Kisah Para Pembuat Ogoh-Ogoh dari Karang Taruna Hindu Sidoarjo – Ambon Ekspres
Ragam

Kisah Para Pembuat Ogoh-Ogoh dari Karang Taruna Hindu Sidoarjo

Setiap tahun pengurus Pura Jala Siddhi Amertha, Juanda, membentuk tim
pemuda pembuat ogoh-ogoh. Tahun ini tim yang beranggota 25 orang tersebut membuat tiga ogoh-ogoh sekaligus.

HUJAN rintik-rintik turun membasahi Pura Jala Siddhi Amertha, Juanda, saat beberapa pemuda datang silih berganti melewati gapura pintu masuk Minggu (2/4). Mereka mengenakan pakaian adat Bali. Yang pria mengenakan udeng di kepala dan kain poleng beraneka warna. Kain itu dikenakan mirip sarung. Yang perempuan mengenakan jarit lengkap dengan kemben yang melilit di perut.

Mereka langsung menuju aula yang berdiri megah di utara pura. Aula tersebut berhias ukiran dewa dewi Hindu di bagian panggung dan tiang-tiangnya. Salah satu pemuda yang hadir saat itu adalah Made Rai Lintang. Dia adalah ketua tim pembuat ogoh-ogoh Pemuda Karang Taruna Hindu Sidoarjo. Sebenarnya ada banyak anggota Karang Taruna Hindu Sidoarjo. Namun, hanya 25 orang yang tergabung dalam tim pembuat ogoh-ogoh dengan Lintang sebagai ketuanya.

Sore itu mereka, tampaknya, hendak melakukan upacara pembubaran tim pembuat ogoh-ogoh. Sesekali, Lintang terlihat melongok ke arah gapura pintu masuk. Dia terlihat masih menunggu kehadiran teman-temannya yang lain. ’’Ya sudah, kita lanjutkan saja,’’ ujarnya. Lintang bisa memaklumi keterlambatan beberapa anggota timnya. Profesi dan pekerjaan mereka, lanjut dia, beragam.

Setelah berdoa bersama, Lintang memimpin rapat evaluasi pembuatan ogoh-ogoh dalam rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1939 yang jatuh pada 28 Maret lalu. Gelak tawa sesekali terdengar di antara gemercik air kolam di sebelah aula.

Maklum, tahun ini merupakan tahun yang berbeda bagi mereka. Untuk kali pertama, sekumpulan remaja itu membuat tiga ogoh-ogoh sekaligus. Prosesnya dimulai sejak 24 Januari dengan melibatkan seniman yang didatangkan langsung dari Bali.

Lintang menceritakan, semangat kawan-kawannya untuk membuat tiga ogoh-ogoh pada perayaan Nyepi tahun ini muncul begitu saja. Mereka merasa para pemimpin saat ini terlampau leluasa menggunakan kekuasaan dan kurang memperhatikan keutuhan NKRI. Karena itu, salah satu ogoh-ogoh yang mereka buat bernama Leak NKRI. Ogoh-ogoh itu berwujud makhluk mistis yang menyerupai manusia.

Taring-taringnya keluar dari mulut. Rambutnya putih menjuntai hingga melebihi pantat. Dadanya yang besar tidak tertutup kain. Leak NKRI itu menyerupai perempuan yang hendak mencengkeram mangsanya.

Leak tersebut ditampilkan dalam posisi berdiri sedang menginjak seorang petani bercaping yang memegang celurit. Tingginya lebih dari 3 meter. ’’Itu lambang pemerintah culas yang menindas rakyat dan melemahkan orang miskin,’’ jelas Lintang berapi-api. Dua ogoh-ogoh lainnya adalah ogoh-ogoh Leak dan ogoh-ogoh Sangut.

Perawakan ogoh-ogoh Sangut cukup mengerikan. Dua gigi depan atas menjuntai melebihi bibir. Perutnya sedikit buncit dan mengenakan kain poleng kotak-kotak. Warnanya hitam putih. Wujud Leak setinggi 3 meter itu merupakan representasi mahluk rakus.

