“Matahari Tunggal” VS ”Kapal Selam” – Ambon Ekspres
Politik

“Matahari Tunggal” VS ”Kapal Selam”

AMBON, AE —DiantaraKedalaman analisis terhadap  variabel perilaku pemilih memiliki kecenderungan terbalik dari hasil survei, apabila  potensi perubahan pilihan politik tinggi. Perubahan pilihan tinggi, salah satu ditandai oleh dukungan politik tinggi, namun derajat kepastian dukungan politik rendah.

Publikasi hasil survei Pilkada Buru, 30 Januari 2017, oleh Sinegi Data Indonesia (SDI), telah dengan sangat buru-buru memberi tajuk, “Matahari Tunggal Pilkada Kabupaten Buru”. SDI melansir keterpilihan RAMA 66,82 persen, Bakir – Ruly (BARU) 21,05 %, dan yang belum menyatakan dukungan atau rahasia 12,05 persen.

SDI juga mengungkapkan tiga hal dapat menyebabkan RAMA kalah. Yakni apabila partisipasi pemilih RAMA rendah, kemungkinan adanya tsunami politik karena blunder politik dan apabila BARU mampu menghadirkan program kampanye spektakuler dengan efek kilat.

Tiga aspek kemungkinan kekalahan RAMA oleh SDI, dari potensi migrasi pemilih dan keunggulan program BARU sangat relevan dengan temuan survei dan kondisi lapangan. Dari sisi program hanya BARU yang berani melakukan kontrak politik. Sedangkan selama masa kampanye terdapat perbedaan substantif.

Keadaan dinamis perilaku pemilih akan mempengaruhi hasil Pilkada Buru. Dari survei berbeda yang dilakukan oleh Pusat Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Pusdeham) dari 25 Desember 2016 s/d 3 Januari 2017 menemukan 56,3 persen pemilih masih dapat berubah pilihannya dan hanya 43,4 persen memastikan tidak lagi merubah pilihannya.

Dalam dua kali survei Pusdeham, yakni 11 – 20 September 2016 dan 25 Desember 2016 – 3 Januari 2017, memotret tingginya migrasi suara dari RAMA kepada BARU. Pada survei September keterpilihan BARU berada di angka 25,3 persen menjadi 37,8 persen pada hasil survei Desamber 2016 – Januari 2017. RAMA turun dari 9,01 persen, sedangkan BARU naik 12,05 persen.

Berdasarkan data survei tersebut temuan aspek keterpilihan BARU antara SDI berbeda dengan Pusdeham, karena SDI melansir 21,05 persen, sedangkan temuan Pusdeham 37.8 persen. Dalam periode survei ini pengurangan selisih dukungan terpangkas antara RAMA dan BARU sebanyak 21.6 persen, sehingga sisa selisihnya semakin tipis.

Namun selisih tipis dukungan pemilih tersebut, bila disandingkan dengan potensi perubahan dukungan yang tinggi sebesar 56,6 persen, akan menguntungkan BARU sebagai penantang. Sebab secara teori seharusnya dukungan pasti kepada incumbent tinggi dan stabil, namun kenyataan labil dan cenderung semu.

Dengan dinamika keterpilihan dan perilaku pemilih yang sedemikian dinamis tersebut, secara metaforik ketika SDI melabeli RAMA sebagai “Matahari Tunggal di Pilkada Buru” maka BARU patut dilabeli sebagai “Kapal Selam di Pilkada Baru”.

Matahari Tunggal Vs Kapal Selam
Sebagai incumbent RAMA nyaris tanpa lawan tanding, karena sejak awal hampir menyapuh bersih seluruh partai politik. Namun upaya RAMA menjadi “Matahari Tunggal” akhirnya kandas, karena PPP, PKB dan PKS mengusung BARU. PPP yang tinggal meneken rekomendasi kepada RAMA memutuskan mendukung BARU dan bersama-sama dengan PKB memberikan rekomendasi kepada BARU.

Belakangan PKS yang sudah memberikan rekomendasi kepada RAMA tanggal 27 Juli 2016, sehari sebelum pendaftaran calon di KPU Buru, 20 September 2016 menarik rekomendasi dari RAMA dan memberikan rekomendasi kepada BARU. Karena itu secara empirik dan strategik istilah “Matahari Tunggal” tidak lagi identik dan tepat.

Sedangkan sebutan “Kapal Selam” kepada BARU, memiliki agregat dukungan lumayan tinggi dalam waktu cepat. Pada 21 September 2016, massa deklarasi BARU membanjiri Kota Namlea, dari 10 kecamatan, 82 desa dan 102 dusun. Massa deklarasi BARU tersebut tiga kali jumlahnya dari massa deklarasi RAMA.

Pemaknaan strategis “Kapal Selam” kepada BARU, sesuai dengan karakter dan realitas dukungan politik dan perilaku pemilih, dalam beberapa aspek.

Pertama, sebagai pasangan yang hanya diusung oleh tiga partai, pendanaan terbatas dan bukan incumbent, dukungan massa kepada BARU bersifat otonom. Oleh karena itu massa kampanye BARU bukan massa mobilisasi, karena sumber dayanya terbatas.

Perbedaan massa dukungan ini tercitrakan selama masa kampanye. RAMA karena ditopang 9 partai kesulitan menutup jumlah massa kampanye BARU. RAMA reaktif pada titik kampanye BARU.

Kedua, identifikasi SDI terhadap faktor kekalahan RAMA seperti rendahnya partisipasi pemilih dan potensi migrasi pemilih karena tsunami politik, sangat identik dengan temua survei dan kondisi massa kampanye. Tsunami politik akibat distorsi materi kampanye salah satunya, dengan menyerang kredibilitas Husni Hentihu, ikut mempengaruhi menurunnya elektabilitas RAMA.

Sedangkan soal partisipasi pemilih, RAMA berada dalam dilema tampilan massa mobilisasi selama masa kampanye dan kepastian pilihan politik. Massa yang cenderung dimobilisasi secara terbuka, umumnya tidak partisipatif dalam menggunakan hak pilih, karena loyalitas cenderung semu.

Serta ketiga, BARU menjadi pasangan calon yang berani melakukan kontrak politik dengan masyarakat di 10 kecamatan, 82 Desa dan 102 Dusun di Buru.

Kontrak politik BARU diapresiasi positif pemilih, karena dilakukan untuk peningkatan anggaran pedesaan Rp1 miliar sampai Rp3 miliar per Desa. Kesungguhan atas kontrak politik ini, salah satunya, dinyatakan dengan komitmen mengundurkan diri, apabila dalam 2 tahun isi kontrak politik tidak dilaksanakan.

Tidak mudah mengunci aspek keterpilihan di Pilkada Buru, dengan dinamika perilaku pemilih yang sedemikian dinamis. Pilkada Buru sedang mengarah kepada anomali terbalik dari prediksi awal hasil survei kepada hasil akhir. Mungkin hasilnya akan seperti Pilkada DKI 2012 saat Jokowi – Ahok mengalahkan Foke – Nara.

Saat itu, LSI melansir Jokowi-Ahok sebelum pencoblosan hanya meraih 14,4 persen, sedangkan Foke – Nara 43,7 persen. Namun hasilnya Jokowi – Ahok setelah pencoblosan meraih 43,4 persen mengalahkan incumbent Foke – Nara dengan 34,18 persen.(**)

Most Popular

To Top