Pilgub Diantara 3 Putra Tenggara – Ambon Ekspres
Politik

Pilgub Diantara 3 Putra Tenggara

Terkait Format Paslon Pilgub 2018 

AMBON,AE.—Said Assagaff dan Anderias Rentanubun, dinilai tidak diuntungkan secara politik jika keduanya berpasangan pada pemilihan Gubernur Maluku 2018. Di satu sisi bisa memperlemah kekuatan PDIP, namun suara pemilih tenggara akan terpecah dengan munculnya figur etnis tenggara lainnya.

Pengamat politik Universitas Patimura (Unpatti) Paulus Koritelu menilai, apabila pilihan Assagaff yang saat ini masih menjabat Gubernur Maluku kepada Anderias Rentanubun akan memancing perpecahan di tubuh PDI Perjuangan. Dengan demikian, akan lebih menguntungkan duet ini untuk memenangkan pertarungan.

“Karena rivalitas antara Golkar dan PDIP dalam percaturan politik lokal Maluku adalah bagian dari konstruksi konflik politik yang seakan abadi. Makanya, dalam konteks politik, itu akan memberikan keuntungan secara pribadi untuk seorang Said Assagaff dan juga Golkar, partai yang sekarang diketuai oleh dia,”kata Koritelu kepada Ambon Ekspres, Selasa (10/1).

Namun pasangan ini juga akan dirugikan. Pasalnya, kemungkinan bertarung dengan pasangan calon lain dari etnis Tenggara seperti Herman Koedoeboen dan Komaruddin Watubun yang saat ini sudah mulai membangun popularitas.

“Tetapi ruginya bagi dia, jika benar-benar serius untuk memilih, maka harus bersedia kehilangan beberapa momentum penting dalam rangka kapling basis massa politik berdasarkan kelompok etnis. Itu kerugian dia,”jelasnya.

Herman Koedoeboen, kata dia, merupakan figur yang memiliki pengaruh. Baik di wilayah tenggara maupun daerah lainnya di Maluku. Pengaruh dan kekuatan politik itu, karena Herman adalah bagian dari PDI Perjuangan dan etnis tenggara.

Basis-basis tradisional PDIP kemungkinan akan menguat ke mantan bupati itu. Batu ujinya pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Maluku 2013 lalu. Kemunculan Herman secara tiba-tiba di gelanggang pilgub dari PDI Perjuangan dan mewakili figur dari tenggara kala itu, memantik kebangkitan entis.

BACA JUGA:  Pembunuh AKBP Mairuhu Divonis 14 Tahun

Sehingga mengantarkan Herman yang berpasangan dengan Daud Sangadji meraih kemenangan di enam kabupaten, meski pada akhirnya kandas di putaran pertama dengan indikasi adanya kecurangan dari pasangan Abdullah Vanath-Marthin Jonas Maspaitella.

Karena itu, kata Koritelu, kemunculan kembali Herman dalam kontestasi Pilgub Maluku bisa menjadi ancaman bagi Assagaff maupun kandidat lainnya. “Makanya, dikhawatirkan akan menjadi suatu ancaman serius kalau Herman maju lagi. Karena simpati dan empati masyarakat tehadap dia yang dianggap dicurangi dalam proses penghitungan suara dengan penggelembungan suara, itu membuat akumulasi dukungan mengkristal,” terang lulusan doktor politik dan sosiologi Universitas Indonesia (UI).

Sedangkan Komarudin Watubun, meski menjadi anggota DPR RI asal Papua, namun dari etnis, juga punya pengaruh di tenggara. Komarudin akan memakai pendekatan etnis, selain agama dan politik—khususnya basis PDIP Perjuangan—di tenggara dan daerah-daerah lainnya.

“Sebab, kedekatan yang bagus dilakukan adalah kedekatan etnisitas, selain kedekatan agama dan partai politik. Basis massa pendukung PDIP mengakar kuat kepada elit politik lokal yang ada, ”paparnya.

Dengan kemungkinan-kemungkinan tersebut, maka dia menilai, kecil peluang Assagaff akan meminang Bupati Maluku Tenggara dua periode, Anderias Rentanubun untuk berpasangan. Apalagi Anderias juga merupakan kader partai Golkar.

“Karena itu, dalam analisis politik saya, dia tidak serius untuk melakukan itu. Jadi Anderias Rentanubun itu bukanlah figur yang akan menghabiskan energi seorang Said Assagaff untuk meminang dan menjadikan dia sebagai calon wakil gubernur,”ungkapnya.

