Pengakuan Aneh Hence Toisuta – Ambon Ekspres
Amboina

Pengakuan Aneh Hence Toisuta

AMBON, AE.–– Terdakwa Hence Abraham Toisuta alias Hence tetap menolak duit Rp7,6 miliar, adalah fee dari transaksi jual beli lahan dan gedung untuk Bank Maluku di Surabaya, Jawa Timur. Dia mengaku, uang itu murni keuntungan bisnis yang diperolehnya.

Duit yang sempat mengendap di rekeningnya itu, disebutnya hasil murni bisnis antara dia dengan Tegu Kinarto selaku Direktur PT. Podo Joyo Masyur. Anehnya, nilai transaksi bisnis Hence dengan transaksi pembelian lahan dan gedung Bank Maluku, sama.

Lebih unik lagi, nilai keuntungan bisnisnya bersama Podo Joyo Masyur, dengan kerugian negara yang diakibatkan dari mark up pembelian lahan dan gedung Bank Maluku, juga sama, Rp7,6 miliar. “Jadi itu keuntungan dari bisnis lainnya,” kata Hence yang bersaksi dalam sidang korupsi Bank Maluku dengan terdakwa Pedro Tentua, kemarin.

Menurutnya, nilai Rp54 miliar untuk pembayaran pengadaan lahan dan gedung kantor cabang Bank Maluku dan Malut di Surabaya dengan uang Rp. 7,6 miliar adalah dua transaksi yang berbeda. Dimana Rp54 miliar merupakan transaksi pembayaran lahan dan gedung kantor cabang Bank Maluku kepada pemilik lahan melalui Tegu Kinarto.

Sementara uang Rp. 7,6 miliar merupakan transaksi bisnis penjualan tanah antara pihaknya dengan teguh kinarto di Malang, Jawa Timur. “Transaksi Rp. 7,6 miliar tidak terikat dengan nilai Rp. 54 miliar yang dibayarkan Bank Maluku dan Malut kepada Teguh Kinarto selaku pemilik lahan. jadi ada dua transaksi yang berbada dalam proses ini,” kata dia.

Dia mengaku dua transaksi itu dilakukan ditanggal yang sama yakni, tanggal 18 November 2014. Untuk Rp7,6 miliar itu berasal dari transkasinya dengan Teguh kinarto atas penjualan sebidang tanah miliknya di Kota Malang, Jawa Timur.

“Tanah itu dijual kepada Teguh Kinarto dan tidak ada hubunganya dengan nilai Rp. 54 miliar tersebut,” kata Hence selaku saksi yang dihadirkan penuntut umum atas terdakwa, Petro Ridolf Tentua yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Ambon. (21/2).

Dia mengatakan, hubunganya dengan pihak Bank Maluku untuk proses pembelian lahan dan gedung kantor cabang Bank Maluku di Surabaya merupakan perintah dari Terdakwa, Idris Rolobessy (Berkas terpisah) yang adalah Direktur Bank Maluku saat itu.

Dia mengaku dihubungi Rolobessy untuk mencari lahan, dikonfirmasilah gedung dan lahan di Jalan Darmo Nomor 51 Surabaya, Jawa Timur sekitar Oktober 2014 lalu. ” Atas permintaan tersebut, saya melakukan konfirmasi dan mendapatkan lahan tersebut,” terangnya.

Sebelum melakukan konfirmasi dengan pemilik lahan, Hence berhubungan dengan Sunarko dan Benny. keduanya yang mediasi proses terjadinya pembelian lahan dan gedung di Surabaya itu.

“Saya ketemu dengan pemilik lahan, Teguh Kinarto selaku Direktur PT. Podo Joyo, dan menkonfirmasi sesuai permintaan dari Bank Maluku untuk melakukan pembelian Gedung 51, dengan penawaran yang disampaikan oleh Bank maluku senilai Rp. 54 miliar. Harga awalnya Rp. 62,5 miliar. Lalu disepakati nilai Rp. 54 miliar,” jelasnya.

Hence lalu melaporkan ke Bank Maluku melalui Rolobessy dan dilakukan berita acara pembayaran dengan nilai Rp. 54 miliar. Transaksi pembayaran dilakukan di tanggal 17 November 2014, namun saat itu Bank Maluku tidak mentransfer uang ke pemilik lahan, namun di transfer ke Sunarko.

Padahal menurutnya, pihaknya tidak pernah menyampaikan atau menpresentasikan Sunarko kepada Bank Maluku. Kenapa Bank Maluku mentransfer dana senilai Rp. 54 miliar bukan ke pemilik lahan namun ke Sunarko, dia tidak mengetahui.

“Setelah dilakukan berita acara pembayaran, saya dihubungi oleh Pak Rolobessy kalau telah dilakukan transaksi pembayaran lahan dan gedung di Surabaya sebesar Rp. 54 miliar, namun pengirimanya dilakukan salah, sehingga diminta kepada saya untuk mengamankan uang tersebut,” kata dia.

Hence lalu menghubungi Sunarko agar uang itu ditransfer kembali tersebut ke rekeningnya di tanggal yang sama. “kemudian di tanggal 18 November 2014 sekitar pukul 09.00 pagi, saya mentransfer uang ke pemilik lahan, sebesar Rp. 5 miliar sebagai bentuk tanda jadi. dan di pukul 13.00 siang, saya kembali mentransfer dana senilai Rp. 49 miliar ke pemilik lahan, sehingga kolektif penawaran gedung dan lahan diterima oleh pemilik lahan,” akuinya.
Jaksa Penuntut Umum, sempat menanggapi keterangan saksi dengan menyampaikan pertanyaan soal pemilik lahan

Costarito Tee selaku Direktur PT. Mutiara Cahaya Sukses. “Yang perlu saya jelaskan, PT. Mutiara Cahaya Sukses merupakan anak perusahaan dari PT. Podo Joyo Masyur, dan Teguh Kinarto bertindak sebagai pengurus dalam PT. Mutiara Cahaya Sukses. sebagaimana termuat dalam akta di depan Notaris Lutfi Afandi,” bebernya.

Soal uang kepada Fredy Donald Sanaky sebesar Rp250 juta dan Izack Thenu sebesar Rp150 juta, Hence membantahnya. “Sebelumnya saya sudah membantah dalam persidangan ketika keduanya diperiksa sebagai saksi, dan kembali saya tegaskan saya tidak tau,” kata dia.

Usai mendengar keterangan saksi, Majelis Hakim yang diketuai, R A Didi Ismiatun dibantu, Samsidar Nawawi dan Herry Liliantono menunda persidangan hingga, Rabu (22/2) dengan agenda pemeriksaan saksi Mahkota, Petro Ridolf Tentua. (MG1)

Most Popular

To Top