Lingkar Perdamaian, Yayasan yang Menampung Para Mantan Kombatan – Ambon Ekspres
Ragam

Lingkar Perdamaian, Yayasan yang Menampung Para Mantan Kombatan

Para eks kombatan yang tergabung di Yayasan Lingkar Perdamaian ini termasuk orang-orang istimewa. Mereka punya kemampuan tempur di medan perang, ahli merakit bom, dan pernah menjadi teroris. Rabu (29/3) wartawan Jawa Pos KARDONO SETYORAKHMADI mengikuti pertemuan yayasan itu.

WAJAH Muhajir tampak semringah. Pertemuan dengan sejumlah mantan kombatan (kelompok militan yang mempunyai kemampuan tempur, umumnya diasosiakan sebagai bagian dari kelompok teroris) pagi itu dirasakan sebagai reuni. Maklum, sudah lama mereka tak bertemu muka. Maka, tak heran bila pertemuan itu menjadi ajang saling gojlok dan berbagi cerita.

’Itu jika antum (Anda) tidak bantu untuk lobi polisi, dia (Muhajir, Red) bisa jadi pengantin (bom bunuh diri, Red),’’ kelakar Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian Ali Fauzi kepada saya sesaat sebelum acara peletakan batu pertama pembangunan TPA (taman pendidikan Alquran) plus oleh Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius di Desa Selokuro, Lamongan, Rabu (29/3).

Saat menceritakan itu, Ali Fauzi dengan kocak melirik Muhajir yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. ’’Dia sudah putus asa. Mosok habis kena kasus terorisme, kena kasus penadahan HP,’’ imbuh adik Amrozi, salah seorang pelaku bom Bali I (2002), itu lalu tergelak.

Awal 2010, Muhajir yang saat itu punya bisnis jual beli ponsel bekas tersandung masalah. Tanpa disadari, Muhajir telah membeli ponsel curian. Kemudian, pelaku pencurian ditangkap polisi. Otomatis, Muhajir dianggap ikut terlibat dan dituduh sebagai penadah.

Berita itu terdengar hingga ke telinga Ali Fauzi, karibnya. Ali kemudian menghubungi saya. Kebetulan, saat itu saya masih bertugas meliput berita di lingkungan Polwiltabes Surabaya (kini Polrestabes Surabaya). Saya lalu menceritakan sosok Muhajir kepada Kasatreskrim Polrestabes Surabaya kala itu.

Saya menjelaskan, mantan pegawai Samsat Manyar, Surabaya, tersebut adalah eks kombatan yang sudah insaf dan sedang memperbaiki hidupnya.

Singkat cerita, Muhajir akhirnya dilepas setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi. ’’Ya, saya sempat merasa gimana gitu. Yang jelas, saya tidak pernah berniat berbuat jahat,’’ kata Muhajir.

Kisah seperti Muhajir itu banyak terjadi di kalangan ikhwan jihadi, sebutan para eks kombatan. Setelah keluar dari penjara, banyak mantan napi kasus terorisme yang bingung. Mereka sulit mencari pekerjaan dan kembali ke tengah masyarakat.

Para eks kombatan tersebut tidak hanya memulai dari nol, tapi bahkan dari minus. Sebab, akses mereka sebebas dari lembaga pemasyarakatan jadi terbatas. Menjadi mantan napi saja sudah mendapat stigma buruk, apalagi napi kasus terorisme. ’’Itulah yang menjadi concern saya,’’ kata Ali Fauzi.

Pria yang pernah ditahan dan disiksa militer Filipina saat masih ’’berjihad’’ tersebut kini memang menjadi jujukan para mantan napi kasus terorisme. Dengan segala latar belakangnya, Ali memang mengambil tanggung jawab untuk mengurusi kehidupan banyak eks napi kasus terorisme dan keluarganya.

Misalnya, Ali menanggung kehidupan janda dua kakaknya, Amrozi dan Ali Ghufron (yang menjadi pelaku bom Bali I dan kemudian dihukum mati bersama Imam Samudra) bersama anak-anaknya. Dia juga menjadi sandaran bagi kehidupan sekitar 50 eks kombatan yang pernah dilatihnya saat masih bergerilya di Poso dan Filipina Selatan. Saat masih berjihad, Ali pernah menjadi instruktur bagi 3.000 ikhwan jihadi di dua kawasan itu.

