RAMA 66,82 Persen, BARU tak Terkejut – Ambon Ekspres
Politik

RAMA 66,82 Persen, BARU tak Terkejut

AMBON,AE.—Ramly Umasugi dan Amus Besan dipastikan menang. Survei menunjukkan mayoritas masyarakat menginginkan pasangan calon Bupati dan wakil Bupati kabupaten Buru itu memimpin.

Hal ini terungkap dari hasil survei Sinergi Data Indonesia (SDI) yang dipaparkan oleh Direktur SDI Imam Suherman, dalam Konfrensi Pers di hotel Evert Bright Ambon dengan tema matahari tunggal Pilkada Buru, Senin (30/1). Elektabilitas (tingkat keterpilihan) pasangan dengan akronim RAMA itu mencapai 66,82 Persen.

Sedangkan pasangan Bakir Lumbessy-Amrullah Madani Hentihu (BARU) hanya BARU 21.14 persen. Warga yang belum menentukan pilihan sebanyak 12,05 persen. “Pasangan RAMA masih unggul dengan angka elektabilitas 66,82 Persen. RAMA mengungguli pasangan BARU dengan selisih suara antara calon petahana dan calon penantang masih diatas undecided voters 12.05 persen,”ujar Imam.

Survei yang dilakukan tanggal 12 Januari hingga 19 Januari 2017. Menggunakan metode Multistage Random Sampling (acak). Jumlah responden 440 orang dengan teknis wawancara tatap muka dan kuesioner. Margin error 4,77 persen.

Survei ini juga megungkapkan sejumlah alasan tingginya elektabilitas pasangan RAMA. Antara lain, Ramly yang adalah calon bupati petahana, dinilai memiliki kinerja yang tinggi dan memuaskan, yakni 85 persen.

Pasangan RAMA juga memiliki kepribadian yang tinggi. Ramly juga melaksanakan prinsip Good Governance (pemerintahan yang baik) dengan konsisten (89 persen). Pemerintahan di era Ramly juga bersih dari praktik korupsi dan suap (70,69 persen).

Selain itu, Ramly berhasil membangun Buru dari semua aspek. Nilai dari 59,7 persen hingga 87,27 persen. Kemudian, Ramly dinilai sudah berpengalaman (71,36 persen) dibandingkan dengan Bakir Lumbessy (17,50 persen).

Imam mengatakan, meski memiliki elektabilitas tinggi, namun pasangan yang diusung oleh sembilan partai politik itu bisa kalah. Hal itu terjadi, apabila tingkat partisipasi pemilih pendukung pasangan RAMA rendah atau tidak datang mencoblos.

Kemudian, jika RAMA melakukan blunder politik pribadi yang dapat menyebabkan tsunami politik sehingga para pemilih RAMA mengalihkan dukungan suaranya ke pasangan BARU. Atau pasangan BARU mampu menciptakan program kampanye yang spektakuler dengan efek kilat, sehingga mampu menyedot pemilih RAMA dan swing voters (pemilih mengambang).

Dia juga memastikan, survei itu dilakukan secara independen.”Untuk diketahui, kita melakukan survei tanpa ada bantuan dana dari pihak manapun. Kami indendepen dan hal ini menyangkut nama baik kami,”pungkasnya.

Ketua Tim Advokasi dan Pendamping Pengalangan Pemilih pasangan Bakir – Ruly (BARU) Almudatsir Sangadji mengaku tidak terkejut dengan temuan survey, karena perilaku pemilih dalam Pilkada Buru menguntungkan Baru. Sebab kepastian dukungan politik masih sangat rendah, dibandingkan dukungan terbuka terhadap calon.

Dia mengungkapkan berdasarkan survei Pusat Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (PUSDEHAM) 25 Desember sampai dengan 3 Januari 2017, terdapat 43,4 persen yang tidak lagi merubah pilihan politiknya. Sedangkan sebanyak 28,6 persen menyatakan masih berubah pilihan politiknya, dan 28 persen menyatakan tidak tahu.

Berdasarkan data ini masih terdapat 56,6 persen pemilih yang akan menjadi penentu pemenang Pilkada Buru 2017, karena pilihannya masih dapat berubah. “Potensi perubahan pilihan pemilih dari Ramly – Amus sebesar 53 persen dari keseluruhan dukungan pemilih kepada Ramly – Amus,” tegas Almudatsir.

Menurutnya, dalam dua kali survei Pusdeham, yakni antara temuan survei 11 sampai 20 September 2016 dan survei 25 Desember 2016 sampai dengan 3 Januari 2017, dukungan terhadap Ramly – Amus terus turun di 10 kecamatan di Kabupaten Buru.

Persandingan dua survei tersebut, lanjutnya, Ramly – Amus turun 9.1 persen, sedangkan Bakir – Ruly naik 12.5 persen. Hal ini menunjukan bahwa perilaku pemilih dalam Pilkada Buru, sedemikian dinamis, sehingga pemenang Pilkada Buru 2017, tidak dapat diprediksi lebih awal seperti yang dibayangkan. “Secara umum dukungan terhadap Bakir – Ruly terus menanjak, sedangkan Ramly – Amus terus tergerus,” ungkap dia.

Karena itu, klaim kemenangan dini Ramly – Amus akan terhalang perilaku dukungan semu pemilih. Buktinya dukungan terbuka terhadap Ramly-Amus sebagai incumbent tinggi, namun dukungan pastinya justru dibawah 50 persen dari dukungan terbuka kepadanya. “Sebaliknya dukungan kepada Bakir – Ruly justru terus naik secara impresif,” ujar dia.

Dia mengatakan dalam perspektif perilaku pemilih demikian, dimana dukungan terbuka tinggi, namun kepastian dukungan rendah menunjukan menunjukan adanya dukungan semu pemilih kepada calon. Keadaan ini yang membuat beberapa Pilkada, seperti Pilkada DKI Jakarta 2012, justru hasilnya terbalik dengan temuan dan prediksi lembaga survei.

Pada Pilkada DKI Jakarta 2012, misalnya, survei terakhir sebelum pencoblosan semua lembaga survei menempatkan Fauzi Bowo – Nahrowi Ramli sebagai incumbent akan menang mudah, namun hasilnya justru Jokowi – Ahok memenangkan Pilkada DKI.

Jokowi – Ahok temuan LSI sebelum pencoblosan hanya meraih 14,4 persen , sedangkan Fauzi – Nahrowi 43,7 persen. Namun hasilnya Jokowi – Ahok setelah pencoblosan meraih 43,4 persen, sedangkan Fauzi – Nahrowi 34,18 persen.

“Dukungan kepada Bakir – Ruly itu ibarat kapal selam, karenanya akan mengejutkan di hari pencoblosan. Kami optimis akan mengalahkan Ramly – Amus seperti Jokowi – Ahok mengalahkan Fauzi – Nahrowi di DKI,” pungkas Almudatsir. (TAB)

Most Popular

To Top