Ledrik Sinanu Divonis 1,6 Tahun – Ambon Ekspres
Amboina

Ledrik Sinanu Divonis 1,6 Tahun

AMBON, AE.––Pengadilan Tipikor Ambon menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Ledrik Herold Sinanu selama 1 tahun 6 bulan penjara. Dia juga dibebankan membayar denda sebesar Rp 50 juta dengan subsidair satu bulan kurungan.

Terdakwa selaku Pejabat Pelaksana Tekhnis Kegiatan (PPTK) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah secara bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi anggaran kegiatan Training of Trainers (TOT) guru dan anggaran kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) tahun 2013 sebesar Rp 200 juta lebih dari total anggaran dua kegiatan itu sebesar Rp 3.168.022.850.

“Perbuatan terdakwa Ledrik Herold Sinanu terbukti melanggar pasal 3 jo pasal 18 ayat (1) huruf b UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP,” ucap ketua majelis hakim R.A. Didi Ismiatun yang didampingi dua hakim anggota Samsidair Nawawi dan Benhard Panjaitan saat membacakan amar putusannya di Pengadilan Tipikor Ambon, Jumat (24/2).

Dalam amar putusan, terdakwa Ledrik Herold Sinanu tidak dibebankan membayar uang pengganti. Sebab yang bersangkutan telah mengembalikan seluruh kerugian keuangan negara sebesar Rp 200 juta lebih kepada penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, saat kasus ini masih bergulir ditahap penyidikan.

Majelis hakim dalam pertimbangannya juga menguraikan, terdakwa terbukti bersalah secara bersama-sama dengan Benjamina Dortje Louisa Puttileihalat alias Lou, bendahara kegiatan Merry Manuputty, Bendahara Disdikpora Kabupaten SBB Edwin Pattiasina dan Kepala Disdikpora Kabupaten SBB, Fransyane Puttileihalat alias Nane yang saat itu menjabat Kepala Bidang Pendidikan Dasar melakukan tindak pidana korupsi.

“Untuk keterlibatan Fransyane Puttileihalat alias Nane tidak memiliki bukti, namun dari keterangan saksi-saksi yang dihadirkan dalam persidangan dibawah sumpah, menjadi petunjuk bagi majelis hakim mempertimbangkan bahwa Nane Puttileihalat turut bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi,” tandas hakim R.A. Didi Ismiatun.
Usai pembacaan putusan, terdakwa melalui penasehat hukumnya Jack Wenno menyatakan pikir-pikir. Begitupun JPU.

Diketahui, Nane dalam keterlibaatanya atas perkara tersebut berdasarkan uraian keterangan saksi-saksi dipersidangan. Misalkan saksi Merry Manuputty yang dalam kesaksiannya mengatakan dirinya diperintah Nane untuk membayar honor kepada peserta, moderator dan fasilitator kegiatan TOT. Jumlah honor yang ternyata telah “disunat” itu diberikan kepada peserta sesuai yang telah ditentukan Nane.

Anggaran untuk TOT yang merupakan satu dari empat item sosialisasi K13, sebesar Rp 1,2 miliar. Selain itu, saat membayarkan honor, Merry mengetahui jika honor tersebut tidak sesuai dengan Daftar Pembayaran Anggaran (DPA) yang dipegangnya.

Sementara saksi Edwin Pattiasina mengungkapkan, selaku bendahara pernah memberikan uang sebesar Rp 40 juta kepada Nane di rumah Nane. Saat uang itu diserahkan disaksikan Ledrik Sinanu dan Abraham Tuhenai.

Kemudian dalam kesaksian Abrham Tuhenay mengatakan dari dana kegiatan TOT sebesar Rp 900 juta pernah diberikan kepada Nane di rumahnya yang beralamat di Wayame atas perintahnya. Terhadap dana tersebut, Nane mengatakan dia mengatur dana tersebut.(MG1)

Most Popular

To Top