Herman Gandeng Vanath? – Ambon Ekspres
Politik

Herman Gandeng Vanath?

Pemilihan Gubernur 2018 

AMBON, AE— Herman Koedoeboen dipastikan akan kembali maju di pemilihan Gubernur Maluku 2018. PDIP menjadi salah satu partai yang bisa memuluskan langkahnya. Sejumlah partai politik juga dilirik mantan Bupati Maluku Tenggara ini. Abdullah Vanath juga dilirik jadi pendampingnya.

Selain melirik parpol, sejumlah nama disebut-sebut masuk daftar calon wakil Herman. Ada, Abdullah Tuasikal, Abdullah Vanath, Ana Latuconsina, dan Bupati Buru Selatan, Tagop Soulisa. Namun kecenderungan Herman memilih Vanath jauh lebih besar. Aspek kewilayahan dan kekuatan Vanath menjadi pertimbangannya.

Herman sendiri bukan kader PDI Perjuangan. Tapi dia dekat dengan beberapa elit partai berlambang moncong putih itu. Dari daerah hingga ke DPP. Saking dekatnya, ia justru ditunjuk oleh Megawati Soekarnoputri, sebagai calon Gubernur Maluku 2013.

Sementara kader loyal PDIP, macam Bitzael Silvester (Bito) Temar dan Almarhum Alex Litaay tidak mendapatkan rekomendasi. PDIP juga mengusung dan memenangkan Herman di Pilkada Maluku Tenggara.

Herman membuktikan pengaruhnya. Meski hanya diusung oleh PDIP, namun Herman dan pasangan wakilnya, Daud Sangadji tampil sebagai pemenang ketiga dengan 188.088 suara atau 24,35 persen. Kini, Herman kembali mensosialisasikan diri. Lewat baliho, spanduk maupun kalender.

PDIP sebagai partai politik terbuka, memberikan kesempatan kepada seluruh putra dan putri yang memenuhi syarat untuk berkompetisi guna mendapatkan rekomendasi.”Saya pikir, itu sah-sah saja. Itu hak politik beliau,” kata ketua Bapilu DPD PDIP Maluku Tobhyhend Sahureka kepada Ambon Ekspres, Selasa (21/2).

Menurut Hendrik, tidak salah bila Herman berharap mendapatkan rekomendasi PDIP. Pasalnya, sudah menjadi bagian dari PDIP. Antara lain, menang Pilkada Malra dan bertarung di Pilgub Maluku 2013 dengan rekomendasi PDIP. “Jadi, apa salah pak Herman mengharapkan (rekomendasi) PDI Perjuangan,”katanya.

Diakuinya, Herman belum membicarakan hal serius mengenai kontestasi Pilgub 2018 mendatang.”Pak Herman dekat dengan saya. Kalau telepon, kita omong hal biasa-biasa saja. Belum membicarakan keseriusan untuk Pilgub,” ungkapnya.

Tetapi PDIP punya mekanisme rekrutmen. Sehingga, semua orang punya kesempatan yang sama untuk berkompetisi. Hasil seleksi dengan beberapa indikator, termasuk survei yang nanti menjadi dasar pemberian rekomendasi PDIP.

Orang dekat sekaligus timnya, Samsul Notanubun belum memastikan,Herman sedang melirik partai apa sebagai kendaraan pencalonannya nanti. Termasuk PDI Perjuangan.”Saya belum bisa masuk di wilayah itu,”singkat Notanubun.

Terganutng PDIP?
Pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti) Paulus Koritelu mengatakan, dari sisi basis dan figuritas, Herman cukup baik. Namun, Herman akan terkendala jika PDIP mengusung kadernya, Komarudin Watubun, Edwin Huwae maupun kader lainnya.

“Pertanyaanya dengan partai apa dia maju? Sebab, akan terjadi persaingan yang ketat secara internal di PDIP untuk perebutan rekomendasi. Apakah Herman, Komarudin atau Edwin,”ujar Koritelu.

Dalam kompetisi internal ini, prediksi Koritelu, Komarudin akan bermanuver kencang. Sebab, secara sttruktural dia adalah pengurus DPP PDIP dan sangat dekat dengan elitnya.

Jika tidak mendapatkan perahu politik PDIP, Herman pasti berpikir secara matang lagi untuk melanjutkan pencalonannya. Antara lain terkait partai politik selain PDIP untuk bisa memenuhi persyaratan pencalonan.
Di lain sisi, lanjut dia, parpol akan berpikir dua kali untuk mengusung Herman, jika PDIP mengusung Komarudin.

Pertimbangannya, terpecahnya suara pemilih di Tenggara, karena kedua figur ini berasal dari Tenggara.
“Partai akan berpikir dua kali, karena massa di Tenggara akan dicuri oleh Komarudin yang terdistribusi ke lima daerah, yakni kota Tual, Aru, MBD, MTB dan Malra sendiri,”paparnya.

Pengamat politik Unpatti lainnya, Johan Tehuayo mengatakan, Herman kemungkinan kecil direkomendasi PDIP, karena ada Komarudin.”Sehingga parpol yang kemungkinan bisa dijadikan sebagai sarana politik untuk mencalonkan diri, bisa Nasdem dan Demokrat, dan lain-lainnya,”kata Tehuayo.

Upaya lainnya, adalah maju lewat jalur independen. Sebab, menurut dia, Nasdem akan lebih cenderung mengusung kadernya yang juga anggota DPD RI, Nono Sampono sebagai calon gubernur.

Seperti diberitakan Ambon Ekspres, Selasa (14/2) Komarudin mengatakan, perebutan rekomendasi PDIP dari para kader harus berlangsung adil. Tidak perlu diperdebatkan dan diunggulkan kader tertentu.

“Tetapi, saya pikirkan tidak perlu kita perdebatkan soal pak Herman Koedoeboen, Edwin Huwae atau kader-kader lain. Bagi saya, semua punya hak yang sama. Silakan mensosialisasikan diri saja. Terakhir, partai menentukan mana yang terbaik menurut partai. Kemudian, tentu rakyat Maluku yang menentukan siapa pemimpin yang layak memimpin mereka ke depan,” ungkapnya.

Gandeng Vanath?
Selain isu perebutan rekomendasi, Herman juga dikabarkan menggandeng mantan Bupati Seram Bagian Timur (SBT) dua periode, Abdullah Vanath. Duet kedua pasangan ini juga hangat diperbincangkan di media sosial. Tim Herman, lagi-lagi tidak mau menanggapinya.

Menurut Koritelu, apabila Herman dan Abdullah Vanath dikawinkan, akan menjadi kekuatan yang kuat. Terutama dari sisi etnisitas. Herman mewakili Tenggara dan Vanath dengan isu Seram.

Kemungkinan ini perlu dicermati oleh kandidat lainnya. Sebab, menurut dia, mayoritas pemilih di Maluku masih menyandarkan pilihan pada faktor primordialisme etnis.

“Ini dua etnisitas yang cukup kuat. Vanath dari Seram dan Herman mewakikli Tenggara, khususnya Kei. Ini menjadi sebuah kekuatan dimanfaatkan untuk kepentingan politik,”papar dia. (TAB)

Most Popular

To Top