Tim RAMA: Indikator BARU Sudah Basi – Ambon Ekspres
Politik

Tim RAMA: Indikator BARU Sudah Basi

AMBON,AE.—Tim pemenangan pasangan Ramly Umasugi-Amus Besan (RAMA) menilai, klaim kekuatan massa pasangan Bakir Lumbessy-Amrullah Madani Hentihu (BARU) yang
signifikan berdasakan deklarasi, sudah tidak bisa dijadikan sandaran. Namun, tim BARU memastikan, deklarasi adalah bukti partisipasi otonom pemilih, bukan karena mobilisasi.

“Kalau mereka bera- sumsi bahwa kita- hanya kuat di data survei atau gemuk survei, itu salah. Justeru sebaliknya. Kalau mereka menggunakan sandaran deklarasi sebagai kekuatan massa, itu sandaran atau indikator yang sudah basi,”kata ketua tim pemenangan RAMA, Iksan Tinggapi kepada Ambon Eksprees, Rabu (11/1).

Deklarasi pasangan BARU yang diusung oleh PPP, Nasdem dan PKS itu pada Oktober 2016. Tim pemenangan mengklaim, massa yang hadir saat deklarasi sekitar 27.000.

Akan tetapi menurut Iksan, deklarasi tersebut tidak bisa dijadikan sandaran untuk menganalisi dan mengasumsikan kekuatan pasangan BARU. Migrasi pemilih bisa terjadi dalam interval waktu dari Oktober hingga Desember 2016 dan memasuki Januari 2017.

Selain itu, massa yang datang saat itu, kata dia, juga ada pendukung pasangan RAMA dan sebagian lainnya kemungkinan hanya untuk hiburan.

“Waktunya sudah lama begitu. Lagian, deklarasi ini kan tidak bisa mengukur pilihan politik orang. Orang bisa saja datang untuk melihat artis. Hari gini masih memakai sandaran deklarasi, ”ungkap Iksan.

BACA JUGA:  Pempus Siapkan Skema Pembiayaan Masela

Selain itu, menurut dia, pasangan BARU juga tidak didukung oleh data survei untuk memperkuat mereka. Berbeda dengan RAMA yang memiliki komparasi data lembaga survei resmi dan simulasi dukungan di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPSD) di desa secara door to door.

“Apakah mereka berani bicara-bicara di panggung kampanye, bahwa hasil survei mereka begini dan apa lembaga survei yang mereka pakai. Tetapi kami berani menyampaikan, karena kami melakukan itu, yang namanya simulasi pilkada survei dari lembaga resmi. Perbedaan cukup tipis,”jelasnya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan hasil simulasi relawan di 209 dari total 250 TPS, elektabilitas pasangan RAMA mencapai 69,98 persen. Menurutnya, angka ini tidak akan berkurang, karena sebagian besar warga Buru sudah menentukan pilihan politikknya.

“Jadi, pilihan politik warga sudah terbentuk. Data ini resmi didapatkan dari tim dan relawan di desa-desa. Masih tersisah sekitar 50 TPS lagi yang belum masuk. Simulasi kan setiap hari dilaksanakan. Satu minggu yang lalu dimasukan, satu minggu kemudian ada data terbaru yang dimasukan,”paparnya.

Ketua DPRD kabupaten Buru itu menambahkan, saat ini tim sudah mengurangi kampanye. Tetapi memperkuat konsolidasi di desa-desa, guna mengecek kekuatan tim dan simpul pasangan yang diusung oleh Partai Golkar, PDIP, Demokrat, NasDem, PAN, Gerindra, Hanura dan PKS serta PKB.

BACA JUGA:  Saksi Jadi Kunci Kemenangan

“Selama konsolidasi tim ini, ada peningkatan. Kami mendapatkan kekuatan BARU yang lain, merebut pemilih mengambang yang sebelumnya belum menentukan sikap, sekarang sudah menentukan sikap ke RAMA,”pungkasnya.

Partisipasi Otonom
Tim pasangan BARU, Almudatsir Sangadji menjelaskan, massa yang hadir saat deklarasi secara partisipatif otonom. Bukan dimobilisasi atau diimingi.

Hal ini karena, lanjut dia, BARU merupakan pasangan dengan keterbatasan sumber daya dan logistik. Berbeda dengan RAMA, khususnya Ramly yang adalah calon bupati incumbent yang bisa dengan mudah melakukan mobilisasi.

“BARU tidak punya kemampuan mobilisasi, karena dia bukan incumben. Jadi massa yang hadir itu betul-betul bersifat partisipatif otonom. Itu luar biasa,”kata Almudtasir.

Selain itu, pasangan BARU hanya didukung oleh tiga partai politik yang memiliki kekuatan dan pengaruh politik terbatas. Jauh jika dibandingkan dengan pasangan RAMA yang diusung oleh sembilan partai politik.

Pasangan ini juga terbentuk dalam waktu yang relatif singkat, dari RAMA yang sudah melakukan upaya konsolisdasi sejak beberapa bulan sebelum Bakir dan Rully resmi berpasangan.

BACA JUGA:  “Matahari Tunggal” VS ”Kapal Selam”

“Dengan sumberdaya yang terbatas, pasangan ini dibentuk dalam waktu yang sangat sempit, parpol sedikit daripada RAMA, tapi kecenderungan dukungan bersifat partisipatif otonom. Kalau dengan cara partisiptif, maka kecenderungan memilihnya kuat ke BARU daripada yang ada di RAMA,”paparnya.

Menurut dia, kecenderungan pemilih untuk memilih pasnagan calon tertentu, tidak hanya bisa diukur dari tampilan atau presentasi kehadiran saat momentum kampanye dan momentum lainnya. Tetapi, kecenderungan itu sangat ditentukan oleh perilaku pemilih.

Dia melanjutkan, pendukung pasangan BARU sulit bermigrasi ke RAMA. Rentang waktu dari deklarasi ke kampanye justeru mengkristalkan basis dukungan BARU.

Sebab, jelas dia, dalam masa kampanye, pasangan calon menyampaikan visi, misi dan program yang dapat membentuk prefrensi pemilih. Apalagi, BARU melakukan kontrak politik dengan warga.

Resonansi dukungan BARU sudah semakin kuat. Sulit bermigrasi. Karena rentang masa kampanye ini memperkiat justifikasi dukungan pemilih terhadap pasangan calon. Apalagi BARU berani membuat kontrak politik,”urainya.
Selain itu, BARU juga didukung oleh afialiasi beberapa tokoh. Komparasi dukungan ini, kata dia, menunjukkan BARU bisa membuat kejutan pada tanggal 15 Februari nanti.”Intinya, saya kira BARU bisa bikin kejutan, ”pungkasnya.
(TAB)

Most Popular

To Top