Di sisi lain, Ali bukan orang kaya. Dia memang memiliki usaha kecil-kecilan di rumah dan peternakan perkutut. Dia juga sering diminta menjadi narasumber diskusi, seminar, maupun riset, khususnya terkait dengan dunia terorisme. Karena itu, dia sering kewalahan untuk menghidupi banyak orang dan terus-menerus.

’’Jika tidak dibantu, bagaimana jika anaknya kelak kemudian meniru bapaknya? Siapa yang mau tanggung jawab? Ini harus dihentikan,’’ tandasnya.

Menurut Ali, program deradikalisasi tidak bisa hanya dilakukan dengan penindakan. Dia juga tidak menyalahkan lingkungan sosial yang kemudian mengucilkan serta menyudutkan keluarga napi kasus terorisme.

’’Tapi, harus diingat, ini bukan masalah benar atau salah. Jika keluarga eks teroris semakin dikucilkan, justru kebencian yang akan terpupuk dalam jiwa anaknya. Ini sama saja menumbuhkan bibit generasi teroris baru,’’ tuturnya.

Ali menyatakan, yang paling tahu psikis dan kejiwaan para eks napi terorisme ya para kombatan sendiri. Karena itu, dia kemudian berinisiatif mengumpulkan sejumlah eks kombatan yang sevisi dengan dirinya. Di antaranya, Anis Yusuf alias Haris, salah satu orang Indonesia yang kenal secara pribadi dengan pemimpin teroris dunia Osama bin Laden; Iqbal Hussein Thoyib, perencana bom ke Mabes Polri dan penyedia senjata untuk membunuh polisi; serta Soemarno, tetangga Ali Fauzi di Lamongan yang pernah masuk bui karena menyembunyikan ribuan pucuk senjata api.

Dari kumpul-kumpul itulah kemudian lahir Yayasan Lingkar Perdamaian yang bergerak dalam kampanye perdamaian dan melawan terorisme. Saat ini yayasan itu memiliki 60 pengurus di seluruh Indonesia.
’’Yayasan ini akan banyak berkeliling dari penjara ke penjara. Kami akan mengajak dialog para napi terorisme,’’ ujar Ketua Dewan Penasihat Yayasan Lingkar Perdamaian Anas Yusuf.

Yayasan itu juga bisa menjadi tempat jujukan bagi eks napi kasus terorisme untuk terjun ke tengah masyarakat lagi. ’’Ada sejumlah pengusaha yang berkomitmen akan memberikan pekerjaan atau memberikan sejumlah porsi pengadaannya,’’ tambahnya.

Perubahan radikal itu mendapat tentangan dari para ikhwan jihadi. Mereka dicerca dari mana-mana. Terutama dari kalangan ISISers (sebutan simpatisan dan pengikut ISIS di Indonesia). Ali Fauzi bahkan pernah mendapat surat langsung dari pengikut ISIS. Isinya memurtadkan Ali karena mau bekerja sama dengan pemerintah.

Tidak banyak yang tahu, pengikut ISIS di Indonesia memerangi Jamaah Islamiyah (JI) sebagaimana pengikut ISIS di Timur Tengah memerangi Al Qaeda. Meski sama-sama salafus shalih (mengacu pada hidup para alim ulama yang hidup hingga 300 tahun sesudah tahun Hijriah), dua tanzhim jihadi itu punya perbedaan mencolok pada sikap dan watak.

Jika Ali Fauzi dan JI tidak mengambil sifat takfiri (gampang mengafir-ngafirkan), ISIS lebih garang dan berpikir hitam putih. Jika tak mau berbaiat, halal bagi mereka untuk memusnahkannya.
’’Saya tak akan menanggapi yang seperti ini. Menguras energi saja,’’ kata Ali mengomentari pemurtadan dirinya oleh pengikut ISIS. (*/c5/ari)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!