Memilih Pasangan, Berhitung Peluang – Ambon Ekspres
Ragam

Memilih Pasangan, Berhitung Peluang

AMBON, AE– 16 orang di survei Said Assagaff untuk dijadikan wakilnya. Banyak? tentulah. Memilih pasangan, bukan hal mudah. Karena itu, butuh banyak kandidatnya. Siapa memiliki elektabilitas tertinggi, akan dipilih Gubernur Maluku ini untuk bersamanya bertarung. Bertarung dengan calon gubernur lainnya.

Tak gampang memang untuk dipilih Assagaff. Dia paham betul, untuk kembali berkuasa, calon wakilnya harus punya basis massa. Basis di pemilih Kristen, karena wakilnya memang akan dipilih figure yang beragama Kristen. Situasi ini tak wajib, tapi kemudian menjadi wajib.

Format calon Islam-Islam akan kecil mendapat suara pemilih Kristen, calon Kristen-Kristen juga akan kecil mendapat suara pemilih Islam. Karena itu, formatnya menjadi wajib Islam-Kristen atau Kristen-Islam. Karena itu, Assagaff mencari pasangannya yang punya basis dan pengaruh besar di pemilih Kristen.

Siapa yang akan dipilih? Kata Assagaff, kita lihat survei. Tapi boleh jadi, yang dipilih bukan dari 16 orang yang akan disurvei. Kenapa? Melihat format pasangan lain, juga menjadi hal penting dalam menentukan langka strateginya. Lalu, kekuatan lawan. Kemudian, siapa pengatur kemenangan lawan.

Selain Assagaff, nama Herman Koedoeboen, Komaruddin Watubun, Murad Ismail, bahkan Tagop Soulisa juga disebut akan ikut bertarung. Herman berencana menggandeng Abdullah Vanath, Tagob yang Bupati Buru Selatan, katanya akan bergandengan dengan Mercy Barends. Sementara Murad dan Komar lagi-lagi belum terlihat formatnya.

Dari lima figur bakal calon gubernur, paling yang akan bertarung tiga pasang. Kalau empat, mungkin saja. Tiga sudah pasti. Siapa tiga pasangan ini? Said Assagaff juga sudah pasti. Assagaff berharap ada dukungan dari PDIP. Karena itu, nama Edwin Huwae mengemuka. Tapi apakah dia punya basis besar?

Terpilih menjadi anggota DPRD Maluku, menjadi visualnya. Itu modalnya. Wajar namanya muncul, apalagi ada gerbong PDIP. Lalu bagimana peluangnya mendapat perahu banteng moncong putih itu? Kata Tobyhend Sahureka, semua kader yang ingin maju punya peluang sama. Tergantung elektabilitas. PDIP ingin menang. Ingin rebut kembali kursi Gubernur, setelah kader Golkar merebutnya.

Ada tiga kader PDIP ingin menjadi Gubernur. Komar, Herman, Tagop atau Mercy. Herman empat tahun lalu maju, dan kalah. Tapi yang memilihnya cukup banyak. Dia kalah di urutan ketiga. Kalah dari Assagaff dan Abdullah Vanath diurutan kedua. Kali ini Herman ingin maju berpasangan dengan Vanath. Herman dari Maluku Tenggara dan Vanath yang putra Seram, disebut menjadi format lawan kuat Said Assagaff.

Format Herman-Vanath, dibilang akan mendulang banyak suara dari pemilih Kristen, juga pemilih Seram loyalis Vanath. Loyalis Herman juga ada pada pemilih Maluku Tenggara Raya. Empat tahun lalu, di daerah pemilihan Kota Ambon, Herman juga sapu bersih suara di pemilih Kristen. Jika ini berulang, pasangan ini bakal menjadi batu sandungan bagi calon lain.

Lalu bagimana dengan Komar? Untuk mendapat perahu PDIP, peluang Komar besar. Selain diberi kuasa mengurus PDIP di Papua dan Maluku, Komar juga dekat dengan Megawati. Ada yang bilang putusan Mega di Timur, bergantung pada masukan Komar. Jadi, kalau hitung peluang diantara kader PDIP, Komar cukup besar dibanding kader banteng lainnya. Hanya saja soal elektabilitas, belum tentu. Apalagi dia berasal dari dapil Papua.

Tagop juga kader PDIP, Mercy juga anggota DPR dari PDIP. Tagop tidak bisa berharap pada Buru Selatan yang hanya punya pemilih 30 ribu lebih. Angka ini bahkan hanya separuh dari pemilih di Desa Batu Merah. Dia butuh sosialisasi keluar Bursel. Mercy justeru punya basis suara besar saat terpilih menjadi wakil rakyat.

Tapi itu pemilu legislatif, beda dengan Pilkada. Dua momentum politik ini, membentuk pola memilih yang berbeda dari pemilih.

Bila kemudian ada tiga pasangan, dan yang bertarung itu kandidat Gubernurnya muslim semua, Assagaff akan jauh berpeluang untuk menang. Namun kalau tiga pasangan dan hanya ada satu pasangan dengan format Kristen-Islam atau Herman-Vanath, peluang kemenangan justeru terbuka buat pasangan ini.

Lalu bagimana peluang Komar atau Murad? Mereka butuh kerja keras. Yang harus diingat kerja politik, bukan tidur saat malam, bermimpi, bangun lalu ingin menjadi gubernur. Kerja politik butuh waktu panjang. Vanath saat pilgub empat tahun lalu memang berhasil mematahkan teori ini, karena dia berhasil membangkitkan rasa kedaerahan pemilih Seram dan dapat simpati pemilih Kristen.Sekarang apa bisa? Belum tentu. Karena itu, dia cukup tau diri.

Bicara sekarang, orang akan bilang Assagaff lebih kuat, karena belum ada format pasti, meski sudah ada bayangan figurnya. Munculnya Herman-Vanath, perbincangan kekuatan juga berubah. Karena kehadiran keduanya juga tak pernah diperkirakan. Lalu kemudian wacana pilgub menjadi ramai. Apalagi prosesnya sudah mulai tahun ini. Dan akan dipilih tahun depan. Siapa yang ingin dipilih, mulai sekarang rajin-rajinlah senyum dan membagi.(@)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!