Edwin Siap Digandeng Assagaff – Ambon Ekspres
Politik

Edwin Siap Digandeng Assagaff

AMBON, AE.––Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Maluku Edwin Adrian Huwae mengaku, kemungkinan koalisi PDIP dan Golkar cukup terbuka. Namun, beberapa analis justru menilai, koalisi partai dengan sebutan merah dan kuning itu sulit terjadi. PDIP, tidak mau kehilangan kekuasaan.

Kepada wartawan di Kantor DPRD Maluku, Rabu (15/3), Edwin mengatakan, koalisi Golkar dan PDIP belum pernah terjadi pada pilkada Gubernur Maluku. Tapi pilkada Bupati dan Wakil Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Maluku Tengah dan Buru justru kedua partai ini berkoalisi.

Oleh karena itu, menurut Edwin, kemungkinan Pilgub 2018 bisa terjadi hal yang sama. “Dalam konteks 2018, saya kira bisa saja PDIP akan berkoalisi dengan partai manapun termasuk Golkar. Dan untuk Golkar sendiri sudah dibuktikan tahun 2017 ini. Dimana untuk Pilkada Kabupaten Buru kami berkoalisi dan hasilnya kita keluar sebagai pemenang,” ujar Edwin.

Seperti diketahui, tim konsultan bakal calon gubernur Said Assagaff tengah menyurvei 16 bakal calon (balon) wakil gubernur. Sejumlah kader PDIP, yakni Edwin Huwae, Bupati MTB Bitzael Silvester Temar, anggota DPR RI asal Aru Mercy Barends dan Bupati MBD Barnabas Orno masuk survei.

Sementara Edwin sendiri juga dikabarkan telah membangun komunikasi dengan Assagaff. Edwin mengaku siap, jika dipinang oleh Assagaff sebagai balon wakil gubernur. “Saya kira selaku kader PDIP pasti tunduk terhadap mekanisme aturan partai. Dan siapapun yang ditunjuk DPP, tetap dijalankan. Jika dipercayakan oleh pak Assagaff sebagai wakil, sudah pasti siap,” katanya.

Terkait komunikasi, dia tidak mau mengumbar ke publik. “Kalau soal komunikasi, ya itu hal yang tidak perlu diumbarlah. Pada prinsipnya ada hal-hal yang perlu saya sampaikan, dan ada juga yang tidak perlu saya sampaikan saat ini ke publik,” kunci Ketua DPRD Maluku itu.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD I Golkar Maluku Bidang Pemenangan Pemilu Maluku Tengah, Hairuddin Tuarita yang mengatakan, dari aspek kepentingan Maluku ke depan, sebaiknya Golkar dan PDIP berkoalisi. Sebab, menurut dia, kepemimpinan Assagaff sebagai gubernur dan Edwin selaku ketua DPRD cukup berhasil.

Dia mengungkapkan, yang disampaikan Edwin kurang lebih sama seperti penyampaian Assagaff, bahwa ada kemungkinan koalisi Golkar-PDIP. “Penyampaian pak gubernur itu kan sifatnya masih secara umum untuk partai PDIP, bukan untuk kader ini dan itu. Nantinya dilihat hasil pada hasil survei, dan putusan PDIP sendiri seperti apa,” pungkasnya.

SULIT TERJADI
Pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti) Paulus Koritelu menilai, semua kemungkinan dapat terjadi untuk mendapatkan kekuasaan. PDIP bisa saja menyerah dan rela jadi balon wakil gubernur dengan catatan akan memimpin setelah periode kedua Assagaff berakhir.

“Tetapi dengan catatan lima tahun yang akan datang, giliran PDIP jadi gubernur dan Golkar wakil. Kalau terjadi seperti itu, akan aman,” kata Koritelu.

Akan tetapi, kedua partai tetap bertarung, maka sejarah perebutan kekuasaan eksekutif partai merah (PDIP) dan kuning (Golkar) di Maluku terus berlanjut. “Kalau memang skenarionya seperti itu, maka PDIP ingin mempertahankan pertarungan politik merah versus kuning,” tambah dia.

Menurut Direktur Indonesia Research dan Strategy (IRS) Maluku, Djali Gafur, koalisi Golkar-PDIP sulit terjadi. Kultur dan sejarah politik kedua partai ini tidak memberi jalan. “Bila melihat peluang sepertinya, sulit ya. Politik juga kadang digerakan oleh kultur politik. Jadi selama ini belum pernah ada koalisi Golkar-PDIP,” kata Djali.

Selain faktor kultur politik, PDIP akan turun kelas apabila pada akhirnya rela menjadi ‘ban serep’ dalam pemerintahan Maluku periode 2018-2023. Di sisi lain, PDIP adalah partai petarung. Belum lagi faksi yang menajam di internal.

“Ada yang mau nomor 2, ada juga yang mau nomor 1. Faksi-faksi itu sudah nyata terbaca oleh publik. Jadi, jika benar PDIP hanya berani ambil nomor 2 dan berpsangan dengan SA (Said Assagaff), maka sesungguhnya jadi turun kelas, partai folower-medioker. Sementara kader dan simpatisan di basis punya mental petarung,” jelasnya.

Tapi mengapa Assagaff membuka pintu komunikasi, bahkan menyurvei kader PDIP ? Menurut Djali, kemungkinan untuk memperlemah posisi Herman Koedeoboen dan Abdullah Vanath yang diisukan juga mengincar rekomendasi PDIP.

Namun, pintu PDIP bukan melalui Edwin. Edwin bisa saja pasang badan ke Assagaff, tapi kekuatan politik dan figuritasnya masih lemah. “Kemungkinan itu kan selalu ada, tapi bukan Edwin yang menentukan. Secara parpol kita lihat banyak yang kecewa dengan kepemimpinan Edwin, karena banyak pilkada PDIP kalah. Kan jadi riskan,”paparnya.

Pendapat senada disampaikan Direktur RESCO, Jais Patty dengan hipotesis, telah muncul banyak kader PDIP yang maju sebagai calon gubernur maupun wakil. Koalisi dapat terjadi, bila PDIP dalam posisi tertekan. “Dengan adanya beberapa kader PDIP yang telah muncul, kemungkinan kecil PDIP akan berkoalisi dengan Golkar.

Menurut saya, kalau PDIP sampai merapat ke Golkar, kecuali kondisi politik menekan untuk memungkinkan koalisi terjadi, ”kata Jais.(WHB/TAB)

Click to comment

Most Popular

To Top