Menakar Kekuatan Duet Assagaff-Ruhulessin – Ambon Ekspres
Politik

Menakar Kekuatan Duet Assagaff-Ruhulessin

AMBON, AE— Upaya konfigurasi Herman Adrian Koedoeboen-Abdullah Vanath sebagai bakal calon Gubernur dan wakil Gubernur Maluku 2018, membuat Said Assagaff berhati-hati menentukan balon wakilnya. Pasalnya, meski jadi calon gubernur incumbent, kemenangan Assagaff juga sangat ditentukan oleh wakilnya.

Informasi yang dihimpun Ambon Ekspres menyebutkan, ada 10 nama bakal calon wakil gubernur yang tengah disurvei oleh Tim Said Assagaff. Dari kalangan birokrat, politisi, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Rencananya, survei ini akan dirilis secara internal April mendatang.

Nama mantan ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pendeta John Ruhulessin juga masuk dalam radar Assagaff. Selain dengan latar belakang tokoh agama, Ruhulessin juga berpengaruh dalam kemenangan Walikota dan wakil Walikota Ambon 2017.

Di sisi lain, Assagaff menyadari kuatnya Koedoboen-Vanath, bila mereka berpasangan. Oleh karena itu, dia perlu figur wakil yang kuat dan bisa menyeimbangani duet Koedeoboen-Vanath.

Direktur Indonesia Research dan Strategy, Djali Gafur mengaatakan, saat ini masih sulit untuk memprediksi konfigurasi mana yang kuat dan berpeluang menang. Selain tahapan Pilgub yang masih lama, juga belum ada survei mengenai hal itu.

“Tetapi saya memprediksi, untuk Pilgub kali ini, akan bertarung dua pasangan,”kata Djali kepada Ambon Ekspres, Selasa (28/2).

Jika yang bertarung adalah duet Herman Adrian Koedoeboen-Abdullah Vanath (HK-AV) dan Said Assagaff-John Ruhulessin (SA-JR), dia memprediksi, HK-AV yang berpeluang menang. Dari sisi popularitas dan penerimaan publik, HK-AV akan lebih unggul karena mereka pernah bertrung sebelumnya.

“Sementara SA mengandeng Tokoh Agama. Bahwa memang benar ada basis militan yang slama ini sudah teruji, namun memilih Gubernur-Wagub itu satu paket. Perlu mempertimbangkan sisi representasi wilayah, ”jelas Djali.
Dari aspek kewilayahan atau geo-politik, HK-AV cukup kuat. Karena mereka berasal dari dua entitas keadaerahan, yaitu Tenggara dan Seram yang selama ini dikenal punya relasi yang solid.

“Semangat kewilayahan ini anyg justru paling kentara bisa dilihat. Maka HK-AV akan lebih dominan,”paparnya.
Sementara dari sisi elektabilitas, dia belum menakarnya. Elektabilitas dapat diukur manakala koalisi partai politik telah terbentuk dan gaya komunikasi kandidat mulai terlihat di publik.

Sedangkan kekuatan finansial, sesuai informasi yang dia peroleh, HK-AV disokong cukong besar. Ada investasi jangka panjang yang lebih percaya bisa terealisasi bila HK-AV bersanding.

“Dan bila ini benar-benar terjadi, maka SA bakalan kewalahan. Apalagi salah memilih pasangan, tren patahana tumbang itu bisa saja terjadi,”pungkasnya.

Sementara itu, pengamat Politik FISIP Universitas Pattimura (Unpatti), Paulus Koritelu mengatakan, formasi kandidat Said Assagaff-John Ruhulessin merupakan perpaduan politik yang cukup berpeluang. Kekuatan politik birokrasi, partai politik dan agama menjadi senjata bagi kedua figur jika berpasangan.

“Dengan formasi ini, maka akan ada pertarungan yang sangat menarik. Karena untuk Said Assagaff-Jhon Ruhulessin akan terjadi kolaborasi birokrasi, kekuatan agama dan kerja partai politik,”ujar Koritelu.

Sementara untuk pasangan penantang Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath, akan mengandalkan kekuatan etnisitas dengan militansi yang kuat untuk bertarung dalam Pilgub mendatang. Ini merupakan nilai lebih bagi mereka.

“Asalkan, Vanath mampu mengkondisikan secara internal kekuatan SBT sebagai jaring-jaring kerja politik. Entah dalam bentuk relawan atau sebagainya,” jelas Koritelu yang juga Ketua Program studi Sosiologi Unpatti ini.
Tapi menurut dia, formasi kandidat itu belum dapat dipastikan dan berpotensi berubah.

Ada kemungkinan PDIP menyodorkan Ketua DPD PDIP Maluku yang juga Ketua DPRD Maluku Edwin Huwae sebagai wakil gubernur berpasangan dengan Said Assagaf.

Sehingga, lanjut dia, jika dipadukan, maka kolaborasinya akan tetap berbasis agama. Namun nilainya berkurang. Kerja politik yang ditambah dengan kekuatan birokrasi menjadi mesin penggerak kemenangan.

“Memang itu sangat sulit, jika PDIP mau bergaening dengan Golkar untuk posisi wakil. Maka akan meruntuhkan sebuah tradisi persaingan politik dalam peradaban politik orang Maluku.

Karena PDIP juga memiliki akar persaingan politik, yang jika kalah dengan martabat ketimbang menang dengan kehilangan wibawa dalam peradaban politik di Maluku. Apalagi PDIP merupakan partai pemenang pemilu,” ujarnya.

Pengamat politik Unpatti lainnya, Johan Tehuayo menilai, formasi Said Assagaff-Jhon Ruhulessin masih dalam konteks wacana publik dalam rangka melihat figur yang ingin berkompetisi dalam pilgub. Wacana ini akan mendapat respon publik dan menjadi perbincangan untuk dipromosikan oleh partai politik.

Sementara untuk Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath, lanjut Tehuayo, merupakan figur yang mempresentasikan masyarakat Maluku Tenggara dan etnis Seram. Kemudian, keduanya sama-sama pernah mencalonkan diri pada pilgub sebelumnya.

“Dan jika seandainya Koedoeboen dan Vanath benar, maka dari sisi figuritas secara individual sangat berpengaruh. Namun dari aspek kelembagaan parpol harus didudukung parpol untuk memenuhi persyaratan pendaftaran,” terangnya.

Dari lain sisi, menurut dia, Assagaff tidak mungkin mengandeng tokoh agama sebagai wakil. Apabila Assagaff tidak menemukan wakil yang memiliki nilai jual yang bagus dari luar, ia akan menggandeng kembali kader Golkar, termasuk Zeth Sahuburua.

Dinamika birokrasi Maluku memberikan ruang untuk Assagaff-Sahuburua memimpin periode berikut. Karena masih memiliki sinergi sangat baik antara gubernur dan wakil maupun keduanya dengan pimpinan SKPD di Maluku dan legislatif lokal. Memang dari sisi representasi masyarkat kepulauan tidak signifikan, tapi dari sisi kepartaian kedua figur ini didukung Golkar” pungkasnya. (TAB/ISL)

Most Popular

To Top