Figuritas vs Parpol di Injury Time – Ambon Ekspres
Politik

Figuritas vs Parpol di Injury Time

AMBON,AE— Variabel figuritas dan kekuatan partai politik, masih menjadi prefrensi utama bagi pemilih untuk memilih Walikota dan wakil Walikota Ambon. Tim kedua pasangan calon, berupaya keras untuk menggerakan kedua kekuatan itu secara bersamaan agar saling menyokong peluang kemenangan.

Pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti), Johan Tehuayo mengatakan tidak bisa disangkal, kekuatan struktural dan basis massa sembilan partai yakni PDI Perjuangan, Gerindra, Demokrat, Hanura, PKPI, PAN, PKB, PBB dan PKS memberikan pengarung signifikan terhadap pasangan Paulus Kastanya- Muhammad Armin Syarif Latuconsina.

Dengan jumlah 25 kursi DPRD, sembilan parpol menjadi indikator utama kemenangan PANTAS. “Kalau kekuatan parpol atau kekuatan struktural berada pada PANTAS. Jumlah parpol banyak. Jadi, kekuatan parpol dominan untuk PANTAS,” kata Tehuayo saat diwawancarai Ambon Ekspres lewat telepon genggam, Selasa (31/1).

Dominasi kekuatan parpol itu, lanjut dia, karena sembilan parpol memiliki basis massa. Terutama PDI Perjuangan yang merupakan partai pemenangan pemilu di kota Ambon tahun 2014. Kemudian, partai Gerindra dan Demokrat merupakan partai pemenang berikut setelah Golkar dengan jumlah kursi sama dengan Golkar, yakni 4 buah.

Dikuatkan lagi dengan dukungan dari parpol dengan basis Muslim seperti PKS, PKB, PAN dan PBB.
Sementara itu, pasangan Richard Louhenapessy-Syarif Hadler, dinilai memiliki figuritas yang kuat. Itu dibuktikan dengan survei yang dirilis salah satu lembaga survei akhir Desember 2016 lalu.

Pasangan dengan akronim PAPARISSA BARU itu, diusung dan didukung oleh Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Jumlah kursi tiga parpol tersebut sebanyak 10 di DPRD Kota Ambon.

Dari konsolidasi hingga tahap kampanye yang sudah berlangsung kurang lebih tiga bulan ini, PPP, Nasdem dan Golkar gencar mensosialisasikan visi, misi dan program pasangan ini. Termasuk rekam jejak.

Akan tetapi, menurut Tehuayo publik kota Ambon sebenarnya sudah mengenal Richard dan Syarif jauh sebelum disosialisasikan oleh parpol. Karena itu, pasangan ini hanya mengandalkan figuritas sebagai kekuatan utama untuk membentuk presepsi dan pilihan politik warga. “Karena PAPARISSA BARU lebih dominasi oleh kekuatan figuritas,”kata Tehuayo saat diwawancarai Ambon Ekspres lewat telepon genggam, Selasa (31/1).

Sehingga, menurut dia, meski saat ini terjadi konflik internal di PPP salah satu parpol pengusung PAPARISSA BARU, namun tidak berpengaruh negatif terhadap pasangan itu. Termasuk sikap politik ketua DPC PPP Kota Ambon Rovuk Akbar Affifudin yang tidak bekerja maksimal untuk PAPARISSA BARU.

“Karena konsolidasi dan kampanye sudah terlaksana secara maksimal oleh kedua kekuatan ini. Jadi, perseteruan antara Rovik dan Syarif ini, tidak akan berpengaruh negatif terhadap dukungan publik terhadap PAPARISSA BARU,”jelasnya.

Sosialisasi figuritas Poli dan Sam, juga dilakukan melalui alat peragan kampanye dan kampanye media sosial serta media massa. Baik iklan maupun pemberitaan. “Iya, betul. Dan, partai-partai politik yang kuat, itu juga kan mengusung figur yang mereka percayai. Kan preferensi Pilkada, itu figur,”ujar Juru Bicara tik pemenangan pasangan PANTAS, Dicky Mailoa.

Menurut Mailoa, Poli dan Sam cukup dikenal oleh masyarakat kota Ambon. Hal itu disebabkan, kedua figur merupakan publik figur di jajaran pemerintahan. Poli adalah mantan kepala dinas sosial provinsi Maluku dan Sam merupakan mantan wakil Walikota Ambon dan mantan kepala dinas Tata Kota Ambon.

Dikatakan, rakyat kota Ambon saat ini membutuhkan pemimpin yang datang dengan komitmen yang jelas untuk membantu dan mendampingi mereka mengatasi masalah-masalah mereka. Diantaranya, masalah lapangan kerja, pelayanan kesehatan, pendidikan, pemukiman yang sehat dan lingkungan hidup yang terpelihara. Masalah-masalah itu tidak tertangani dengan baik selama ini.

“Rakyat juga butuh pemimpin yang memiliki integritas. Mereka sendiri melihat bahwa paslon Poli-Sam adalah birokrat senior, tanpa cacat moral. Mereka teruji dalam hal kepemimpinan,”paparnya.

Rekam jejak Poli dan Sam yang disosialisasi dengan baik oleh parpol pengusung, tim pemenangan dan relawan, kata Mailoa, berdampak signfikan terhadaptingkat pengenalan keduanya. Fakta itu berkontribusi pada pada elektabilitas (tingkat keterpilihan) Poli dan Sam yang terekam melalui hasil survei yang dilakukan secara berkala.

“Hasilnya baik. Kami lakukan survei secara berkala dan hasilnya untuk kepentingan internal, yakni evaluasi dan planning. Bukan untuk publikasi,”akuinya.

Sementara itu, Mahmud Tuasikal mengakui, pasangan PAPARISSA BARU diuntungkan dengan presepsi publik yang baik terhadap kefiguran mereka. Hal itu sudah diketahui, jauh sebelum ketiga parpol pengusung membuat keputusan.

“Jadi, memang kefiguran pasangan PAPARISSA, dari semua aspek, tidak diragukan lagi. Dan, rakyat kota Ambon, kami yakin akan memilih figur yang tepat. Indikatornya, pada survei sebelum pemberian rekomendasi, elektabilita pak Ris dan pak Sayrif sangat tinggi,”kata Tuasikal.

“Kami parpol pengusung dan tim bekerja maksimal. Meski, pendapat sebagian orang bahwa kami hanya tiga partai. Tetapi, kami sangat yakin PAPARISSA BARU akan menang, karena orang memilih figur paslon, bukan partai politik, ”tandas tim pemenangan paslon PAPARISSA BARU dan pengurus partai Nasdem kota Ambon itu.(TAB)

Most Popular

To Top