Agung Prihatna, Kiprah Surveinya di Maluku – Ambon Ekspres
Ragam

Agung Prihatna, Kiprah Surveinya di Maluku

AMBON,AE–Lama berkiprah di lembaga survei. Soal metode menjadi menu hariannya. Dia juga salah satu  pencetus berdirinya lembaga survei di Indonesia. Kini dia menjadi direktur pada lembaga survei Index. Index sudah cukup lama melakukan survei dan hitung cepat pada pemilihan kepala daerah di Maluku.

Agung Prihatna (48), Direktur PT Index Indonesia, berulang kali bolak balik Maluku. Sudah banyak kepala daerah di Maluku yang dikenalnya. Survei kepala daerah juga sudah banyak dilakukannya. Sejumlah daerah pernah di survei. Terakhir pilkada Seram Bagian Barat, Maluku Tengah yang di survei.

Paling sering dia bersama lembaganya melakukan survei di Maluku Tengah. Bahkan Maluku Tengah menjadi daerah pertamanya ketika masuk Maluku. Tanggal 15 Februari lalu, Index menyelesaikan quick count atau hitungan cepat. Ini dilakukan terhadap tiga daerah, Maluku Tengah, Kota Ambon, dan Pulau Buru.

Antara angka hitungan cepat dan real count di KPUD, sampai kemarin, tidak berbeda jauh. Angkanya belum melebihi 1 persen. “Lancar dan suksesnya QC di Ambon, Malteng dan Buru membuktikan kerja keras, kedisiplinan dan imparsialitas Index Indonesia,” kata Agung ketika berbincang-bincang dengan Ambon Ekspres.

Index bukan lembaga yang secara popularitas dikenal oleh publik. Mereka bekerja lebih mengutamakan service kepada klien. Minimnya publikasi Index kerap dianggap sebagai kekuatan ketimbang kelemahan. Kata dia, dalam banyak kasus lembaga survei yg over publikasi justru banyak mendapat masalah di lapangan.

“Tenaga lapangan mereka seringkali diintimidasi sehingga hasilnya bias. Kami memegang teguh prinsip imparsialitas terutama dalam survei, itulah mengapa kami tidak terlalu banyak mempublikasi. Kami selalu khawatir hasil publikasi dianggap memprovokasi dan mempengaruhi pilihan publik,” kata jebolan magister komunikasi Universitas Indonesia ini.

Publikasi hasil survei, kata dia, bagi banyak lembaga, lebih merupakan elemen marketing ketimbang proses pemenangan. Berbeda dengan lembaga lain, Index tumbuh dari orang-orang yang latar belakangnya adalah Organisasi Non Pemerintah (Ornop/LSM) utk menguatkan demokrasi.

Survei dipandang sebagai alat utk melakukan kontrol atas kemungkinan kecurangan yang terjadi bukannya justeru dibuat untuk melakukan kecurangan. Selain sebagai pendiri Index, dia adalah perintis kegiatan survei opini publik di Indonesia.

Metodologi dan teknik sampling yg digunakan lembaga-lembaga besar dan terkenal saat ini adalah produk intelektual Agung dan rekan-rekannya di LP3ES. “Secara hukum saya boleh melakukan klaim sebagai property right saya,” kata dia.

Demikian halnya dengan metode quick count, Agung boleh mengklaim bahwa metode yang diterapkan semua lembaga meniru apa yang dibuatnya. “Saya mulai mempelajari penerapan teknik sampling dalam quick count sejak Pemilu tahun 1997 saat orde baru masih berkuasa dan Pemilu 1999 saat transisi reformasi,” kata dia.

Pemilu tahun 2004, adalah puncaknya dimana Agung berani mempublikasi hasil quick count secara nasional. Belakangan banyak lembaga yang melakukan dan seakan akan merekalah perintisnya. Bahkan terminologi “quick count” adalah istilah yang dia bersama rekan-rekannya hasilkan saat Pemilu 2004.

“Untuk diketahui, saya termasuk salah satu yg membidani lahirnya Lembaga Survei Indonesia (LSI) di tahun 2003, dimana lembaga ini melahirkan banyak lembaga survei lain seperti LSI (Lingkaran), JSI, Indobarometer. Saya juga menjadi mentor metode survei bagi para peneliti di Cirus, Puskapol UI dan lainnya,” pungkas pria berkacamata minus ini. (***)

Most Popular

To Top