Mengawal Inflasi, Memperbaiki Struktur Ekonomi – Ambon Ekspres
Ragam

Mengawal Inflasi, Memperbaiki Struktur Ekonomi

AMBON, AE–Inflasi merupakan salah satu indikator makroekonomi yang penting untuk dipantau. Inflasi yang terlampau tinggi bagaikan pencuri yang tak terlihat, karena akan menggerus daya beli masyarakat, meningkatkan kesenjangan dan menurunkan nilai mata uang. Inflasi yang tinggi juga berdampak pada sulitnya rumah tangga untuk menabung serta melakukan perencanaan jangka panjang. Pada dunia bisnis, inflasi yang tinggi akan meningkatkan ketidakpastian dan menghambat investasi.

Kita patut bersyukur, bahwa perkembangan inflasi di Provinsi Maluku selama empat tahun terakhir menunjukkan tren yang menggembirakan. Secara bertahap, inflasi Maluku terus menurun, yaitu dari 8,83% (yoy) pada 2013, menjadi 7,19% (yoy) pada 2014, 6,15% (yoy) pada 2015, dan 3,40% (yoy) pada November 2016.
Perkembangan Inflasi Maluku 4 tahun terakhir
Sumber: BPS, diolah

Semakin terjaganya laju inflasi Maluku pada tingkat yang rendah dan stabil ini tidak lepas dari berbagai perbaikan struktural pada ekonomi Maluku, yang terus dilakukan melalui sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. Dari sisi pasokan bahan pangan, Maluku secara bertahap terus mengurangi ketergantungan dari daerah lain.

Upaya yang telah dilakukan antara lain perluasan areal tanam padi, bawang merah dan sayur-sayuran, serta penyaluran berbagai bantuan sarana prasarana produksi pertanian dan perikanan. Dari sisi distribusi, peran BULOG serta Dinas Perindustrian & Perdagangan semakin kuat untuk menjaga kecukupan stok dan keterjangkauan harga.

Dari sisi komunikasi, pemerintah dan Bank Indonesia mendorong transparansi pembentukan harga melalui implementasi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) online yang bisa diakses masyarakat, kapanpun dan dimanapun.

Dengan struktur ekonomi yang lebih kuat, diperkirakan inflasi Maluku hingga akhir Desember 2016 masih terkendali. Risiko inflasi terutama ada pada komoditas hortikultura, yang pasokannya mengalami gangguan akibat menguatnya fenomena cuaca La Nina. Hasil pantauan Bank Indonesia di pasar utama Kota Ambon dan Tual hingga minggu ketiga Desember juga menunjukkan tren kenaikan harga pada cabai dan bawang.

Di sisi lain, kenaikan permintaan masyarakat pada momen hari raya natal dan tahun baru juga berpotensi mendorong inflasi yang lebih tinggi. Namun demikian, tantangan ini masih dapat dikelola oleh TPID Provinsi maupun Kota/ Kabupaten melalui penyelenggaraan pasar murah, operasi pasar dan berbagai program komunikasi pada konsumen. Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi diperkirakan masih berada di bawah rentang target TPID Maluku, yaitu 4,5 + 1% (yoy).Pada tahun 2017, inflasi Maluku akan dipengaruhi oleh berbagai faktor:

*Pertama, permintaan konsumen akan menguat.Berbeda dengan 2016, kinerja bisnis dan penyerapan tenaga kerja diperkirakan membaik pada tahun mendatang, yang akan berkontribusi pada menguatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Menguatnya pertumbuhan konsumsi akan berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi, terutama dari sisi inflasi inti.

*Kedua, inflasi akan dipengaruhi oleh kondisi iklim.Inflasi pada tahun 2016 banyak dipengaruhi perubahan iklim, yaitu dari indeks El Nino sebesar 2,18 (El Nino kuat) pada Januari menjadi -0,61 (La Nina lemah) pada Desember 2016. Kondisi iklim yang ekstrim tersebut tentu berdampak pada pasokan bahan pangan, seperti kekeringan lahan padi di awal tahun serta rusaknya panen hortikultura di akhir tahun. Pada 2017, BMKG memprediksi bahwa kondisi iklim akan kembali normal pada Februari hingga Mei 2017. Hal ini berarti gangguan pada pasokan bahan pangan akan lebih terbatas, sehingga inflasi volatile food juga diperkirakan cukup rendah dan stabil.

*Ketiga, inflasi akan dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Pada tahun 2017, subsidi listrik pada pelanggan 900 VA akan dihapus bertahap hingga Mei 2017, yang akan berdampak pada kenaikan tarif sebesar 131% jika dibandingkan tarif tahun ini. Selain itu, kenaikan cukai rokok yang rata-rata sebesar 10,54% pada 2017 juga akan turut memengaruhi inflasi. Pada sisi Bahan Bakar Minyak (BBM), harga minyak dunia yang mulai mengalami rebound tentu juga akan berpengaruh pada inflasi, seperti yang terjadi pada kenaikan tarif Pertamax sebesar Rp500 pada Desember ini.

* Pada saat-saat tertentu, stok ikan segar di pasar berkurang. Masyarakat Maluku sangat tergantung pada ikan segar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Saat cuaca kondusif untuk melaut, pasokan ikan segar akan melimpah dan harganya akan turun (deflasi). Di sisi lain, ketika cuaca buruk, pasokan ikan dari nelayan akan berkurang, sehingga harganya akan naik (inflasi).

Oleh karena itu, kebutuhan konsumsi ke depan perlu dipenuhi dengan pasokan ikan beku. Dengan memperkuat pasokan ikan beku, kebutuhan ikan pada saat cuaca buruk tetap dapat dicukupi. Cold storage perlu dioptimalkan penggunaannya untuk memasok kebutuhan lokal, bahkan ditambah jika memang kapasitas saat ini belum mencukupi.

Pola konsumsi masyarakat juga perlu diubah, terutama keraguan masyarakat terkait konsumsi ikan beku. Kandungan gizi dan keamanan konsumsi harus gencar disosialisasikan, sehingga image ikan beku berubah menjadi sesuatu yang positif, atau bahkan menjadi preferensi utama. Dengan beralihnya preferensi masyarakat dari ikan segar ke ikan beku, diharapkan kebutuhan pangan Maluku dapat dipenuhi tanpa bergantung pada kondisi cuaca.

Dengan berbagai risiko di atas, Bank Indonesia memperkirakan inflasi Maluku akan meningkat pada rentang 4,0 – 4,4% (yoy) pada 2017. Tingkat inflasi tersebut masih berada pada rentang target inflasi TPID Provinsi Maluku pada 2017 sebesar 4,5 + 1% (yoy). Meski demikian, kita tidak boleh lengah dalam menghadapi risiko inflasi tahun depan. Roadmappengendalian inflasi yang telah disusun TPID Provinsi Maluku harus terus dikawal pelaksanaannya, baik oleh instansi terkait, maupun oleh masyarakat. Berbagai program perbaikan struktural yang dicanangkan dalam roadmap, seperti perluasan lahan pertanian, bantuan alat produksi, optimalisasi cold storage, maupun program stabilisasi harga, harus menjadi perhatian bersama.(*)

Most Popular

To Top