Kasus Tanah Berbuntut Panjang – Ambon Ekspres
Amboina

Kasus Tanah Berbuntut Panjang

AMBON,AE.–– Kasus dugaan pengrusakan dan penyerobotan batas tanah antara Tan Harman Tanaya dan Hotel Sumber Asia, kini berbuntut panjang. Tan Harman melalui kuasa hukumnya resmi memperapradilankan penyidik Satuan Reskrim Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, terkait penetapan dirinya sebagai tersangka.

Tan Harman Tanaya, yang sudah dijadikan tersangka, bahkan sampai berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan negeri Ambon, tidak pernah diperiksa, setelah berstatus tersangka. Sidang perdana praperadilan akan digelar di Pengadilan Negeri Ambon.

Kuasa hukum, Tan Harman Tanaya, John mengatakan praperadilan diajukan terkait kasus ini, karena beberapa hal, diantaranya, penetapan tersangka pada tahun 2014 berbeda pasalnya dengan tahun 2016. “Pasal yang disangkakan berbeda-beda,” kata dia.

Dari data yang diperoleh Ambon Ekspres, Tanaya ditetapkan sebagai tersangka sejak 8 Maret 2014. Dia dituduh melakukan tindak pidana penyerobotan tanah dan atau pengrusakan. Pada 7 April 2014 dia dipanggil lagi dalam status dan tuduhan yang sama.

Setelah dua tahun, Tanaya kembali dipanggil sebagai tersangka pada tanggal 7 dan 19 Desember 2016 dengan status tersangka. Namun tuduhannya berbeda dengan dua tahun lalu. Tanaya dituduh melakukan tindak pidana kekerasaan bersama terhadap barang dan atau pengrusakan, tapi masih dalam objek hukum yang sama.

Terakhir Polres Pulau Ambon dan PP Lease kembali memanggil Tanaya masih dalam masalah yang sama tapi tuduhan yang bertambah, yaitu tindak pidana kekerasaan bersama terhadap barang dan atau pengrusakan jo turut serta melakukan suatu perbuatan yang dapat di hukum.

Selain itu, kata John, penetapan kliennya sebagai tersangka sangat membingungkan. “Bagaimana bisa menetapkan Tan Harman Tanaya sebagai tersangka, sementara dia sendiri tidak di Ambon. Saat tuduhan pengrusakan disampaikan, juga dia tidak pernah Ambon. Mereka menuduh hanya berdasarkan sertifikat tanah,” kata John.

Sementara itu, informasi yang diperoleh koran ini di Pengadilan Negeri Ambon menyebutkan, pihak tersangka Tan Harman Tanaya, secara resmi mendaftarkan gugatan praperadilan ke pengadilan Negeri Ambon, sekira pukul 10.00 WIT, Kamis kemarin.

Pihak pengadilan Negeri Ambon sendiri telah resmi mengeluarkan surat risalah pengadilan, dengan nomor 01/Pid.Pra/2017/PN.Amb. Sidang praperadilan sendiri, antara Tan Harman Tanaya sebagai pemohon melawan Kapolres Pulau Ambon dan Pp Lease sebagai termohon, akan dimulai pada Senin 16 Januari mendatang.

Ferry Letelay, salah satu tim kuasa hukum Tan Herman Tanaya mengatakan, pihaknya mengambil langkah hukum atas kasus tersebut, karena syarat-syarat formal dalam perkara tersebut hingga penetapan Tan Harman Tanaya sebagai tersangka, belum memenuhi syarat formal sebagaimana yang diatur dalam KUHPidana maupun perdata.

“Kasus ini belum memenuhi syarat formal karena perkara ini, nomor polisinya 2004 kemudian disangkakan dengan pengrusakan dan jounto pasal 406 penyerobotan. Kemudian juga kasus ini naik pada 2016 lalu dengan penambahan pasal 170 kekerasan bersama terhadap barang dan benda, Jonto pasal 55 dan 56 KUHPidana inikan aneh,”kata dia siang kemarin.

Menurutnya, pokok persoalan kasus ini, yang pertama adalah persoalan penyerobotan. namun kasus ini sudah diselesaikan secara perdata yakni kliennya menang, atas sidang perdana yang digugat oleh pihak sumber Asia.

“Kalau ada penambahan pasal mestinya kasus Laporan Polisi lama tidak dipakai lagi. Dalam artian harus ada bukal LP baru, karena kami anggap kasus lama yang telah dimenangkan oleh klien kami itu selesai,”jelasnya.

Baginya penetapan klien mereka Tan Harman Tanaya dalam kasus ini, dianggap sangat ganjal, disebabkan bila berpatokan pada laporan polisi yang dipakai saat ini, maka sesuai KUHPidana kasus ini sudah kadalwarsa alias tenggak waktu kasus sudah selesai.

“Dengan alasan-alasan yang diatas membuat kami sebagai kuasa hukum melakukan langkah hukum selanjutnya, sehingga kasus ini bisa terang benderang. Apakah P21nya, sudah benar ataukah belum,”tuturnya.

Ditambahkan, bila suatu berkas perkara itu telah dinyatakan lengkap, maka sudah tidak dimungkinkan penyidik kembali memanggil tersangka untuk diperiksa. “Sepanjang kasus ini berjalan Tan Harman sendiri yang dijadikan sebagai tersangka tidak pernah diperiksa. Kemudian setelah berkas perkaranya lengkap tinggal penyerahan, baru dilakukan pemanggilan untuk diperiksa guna memberikan keterangan tambahan,”herannya.

Kasus ini membingunkan pihaknya, lantaran sudah dinyatakan lengkap dan tinggal penyerahan namun tersangka belum juga diperiksa. Dan bahkan saat ini baru dilakukan panggilan untuk dimintai keterangan tambahan atas kasus tersebut.

“Kami juga merasa aneh, apakah kasus ini sudah lengkap atau belum. Kalau sudah lengkap kenapa belum juga diperiksa, dan saat ini baru diperiksa dengan alasan untuk memberikan keterangan tambahan. Sementara berkasnya sudah lengkap,”tandasnya.

Sebelumnya, pihak Kejaksaan Negeri Ambon memastikan kasus dugaan pengrusakan dan penyerobotan batas tanah antara Tan Harman Tanaya dan Hotel Sumber Asia, sudah selesai. Kasus ini akan dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Ambon. Soal belum diperiksa Tanaya sebagai tersangka, itu kewenangan penyidik polisi.(AHA)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!