Si Hijau Diambang Punah – Ambon Ekspres
Ragam

Si Hijau Diambang Punah

AMBON, AE–Pulau Enu dan Pulau Karang, masuk gugus Kepulauan Aru. Disana menjadi incaran ratusan nelayan. Pulau tenang dekat Australia, dengan pasirnya yang putih,
menjadi tempat hidup habitat penyu Hijau (Chelonia mydas). Tak kurang dari empat ekor penyu Hijau datang untuk bertelur setiap hari. Disaat bersamaan saban harinya,
hewan laut langka itu ditangkap dan dijual secara illegal oleh para nelayan.

Pagi dini hari, sebuah motor tempel berjalan pelan di lautan bebas, perairan Aru. Kekuatan mesinnya tak sebanding dengan bobot penumpangnya. Di dalam perahu tradisional itu, ada lima nelayan. Mereka baru saja meninggalkan Pulau Enu. Mata mereka liar, ketika akan menyinggahi Pelabuhan Yos Soedarso, Dobo.

Hari itu, tanggal 21 Februari. Pelabuhannya masih sepi. Perahu yang bermuatan lima nelayan ini, nekat bersandar. Tali perahu diikat pada salah satu bagian pelabuhan, dan mesin pun dimatikan. Saat mereka akan bergegas, datang beberapa polisi dari Polres Aru.

Rupanya polisi sudah memantau sejak awal kedatangan lima nelayan ini. Mereka digeledah. Di dalam perahu motor berukuran sekira 10 meter itu, ada 35 ekor penyu hijau betina.

Penyu-penyu itu sengaja ditelantangkan diatas bumbungan perahu. Dalam kondisi terbalik, bagian perutnya keatas. Diangkut dari pulau Enu ke Dobo untuk dijual kepada warga yang memakan daging dan menjual karapaks (tempurung).

Penahanan itu dilakukan karena berulang kali penyu diambil secara illegal. Namun tidak ada tindakan tegas. “Mereka menangkap penyu di pulau Enu karang yang merupakan perbatasan Indonesia dan Australia. Lalu mereka bawa ke Dobo untuk dijual secara manual. Sesampai di pelabuhan Yos Soedarso, saya perintahkan ditangkap dan diproses,” ujar Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Kepulauan Aru AKPB Adolof Bormasa saat dihubungi, Selasa 22 Februari.

Umar dan Hendrik, dua dari lima nelayan tersebut, ditahan di Markas Polres dan ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah warga lokal. Polisi telah memeriksa dan mendapatkan keterangan dari kedua orang itu.

Sementara itu, hingga Selasa siang, 5 ekor penyu mati. Sebanyak 26 ekor dilepasliarkan pada hari itu. 6 ekor lainnya dilepaskan pada Rabu (22/2) oleh Kapolres dan wakil Bupati Aru, Muin Sogalrey.
Penyu yang mati, diduga karena tidak ditangani secara baik. Antara lain, diletakkan terbalik dan tidak disirami air

secukupnya untuk menjaga kelembaban tubuh penyu.
“Itu (terbalik) melanggar aturan. Kalau kita lihat penangkapan dan pemeliharaan penyu secara internasional, butuh suhu yang normal. Diari ketika sudah berada di darat,”kata pemerhati penyu dari WWF Indonesia, Barnabas Wurlianty.

Rumah Bagi Penyu
Kepulauan Aru adalah rumah bagi penyu hijau di Indonesia. Dan merupakan daerah tempat mencari makan dan migrasi penyu Belimbing (Dermocelhys coriacea), penyu Sisik (Eretmochelys imbricate) dan kemungkinan penyu Pipih (Natator depressa), sehingga Kepulauan Aru memiliki peran penting sebagai habitat penyu di Indonesia.

Pulau Enu bersama dua pulau lainnya, yaitu pulau Karang dan pulau Kultubai Besar masuk dalam kawasan konservasi Suaka Alam Perairan (SAP) Kepulauan Aru Bagian Tenggara, sesuai keputusan Menteri KKP nomor 64/KEPMEN-KKP/2014 Tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Suaka Alam Perairan Kepulauan Aru Tenggara dan Laut Sekitarnya di provinsi Maluku tahun 2014-2023. Dengan luas wilayah konservasi masing-masing, pulau Enu 1.443,67 Ha, Pulau Karang 909 Ha dan pulau Kultubai Besar 25,34 Ha.

Data KKP berdasarakan beberapa penelitian menyebutkan, terdapat empat dari tujuh jenis penyu laut di dunia, memiliki habitat di Kepulauan Aru, yaitu penyu Hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu Pipih (Natator depressa).

Dari empat jenis itu, penyu Hijau dan penyu Sisik yang memiliki populasi terbanyak. Namun, penyu hijau yang umumnya ditemukan atau menempati wilayah perairan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil dibanding penyu sisik.

Pengamatan lapangan PKSPL-Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2011 menemukan, penyu hijau menempati perairan pesisir yang ditumbuhi lamun serta pantai kering pulau-pulau dengan habitat pasir serta semak dari beberapa pulau kecil seperti pulau Enu dan pulau Karang sebagai tempat bertelur (nesting).

Kenampakan penyu hijau yang memanfaatkan padang lamun pada wilayah ekologis di kepulauan Aru sebelum naik bertelur di daratan pulau Enu. Setelah bertelur, penyu hijau bermigrasi ke perairan Australia untuk kepentingan biologis lainnya.

“Yang paling banyak itu di pulau Enu. Kalau di pulau lain, nasib baik baru kita temui penyu. Kalau Enu, selalu ada saja,”ujar aktivis lingkungan, Sony Djonler.

