Dua WNA Diciduk Petugas Imigrasi – Ambon Ekspres
Amboina

Dua WNA Diciduk Petugas Imigrasi

AMBON,AE.––Dua Warga Negara Asing (MNA) diamankan petugas gabungan Imigrasi Kelas I Ambon bersama Kantor Wilayah Perwakilan Kementerian Hukum dan Ham Provinsi Maluku di dua lokasi berbeda di wilayah Maluku. Kedua WNA yang ditangkap ini yakni seorang perempuan bernama Zhang Jinlan (54) warga negara China dan Rasai Tamlab Pak warga Negara Thailand.

Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM Provinsi Maluku, Priyadi mengatakan kedua WNA yang diamankan ini memiliki paspor dan visa kunjungan. Namun keberadaan mereka di Ambon diduga terkait kelompok sindikat penipuan.

Menurut Priyadi, WNA China yang ditemukan di Kota Ambon, informasinya sudah beredar tiga bulan dari pihak bank dan masyarakat sekitar. Sementara WNA asal Thailand ini dilakukan penangkapan berdasarkan informasi dari masyarakat yang melaporkan ke Kepolisian kemudian dilaporkan ke pihak Imigrasi Masohi.

“Zhang Jinlan, WNA asal China tersebut selama ini beraktivitas sebagai penjual emas imitasi. Saat ditangkap kita juga mengamankan barang bukti berupa sejumlah perhiasan imitasi wanita, yakni Cincin 80 buah, gelang 31, kalung 15 buah dan anting 91 pasang serta uang tunai sebesar Rp 485 ribu rupiah,”ungkapnya kepada wartawan, Rabu (18/1).

WNA asal China yang ditemukan Minggu(15/1) ini, diduga sudah berada lama di Kota Ambon tetapi menggunakan visa kunjungan. Dari dokumen yang diperoleh, yang bersangkutan memiliki pasport bahkan sudah tiga sampai empat kali bulak balik Indonesia.

“Laporan dari tim, WNA China ini merupakan satu diantara 10 sampai 12 orang WNA. Mereka masuk melalui Jakarta kemudian ke Ambon. Dan aktivitas berjualan ini sudah dilakukan di Kota Ambon dan Masohi,” paparnya.

Dirinya meyakini, para WNA asal China dngan jumlah lebih dari 10 orang tersebut pasti ada yang menampung. Apalagi, jika dilihat hasil dilihat dari jualannya itu, tentu tidak seberapa. Maka, pendalaman terkait apakah motif keberadaan yang bersangkutan seperti apa masih terus dilakukan.

“Saya yakin dari 10 sampai 12 orang WNA ini pasti ada yang tampung dan begitu kita lakukan pengejaran, langsung hilang semua dan sampai sekarang belum ditemukan. Sampai saat ini pun,dirinya tidak mau memberikan informasi terkait tempat tinggalnya selama di Ambon. Padahal menurut keterangan masyarakat dia tinggal di sekitar Pasar Mardika bersama beberapa rekannya,” tegasnya.

Sementara, pada 19 Januari 2017 lalu, WNA asal Thailand Rasai Tamlab Pak di amankan di Kecamatan Elpaputih, Kota Masohi Kabupaten Maluku Tengah. Didalam dokumen kasusnya, WNA tersebut sekitar lima tahun yang lalu, yakni 2011 yang bersangkutan ketinggalan kapal ekspor.

“Jadi saat kapal ekspor itu masuk, WNA ini turun tanpa sepengetahuan petugas sampai kapal tersebu berangkat. Setelah berkordinasi dengan pihak Kedutaan Thailand dan diakui sebagai warga asli Thailand, maka empat atau lima hari kedepan baru kita deportasikan. WNA tersebut bekerja pada sebuah perusahan perkebunan kelapa sawit selama berada di Maluku Tengah.

Sesuai informasi yang kemudian didalami pihak Imigrasi, WNA asal Thailand ini kurang lebih sudah lima tahun tinggal di Masohi bahkan sering berpindah-pindah tempat, baik di Masohi, Ambon dan sekitarnya.

“Dari hasil penelitian yang dilakukan, Rasai Tamlab Pak ketinggalan kapal ekspor yang membawa barang dari Thailand ke Maluku. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak kedutaan Thailand dan mereka mengakui Rasai Tamlab Pak adalah warga asli Thailand,”ungkapnya.

Dia juga menghimbau agar WNA yang berada di wilayah Maluku, dalam melaksanakan kunjungan atau kegiatan lain harus sesuai dengan ketentuan keimigrasian yang berlaku di Indonesia.

“Masyarakat juga diharapkan membantu dan waspada terhadap WNA karena bagaimana pun juga, ini dalam waktu yang lama pasti akan melalukan penyusupan-penyusupan di masyarakat sehingga akan menjadi beban bagi kita sendiri,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Imigrasi Kelas I Ambon, Nanang Koesdaryanto menambahkan, untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut, kedua WNA tersebut kini telah diamankan di rumah tahanan Imigrasi kelas I Ambon.
“Prosesnya masih dalam penyelidikan dan untuk sementara kedua WNA ini masih diamankan,” katanya.

Sementara, Andi Zulfikar, Kepala Subsi Pengawasan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Ambon mengatakan, WNA yang keberadaannya telah 60 hari, Kantor Imigrasi secara otomatis akan melakukan langkah deportasi dan nama WNA bersangkutan masuk dalam daftar cegah-tangkal atau penangkalan.

Sesuai ketentuan, lanjutnya, visa kunjungan berlaku selama 30 hari dan bisa diperpanjang, izin tinggal sementara (ITAS) berlaku setahun dan bisa diperpanjang, sedangkan izin tinggal tetap (ITAP) berlaku lima tahun dan bisa diperpanjang.

“Dokumen keimigrasian ini harus dimiliki WNA selama tinggal di Indonesia sesuai masa izin yang berlaku. Karena menyalahi izin tinggal atau melewati batas waktu izin tinggal (overstay) sesuai Pasal 122 UU RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, maka akan dilakukan deportasi,” ujarnya. (IWU)

Most Popular

To Top