AT: Assagaff Prioritaskan Rekomendasi PDIP – Ambon Ekspres
Politik

AT: Assagaff Prioritaskan Rekomendasi PDIP

AMBON, AE.—Abdullah Tuasikal (AT) mengatakan, hingga kemarin, bakal calon Gubernur Maluku Said Assagaff belum memastikan siapa yang dia pilih sebagai balon wakil gubernur. Namun, Assagaff akan memprioritaskan balon cawagub yang mendapatkan rekomendasi PDI Perjuangan. “Mengulangi apa yang disampaikan SA (Said Assagaff), akan prioritaskan calon wakil yang mendapatkan rekomendasi dari PDIP. Siapa saja,” kata Tuasikal kepada Ambon Ekspres, Senin (20/3).

Mantan Bupati Maluku Tengah dua periode ini menyatakan, Assagaff tidak menyebutkan nama balon cawagub. Akan tetapi, menurut Tuasikal, apabila Golkar dan PDIP berkoalisi, maka pasangan yang diusung sangat berpeluang menang. “Tidak disebutkan nama. Andaikan terwujud, pasangan Golkar-PDIP sangat kuat. Sulit untuk dikalahkan,” tegas Tuasikal.

Mantan Ketua DPD Partai Golkar Maluku dan disebut sebagai ketua tim pemenangan Assagaff itu mengklarifiaksi pemberitaan Ambon Ekspres, Senin (20/3) bahwa dirinya menyebut nama Edwin Adrian Huwae adalah balon cawagub yang cocok berpasangan dengan Assagaff. Tuasikal mengaku, tidak mencampuri keputusan dan pilihan Assagaff.

SULIT BERKOALISI
Sementara itu, pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti) Johan Tehuayo mengatakan, Golkar dan PDIP tidak mungkin bisa berkoalisi untuk Pilgub Maluku. Alasannya, kedua partai ini memiliki kursi mayoritas di DPRD Maluku, yakni Golkar 6 kursi dan PDIP 7 kursi.

“Kalau terkait Golkar tidak berkoalisi dengan PDIP, karena masing-masing memiliki perolehan suara dan kursi yang mayoritas dan signifikan bagi DPRD Maluku. Sehingga masing-masing bisa menentukan paslon masing-masing,” kata Tehuayo.

Selain sama-sama memiliki kursi signfikan, Golkar lebih cenderung mempertahankan kekuasaan eksekutif. Sementara disisi lain, PDIP punya banyak elit lokal yang potensial diusung sebagai calon Gubernur Maluku untuk bertarung dengan kader partai Golkar dan parpol lainnya.

“Karena Golkar memiliki figur petahana, akan mempertahankan kekuasan politiknya di eksekutif Provinsi Maluku selama dua priode. Selain itu, PDIP memiliki figur atau elit politik lokal dan nasional yang bisa direkomendasikan untuk bertarung melawan paslon dari Golkar dan parpol lainnya,” jelas dia.

Kemudian, ideologi Golkar dan PDIP serta mekanisme rekrutmen calon kepala daerah yang berbeda. Ditambah dengan ego kekuasaan, membuat kedua partai ini sulit berkoalisi untuk mengusung paslon gubernur dan wakil gubernur.

Setahu dia, rekrutmen calon kepala daerah oleh Golkar dan PDIP berdasarkan hasil survei dan aspirsi dari jaringan partai. Kemudian, popularitas dan elektabilitas paslon. “Dan terutama terkait dengan perbedaan kepentingan elit dari kedua parpol. Oleh karena itu Golkar dan PDIP sangat tidak relevan untuk berkoalisi,” paparnya.

Tehuayo memperkirakan, PDI Perjuangan akan mengusung kadernya untuk berkompentisi dengan Golkar. Sementara Assagaff, kemungkinan menggandeng kader Golkar. “PDIP akan merekomendasikan kader potensialnya untuk berkompetesi dengan Golkar dan parpol lainnya. Assagaff kemungkinan akan menentukan wakilnya dari Golkar. Dan bukan kader PDIP atau parpol lainnya,’’ tandas dia.

Sebelumnya, Direktur Indonesia Research dan Strategy (IRS) Maluku, Djali Gafur mengatakan, koalisi Golkar-PDIP sulit terjadi. Kultur dan sejarah politik kedua partai ini tidak memberi jalan.

Selain faktor kultur politik, PDIP akan turun kelas apabila pada akhirnya rela menjadi ‘ban serep’ dalam pemerintahan Maluku periode 2018-2023. Di sisi lain, PDIP adalah partai petarung. Belum lagi faksi yang menajam di internal.

Menurut Djali, kemungkinan untuk memperlemah posisi Herman Koedeoboen dan Abdullah Vanath yang diisukan juga mengincar rekomendasi PDIP. Namun, pintu PDIP bukan melalui Edwin. Edwin bisa saja pasang badan ke Assagaff, tapi kekuatan politik dan figuritasnya masih lemah.(TAB)

Most Popular

To Top