Tahun 2016 lalu, penulis buku Marine Biology Knowledge in Gwatel Kal (Pengetahuan Biologi Laut di Daerah Batuley) itu bersama turis dari Belanda mendatangi pulau dengan panjang sekitar 1 kilo meter itu untuk menyaksikan penyu Hijau menetaskan telurnya. Saat itu mereka mendapati empat penyu Hijau dan ratusan telurnya di dalam lubang-lubang pasir.

Pemerintah, dalam hal ini KKP dan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) belum memiliki data akurat terkait jumlah individu penyu Hijau di kepualaun Aru umumnya, maupun pulau Enu dan beberpa pulau lainnya. Namun, diprediksi berdasarkan jumlah telur, kemungkinan mencapai ribuan.

Tidak Ada Pengawasan Ketat
Penyu dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Daging dan telur dimakan. Sedangkan karapasnya dikeringkan, lalu dijual Penyu hijau merupakan jenis yang sering ditangkap, karena mudah didapati.

Nus Yamlain, seorang warga Dobo mengakui hal itu. Setiap hari, daging penyu dijual di pasar lokal. Tetapi kata dia, tidak semua warga Aru mengonsumsi penyu. Bukan makanan utama.

“Kalau mau makan, saya beli dari penjual di pasar lokal. Tapi tidak banyak warga yang makan penyu,”ungkap Nus saat dikonfirmasi lewat seluler.

Perdagangan penyu yang dilarang ini, bukan hanya di Aru dan sekitarnya. Tetapi juga diekspor ke Bali dan Surabaya serta beberapa daerah lainnya di Indonesia.

Beberapa tahun lalu, tutur Sonny, perdagangan penyu marak dilakukan. Bahkan pengusahan dari luar mendatangi Aru untuk membeli secara langsung dari nelayan.

Biasanya dikirim ke luar negeri seperti Hongkong dan beberapa negara lainnya melalui Surabaya. Sekarang tidak lagi, karena para pengusaha telah kembali ke Surabaya.

“Pengusaha-pengusahanya sudah ke Surabaya. Saat ini, hanya warga lokal menjual di pasar karena keterdesakan ekonomi, ”ungkap Sonny.

Sayangnya, penangkapan dan perdagangan penyu hijau ini tidak diawasi secara ketat oleh instansi terkait, lain DKP, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), polisi perairan, angkatan laut maupun DKP. Di pulau Enu, memang telah dibangun mercusuar. Namun jarang ada petugas yang berjaga serta tidak ada papan larangan.

Sonny mengatakan, Enu sudah seperti pulau mati. Orang hanya datang ke pulau itu untuk mengambil telur atau menangkap penyu, lalu pergi begitu saja.

Kondisi tanpa pengawasan ketat ini, melonggarkan kesempatan bagi warga untuk mencuri satwa yang dilindungi ini. Nelayan dari Sulawesi juga menyinggahi pulau Enu untuk mengambil telur penyu dan penyu.

“Tahun lalu saya ke pulau Enu dan menyaksikan sendiri, bahwa Enu sudah seperti pulau yang terlantar. Karena memang tidak ada aktivitas apa-apa di sana. Biasanya para nelayan asal Sulawesi juga menyinggahi pulau itu untuk mengambil telur penyur,”papar dia, meyakinkan.

Kepala Resort BKSDA Kepulauan Aru, Timotius Elwarin mengatakan, pihaknya tidak melakukan pengawasan. Karena, Cagar Alam Laut Aru Tenggara yang luasaya 114 Ha sesuai keputusan menteri itu, sudah diserahkan kepada DKP.

Terancam Punah
Penyu merupakan hewan yang dilindungi Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Hayati dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 Pemanfaatan Jenis tumbuhan dan satwa liar. Larangan ini dikuatkan dengan Surat Edaran dari Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP)nomor 526/MEN-KP/VII/2015 Tantang pelaksanaan perlindungan penyu, telur, bagian tubuh, dan ataun produk turunannya.

Perlindungan ini dilakukan, setelah organisasi dunia melakukan penelitian dan investigasi yang menemukan penurunan jumlah penyu. Dikutip dari KBN ANtara.com, Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara 2010, menemukam 13 ekor Penyu Hijau yang diikat dan terlentang di pulau Enu. Hanya sembilan ekor yang berhasil yang diselamatkan. Sisanya, empat ekor mati karena lemah dan tak bisa berjalan.

Sonny mengatakan, penyu hijau yang ditangkap di pulau Enu itu memiliki ukuran cangkangnya antara 50-70 centi meter. Itu berarti baru berumur sekitar 20 tahun. Hanya satu penyu saja yang ukuran cangkangnya sekitar 30 tahun.

Prediksi yang sama disampaikan Robiandi dari Lokal Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong Satker Ambon. “Kami belum punya data populasi dan individu penyu hijau di Aru. Tapi, dari perkembangan berita yang kami dapati, memang diduga terjadi pengurangan populasi,”kata Robiandi.

Penegakan Hukum
Penangkapan penyu di pulai Enu tersebut, kata Barnabas yang juga peneliti di Lembaga Penelitian Universitas Pattimura itu, sudah termasuk katagori pembataian, karena lebih dari 10 ekor dan dilakukan secara sengaja. Berbeda, jika hanya terjerat alat pancing nelayan atau disebut tangkapan sampingan (bycatch).

“Penangkapan dalam jumlah lebih dari 10 ekor di tempat peneluran,itu sudah pembataian,”jelas Barnabas.
Kapolres menegaskan, proses hukum terhadap pembantai penyu tetap dilakukan. Pasalnya, akui dia, selama ini tidak ada tindakan hukum sebagai efek jerah. “Tindakan hukum tetap diambil, sehingga bisa menjadi efek jerah. Karena penyu itu satwa langkah yang perlu dilindungi.”tegas dia. (**)

Most Popular

To Top