to comment

Most Popular

To Top