Penetapan Tersangka Yang Membingungkan – Ambon Ekspres
Amboina

Penetapan Tersangka Yang Membingungkan

Ambon, AE.–– Penetapan Tan Harman Tanaya sebagai tersangka oleh polisi dinilai membingungkan. Selain belum diperiksa terkait objek hukum sengketa batas lahan dengan Hotel Sumber Asia, tiga kali surat panggilan dengan penetapan sebagai tersangka selalu berbeda-beda.

Dari data yang diperoleh Ambon Ekspres, Tanaya ditetapkan sebagai tersangka sejak 8 Maret 2014. Dia dituduh melakukan tindak pidana penyerobotan tanah dan atau pengrusakan. Pada 7 April 2014 dia dipanggil lagi dalam status dan tuduhan yang sama.

Setelah dua tahun, Tanaya kembali dipanggil sebagai tersangka pada tanggal 7 dan 19 Desember 2016 dengan status tersangka. Namun tuduhannya berbeda dengan dua tahun lalu. Tanaya dituduh melakukan tindak pidana kekerasaan bersama terhadap barang dan atau pengrusakan, tapi masih dalam objek hukum yang sama.

Terakhir Polres Pulau Ambon dan PP Lease kembali memanggil Tanaya masih dalam masalah yang sama tapi tuduhan yang bertambah, yaitu tindak pidana kekerasaan bersama terhadap barang dan atau pengrusakan jo turut serta melakukan suatu perbuatan yang dapat di hukum.

Pihak keluarga Tanaya siap menyelesaikan masalah sengketa batas tanah dengan Rizal Efendi bos Hotel Sumber Asia. “Kami punya komitmen baik untuk menyelesaikan masalah. Asal semuanya berjalan adil,” kata keluarga Harman Tanaya, kepada Ambon Ekspres kemarin.

Masalah ini terjadi sejak tahun 2011. Saat itu Rizal melapor telah terjadi pengrusakan sambungan air hotel Sumber Asia hingga patah, akbiat kegiatan pembangunan milik Tanaya disamping Hotel Sumber Asia. Kondisi ini berdasarkan laporan berakibat pada 17 kamar mengalami kerusakan.

Atas laporan ini, Harman Tanaya, pada pertemuan penyelesaian antara pihak Harman Tanaya dengan Rizal Efendi, dengan mediasi Dinas Tata Kota, Pemerintah Kota Ambon, meminta pekerjanya dipanggil untuk menjelaskan tuduhan pengrusakan.

Menurut pekerja yang dihadirkan dalam pertemuan tanggal 5 Agustus itu, sebelum pekerjaan dimulai pipa air bangunan Hotel Sumber Asia telah mengalami kebocoran. Karena itu, pekerja coba menyumbat kerusakan itu untuk memperkecil kebocoran. Namun ini dibantah oleh Rizal.

Pertemuan juga dilakukan pada 7 Maret 2011, Rizal Efendi keluar dari rapat karena tidak ingin mendengar penjelasan dari Dinas Tata Kota terkait kerusakan 17 kamar hotel miliknya.

Harman Tanaya juga telah mengajukan pengukuran pengembalian batas bidang tanah pada Februari 2012. Namun gagal karena tidak dihadiri oleh Rizal Efendi. “Kami kan punya niat baik. Jadi yang melakukan pengrusakan itu siapa?

Kami punya tanah, lah wajar kalau kami bangun. Kalau kemudian begitu rapat dengan bangunan hotel, apakah itu salah, batas tanahkan sampai disitu,” kata Frangky Tanaya kerabat Harman Tanaya, kepada Ambon Ekspres.
Menurutnya, tidak ada penyerobotan batas tanah, dan tidak ada tindak pengrusakan yang dilakukan pihaknya.

“Tidak ada itu. Kami tidak menyerobot tanah siapa pun. Yang benar kami membangun diatas tanah dengan batas yang sudah ditentukan Badan Pertanahan,” kata dia.(ERM)

Most Popular

To Top