Oknum Polisi Siksa Pelajar – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Oknum Polisi Siksa Pelajar

Dilaporkan ke Propam Polda Maluku

AMBON, AE—Sejumlah orang tua asal Desa Kamal, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menyambangi Polda Maluku, Jumat (31/3). Mereka mengadukan tindakan amoral oknum anggota Polres SBB terhadap 12 orang pelajar di daerah itu.

Para pelajar ini dipaksa makan sarung kaki yang diduga sudah dibasahi kencing manusia.Peristiwa ini bermula ketika terjadi perkelahian antara Bripda Julianus Pattiasina dengan 12 pelajar tersebut, Rabu (29/3) sekira pukul 15.00 WIT di Desa Kamal, Kompleks Tumokul. Perkelahian ini terjadi saat Julianus dalam kondisi mabuk. Dia juga mencari gara-gara.

Pasca kejadian, sekira pukul 17.00 WIT, satu truk polisi mendatangi Desa Kamal guna mencari pelaku penganiayaan. Anggota polisi ini dipimpin Kasat Shabara Polres SBB AKP Josias de Fretes. Saat itu polisi berhasil mengamankan Edwar Matanasi (15), salah satu pelajar.

Sedangkan 11 orang pelajar lainnya diamankan sehari setelah kejadian, Kamis (30/3) sekitar pukul 10.00 WIT di sekolah masing-masing. Saat itu mereka sedang mengikuti ujian semester. Dari SMA PGRI 4 Kairatu berjumlah 8 orang dan SMP 3 Karatu 1 orang. Mereka dibawa ke Polsek Kairatu Barat, selanjutnya ke Mapolres SBB.

Di polres, para pelajar ini pun disiksa. Mereka disuruh makan makanan yang telah dicampuri sisa rambut yang digunting oleh polisi. Tak hanya itu, mereka juga dipaksa memakan sarung kaki kotor yang diduga sudah di basahi air kencing.

Saat ini 8 orang siswa masih diamakan dan dipenjarakan Polres SBB. Sedangkan 3 pelajar SMP Josep Roupena (14), Marcelino Somokil (14), Librek Miru (14) diizinkan pulang untuk mengikuti ujian semester.

Tidak terima atas tindakan itu, sejumlah orang tua langsung mendatangi Bidpropam Polda Maluku, kemarin. Mereka mengadukan tindakan anggota Polres SBB terhadap anak mereka.

Librek Miru, siswa SMP kelas III saat ditanya Ambon Ekspres mengaku sebelum kejadian, dia bersama rekan-rekan mengeroyok oknum polisi tersebut. Awalnya mereka ke Waisarissa untuk mencari salah satu teman mereka yang sudah dua Minggu tidak sekolah.

Dalam perjalan pulang, mereka melihat Bripda Julianus Patiasina bersama beberapa rekannya sedang duduk dan mengkonsumsi minuman keras (miras). Sempat terjadi obrolan sepintas.

Setelah mereka pergi, entah apa yang terjadi, Bipda Julianus Pattiasina mengikuti para pelajar itu dari belakang menggunakan sepada motor hingga ke Desa Kamal Kompleks Timokul.

“Dia (Bipda Julianus Patiasina-red) sudah mabok. Dia kejar katong dengan motor dari Waisarissa sampai di Temokul. Di kompleks dia maki-maki undang bakalai lalu katong anak-anak sekolah pukul dia. Katong juga tidak tau kalau dia itu polisi. Polisi apa macam bagitu mabok baru maki-maki,” tutur Librek Miru di Mapolda Maluku.

Dia juga mengakui, setelah kejadian polisi datang mencari mereka sekitar jam 17.00 WIT. Hanya satu orang yang didapat Edwar Matanasi, SMA PGRI 4 Kairatu Klas I. Polisi juga sempat melepas tembakan gas air mata sebanyak tiga kali. Menurutnya, saat itu tidak ada perlawanan dari masyarakat setempat. ”Besok (Kamis-red) baru katong di amanakan di Polsek. Setelah itu baru dibawa ke Polres SBB,” katanya.

Setiba di Polres SBB, mereka di hukum jongkok. Mereka juga ditendang dari kaki. “Jadi katong disuruh makan sarung kaki. Setelah itu, sarung kaki itu dibawa kemana ? Lalu dibawa kembali sudah basah katong juga kembali disuruh makan.

Tapi sarung kaki sudah bau kencing sampai katong muntah-muntah. Katong diijinkan pulang untuk ikuti ujian sekolah. Nanti baru kembali ke Polres SBB. Dan ada polisi bilang jangan kasih tau ke orang kalau katong dihukum makan sarung kaki,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Haser Roupena (54) Ayah dari seorang siswa mengatakan, tidak menampik dengan tindakan penganiayaan yang dilakukan terhadap polisi tersebut. Namun, tindakan yang diberikan polisi terhadap anak-anak mereka sangat disayangkan dan tidak manusiawi.

“Kita besarkan anak kita tidak pernah memberikan makan mereka seperti itu, sangat tidak manusiawi. Jelas, kita orang tua tidak terima dan mersa tidak adil atas tindakan Polres SBB terhadap anak-anak kami, makanya kita datang ke sini (Polda) untuk melaporkan masalah ini agar bisa ditindaklanjuti,” tandasnya dengan kekesalan.

Dia berharap Kapolda Maluku bisa memproses anak buahnya sesuai dengan tindakan yang mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Kabid Propam Polda Maluku, AKBP Agus Sutrisno yang coba dikonfirmasi belum berhasil. Telepon yang dihubungi sementara tidak aktif. Pesan singkat yang dikirimkan belum juga dibalas.

Kabid Humas Polda Maluku AKBP Abner Tatuh yang dikonfirmasi Ambon Ekspres mengatakan, dirinya belum mengetahui laporan tersebut. Namun dia memastikan bila kasus itu dilaporkan ke Propam maka akan ditindaklanjuti sesuai aturan hukum yang berlaku. ‘’Nanti saya cek karena belum tahu ada laporannya. Namun yang pasti bila telah dilaporkan tetap akan ditindaklanjuti,’’ singkat dia.(ERM)

 

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!