Aparat Gabungan “Kuasai” Gunung Botak – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Aparat Gabungan “Kuasai” Gunung Botak

NAMLEA, AE.––Aparat keamanan akhirnya berhasil mengosongkan kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru dari aktifitas penambang, Senin (20/3). Lokasi tersebut kini sudah tidak ada lagi aktifitas penambangan. Kini lokasi kaya kandungan emas itu “dikuasai” aparat gabungan TNI/Polri dan Satpol PP.

Pengosongan dilakukan berdasarkan instruksi Gubernur Maluku Said Assagaf.  Hari pertama penyisiran sesuai agenda berhasil dilakukan. Penambang liar sudah tidak tampak di Gunung Botak.  Bahkan kios-kios pedagang juga sudah dibersihkan.

Salah satu masyarakat adat Desa Wamsait, Kabupaten Buru, Agil Wamese mengatakan, seluruh penambang sudah meninggalkan Gunung Botak beserta barang-barang mereka. Para  pedagang juga sudah membongkar sendiri kios-kios mereka dan meninggalkan lokasi tambang. “Iya benar,  Gunung Botak sudah kosong dari penambang dan pedagang.  Kini hanya ada aparat yang ada di lokasi tambang Gunung Botak,” ujar dia.

Wamese mengatakan, masyarakat sudah tidak bisa lagi naik atau masuk ke areal penambangan emas.  Mereka akan dihadang aparat aparat keamanan. ‘’Jadi penambang dan masyarakat adat juga sudah tidak bisa masuk ke areal lokasi tambang karena semuanya sudah diduduki aparat keamanan,’’ terang dia.

Sementara informasi Ambon Ekspres menyebutkan, penambang liar yang berasal dari luar Pulau Buru belum seluruhnya meninggalkan Kabupaten Buru.  Sebagian besar dari mereka masih menumpang tinggal di rumah-rumah warga sambil menunggu jadwal kapal untuk kembali ke kampung halaman masing-masing.

Abdul Malik, salah satu penambang asal Halmahera, Provinsi Maluku Utara mengatakan, dirinya ingin pulang kembali ke kampung halamannya. Namun, karena keterbatasan keuangan, dirinya harus menumpang hidup di rumah kerabat sambil menunggu sampai memiliki uang untuk kembali ke kampungnya.

‘’Saya mau kembali ke Halmahera. Tapi masih tunggu jadwal kapal dan masih kumpul-kumpul uang untuk pulang,’’ terangnya kepada Ambon Ekspres di Namlea.

Pantauan koran ini, belum ada lonjakan penumpang seperti kondisi dimana adanya pengosongan lokasi tambang yang sudah dilakukan lebih dari 10 kali sejak tahun 2013 lalu.  Kondisi dermaga Namlea masih seperti biasa dan tidak terjadi pelonjakan penumpang ataupun penumpukan penumpang di Dermaga Namlea.

Diketahui, penutupan ini dilakukan karena berbagai pertimbangan. Diantaranya karena penambangan emas tanpa izin ini menimbulkan dampak terhadap kerusakan alam karenakan eksplorasi dan eksploitasi tidak bertanggung jawab serta masih adanya penggunaan bahan kimia berbahaya (cianida dan mercury).

Sebelumnya, warga adat setempat sempat menolak upaya penutupan tambang oleh pemerintah. Mereka sampaikan penolakan itu dihadapan beberapa anggota DPRD Maluku yang mengunjungi kawasan itu, Sabtu (20/3).

Mereka juga memohon kepada pemerintah dalam hal ini Gubernur Maluku dan Penjabat Bupati Buru agar menghentikan kedatangan aparat keamanan atau BKO di kawasan itu. Menurut mereka, warga setempat dan penambang bukan bukan teroris sehingga pemerintah harus menurunkan ratusan anggota TNI/Polri untuk memback-up lokasi tambang Gunung Botak.

“Masyarakat Pulau Buru adalah warga NKRI yang slalu taat kepada aturan pemerintah sesuai dengan undang-undang. Sudah cukup masyarakat Pulau Buru menderita di tahun 2015 waktu terjadi pengusiran paksa penambang dari GB dan kini  hal itu akan kembali terulang lagi,’’ terang warga adat setempat dihadapan anggota DPRD Maluku.(DHE)

Most Popular

To Top