Sementara itu, Leak merupakan ogoh-ogoh tertinggi yang pernah dibuat di Sidoarjo. Tingginya lebih dari 5 meter dan merupakan perwujudan dari sosok perempuan bertangan empat. Bagian dadanya dibiarkan telanjang tanpa tertutup kain. Bagian bawahnya tertutup kain kuning. Dia tampak seperti sosok yang siap menerkam dengan taring keluar dari mulut dan jemari penuh kuku panjang. Bahan dasar ogoh-ogoh itu adalah anyaman bambu dan styrofoam.

Lintang menjelaskan, ogoh-ogoh dibuat sangat detail. Sebab, tim tersebut sepakat ingin membuat suatu seni yang lebih baik daripada sebelumnya. Tidak tanggung-tanggung, mereka mendatangkan beberapa kerabat dari Bali yang memiliki kemampuan mengukir dan merangkai kayu. ’’Tiga hari kami begadang. Desainnya dibantu saudara kami yang datang langsung dari Bali,’’ paparnya.

Selain dilecut keprihatinan terhadap situasi kebangsaan, para pemuda itu membidik posisi jawara Festival Ogoh-Ogoh Jatim yang kerap dihelat di kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya. Demi mencapai target tersebut, mereka berusaha total. ’’Termasuk malam mingguan kami,’’ ucap Lintang, lantas tertawa.

Beberapa minggu menjelang perayaan Nyepi, mereka sempat mendengar kabar buruk. Festival ogoh-ogoh yang rutin dilangsungkan setiap tahun tiba-tiba dibatalkan. Dihapus dari agenda perayaan tahun ini. Tidak jelas alasan atau pertimbangan dari pihak penyelenggara. Mereka kecewa dan bingung. Semangat pun sempat menciut. Pembakaran ogoh-ogoh yang dilakukan secara masal pun tidak jelas kabarnya.

’’Kami langsung lemes menerima kabar festival itu libur digelar tahun ini. Nggak tahu kenapa,’’ ujarnya. Namun, beberapa minggu kemudian terdengar kabar bahwa prosesi pembakaran ogoh-ogoh tetap dilangsungkan serempak, tetapi berpindah lokasi. Pembakaran ogoh-ogoh oleh umat Hindu di sekitar Surabaya dipusatkan di Jembatan Surabaya, Kenjeran, sehari sebelum Nyepi. ’’Mendengar hal itu kami langsung bersemangat kembali,’’ tuturnya.

Sebelum digiring menuju Kenjeran, tiga ogoh-ogoh tersebut diarak di sekitar persimpangan Pura Jala Siddhi Amertha. Mereka digoyang mengitari jalan-jalan untuk menyerap gelombang energi negatif.
Ogoh-ogoh Leak menjadi perhatian tersendiri. Selain paling tinggi, ogoh-ogoh tersebut ditopang setidaknya 15 orang.

’’Ketika bikin ogoh-ogoh itu beratnya mungkin nggak sampai 10 kilogram, waktu diangkat kok beratnya seperti lebih dari 100 kilogram. Berat banget pokoknya,’’ kata Lintang. Setelah diarak, semua ogoh-ogoh itu dibakar.
Meski begitu, ada dua ogoh-ogoh yang tidak habis dibakar. Bagian yang tersisa tetap disimpan. Yakni, kepala ogoh-ogoh Leak NKRI dan ogoh-ogoh Leak.

’’Sengaja kami simpan,’’ paparnya. Lintang dan kawan-kawannya meyakini selalu ada energi negatif dan positif di muka bumi. ’’Biarlah yang negatif dan positif itu berjalan beriringan dan dua kepala ogoh-ogoh yang disimpan tersebut menjadi pengingatnya,’’ jelas Lintang. Kepala dua ogoh-ogoh itu kini bersemayam di gudang penyimpanan. Tepat di belakang Aula Pura Jala Siddhi Amertha.

Celah waktu antara perayaan Nyepi dan Galungan, kata Lintang, merupakan waktu yang tepat untuk menyelenggarakan perpisahan tim pembuat ogoh-ogoh. Selain mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan sebelumnya, mereka sekaligus merapatkan perayaan Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu (5/4). Itu merupakan perayaan hari kemenangan Dharma atau kebenaran atas Adharma atau kejahatan.(JPNN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!