Akan tetapi, apabila Assagaff-Rentanubun jadi berpasangan dan Herman serta Komarudin juga maju, maka yang diuntungkan adalah pasangan calon lainnya. Sebab, kata Koritelu, pasti akan terjadi perpecahan pilihan politik pemilih tenggara.

BACA JUGA:  Polisi "Bongkar" Lagi SPBU

“Saya kira pak Murad Ismail akan diuntungkan dalam kodisi itu, jika dia maju juga. Sebab, minimal tenggara akan pecah. Tidak mungkin semuanya akan lari ke Anderias, Komarudin dan Herman Koedoeboen,”urainya.

Namun, tidak menjamin kemenangan bagi Murad maupun kandidat lainnya. Pasalnya, sangat tergantung dari figur wakil yang akan digandeng. Menurut Koritelu, bakal calon wakil bisa dari Seram dan Lease.“Tapi Lease yang benar-benar kuat. Misalnya, sekelas atau setara pak Ethy Sahuburua,”katanya.

Di lain sisi, Koritelu menganalisis, kemungkinan Assagaff akan menggandeng kader PDIP. Ini untuk mencari jalan aman dalam rangka mempertahankan kekuasaan politiknya dan Partai Golkar.

“Untuk aman, dia harus ambil dari figur Kristen yang PDIP. Misalnya, Edwin atau Herman. Mereka akan membentuk koalisi besar dan setelah era Assagaff, Golkar harus memberikan kepada PDIP sebagai calon gubernur. Tapi asal PDIP mau jadi wakil dengan dia,”pungkasnya.

Akan tetapi, apabila Assagaff-Rentanubun jadi berpasangan dan Herman serta Komarudin juga maju, maka yang diuntungkan adalah pasangan calon lainnya. Sebab, kata Koritelu, pasti akan terjadi perpecahan pilihan politik pemilih tenggara.

“Saya kira pak Murad Ismail akan diuntungkan dalam kodisi itu, jika dia maju juga. Sebab, minimal tenggara akan pecah. Tidak mungkin semuanya akan lari ke Anderias, Komarudin dan Herman Koedoeboen,”urainya.

Namun, tidak menjamin kemenangan bagi Murad maupun kandidat lainnya. Pasalnya, sangat tergantung dari figur wakil yang akan digandeng. Menurut Koritelu, bakal calon wakil bisa dari Seram dan Lease. “Tapi Lease yang benar-benar kuat. Misalnya, sekelas atau setara pak Ethy Sahuburua,”katanya.

BACA JUGA:  Rekan Yanes, Tak Penuhi Panggilan Polisi

Pengamat politik Unpatti lainnya, Johan Tehuayo mengatakan, duet Assagaff-Rentanubun pasti diuntungkan. Dari aspek partai politik, kata dia, jaringan dan struktur partai Golkar masih solid di Maluku.

Kemudian, kedua figur ini juga telah memiliki popularitas dan akseptabilitas yang dapat memengaruhi pemilih, karena merupakan kepala daerah aktif saat ini. Anderias sudah membuktikan hal itu dengan terpilih menjadi Bupati Malra dua periode (2008-2013 dan 2013-2018).

Sedangkan secara primordial, Anderias juga merupakan merepresentasikan etnis Tenggara yang tentunya mendapat dukungan politik dari masyarakat Tenggara. Keungulan Anderias dari sisi kewilayahan jika diakumulasikan dengan keunggulan kewilayahan Assagaff yang meliputi Maluku Tengah, Kota Ambon, Banda Seram, maka mereka memiliki kekuatan yang signifikan.

“Selain itu karena keduanya merupakan incumbent baik pada konteks Provinsi maupun kabupaten Malra. Dengan demikian bisa mendapat dukungan publik yang signifikan,”jelas Tehuayo.

Meski begitu, pasangan ini juga memiliki kelemahan yang perlu diantisipasi dengan bijak. Sebab, ada pula Komarudin Watubun, putra daerah asal Tenggara yang memiliki populairtas dan akseptabilitas.

Begitu juga dengan Herman Koedoeboen yang berorientasi mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur dan memiliki pengalaman politik pada priode sebelumnya, juga mendapat dukungan politik yang signifikan dari masyarakat Malra.

Apabila ketiga figur ini mencalonkan diri, akan terjadi distribusi dukungan suara. Figur dengan popularitas dan responsibilitas yang tinggi yang bisa memperoleh dukungan signifikan.

“Kalau sebagai gubernur, pasti presepsi dan dukungan publik semakin tinggi. Bila dikomparasikan hanya sebagai Wakil Gubernur, dukungan publik sedikit,”jelas Tehuayo.(TAB)

Click to comment

Most Popular

To Top