Tak Ada Panggung, Trotoar pun Jadi – Ambon Ekspres
Amboina

Tak Ada Panggung, Trotoar pun Jadi

AMBON, AE–Jumlah seniman di Ambon tak bisa dihitung dengan jari. Tapi, ruang bagi mereka untuk berkesenian, nyaris tidak ada. Trotoar di jalan Sam Ratulangi pun disulap jadi panggung berkesenian.

Hujan rintik membasahi kota Ambon, Kamis malam, 19 Januari 2017 sekira pukul 20.50 wit. Namun, tidak menyurutkan semangat puluhan orang muda yang menyiapkan panggung mini di depan Gong Perdamaian Dunia (GDP).

Diatas Tribun lapangan merdeka yang berjarak sekira 10 meter dari panggung, sekira 30 komunitas seni (performare) bersiap tampil. Berselang sekira setengah jam kemudian, hujan redah. Langit kota Ambon kembali terang.

Sound system dipastikan aktif dan normal. Lampu-lampu dinyalakan semua. Pembaca acara yang juga berasal dari komunitas, membuka dengan memperkenalkan kepada penonton tentang pentas malam itu.

“Malam ini merupakan pentas TrotoArt yang ke 14, setelah sekitar dua tahun vakum. Kita bersyukur, karena TrotoArt kembali digelar,”ucap pembawa acara, Mark Ufie.

Tak Ada Panggung

Pasca konflik 1999, grup-grup band, beragam komunitas sastra, seni, hip-hop, pecinta lingkungan dan dan beberapa komunitas lainnya menjamur di kota Ambon. Pada saat yang sama, hampir tidak ada ruang bagi mereka untuk berksenian.

Namun, fakta itu tidak menyurut hobby berksenian orang-orang muda ini. Grup-grup band, komunitas seni, sastra, hip-hop terus berkembang, dan menemukan ruangnya masing-masing. Beberapa tahun setelah konflik, barulah diadakan pentas seni.

Akan tetapi, dalam kurun waktu 2010-2011, tutur Victor, nyaris tidak ada lagi pentas seni dan festival di Ambon. Baik yang resmi dari pemerintah kota Ambon maupun kerja sama dengan swasta untuk menunjang Ambon sebagai kota musik.

Padahal, seniman dari ragam jenis melimpah di kota Ambon dan beberapa kota lainnya, seperti Masohi, kabupaten Tengah dan kota Tual. Jumlah personel atau anggota dan komunitas mencapai ratusan.

Victor Latuperissa dan Jandri Welson Pattinama yang bergabung dengan Ambon Band Community (ABC), mencoba menjembatani ketiadaan ruang berksenian itu lewat sebuah pentas seni jalanan. Diberi nama ‘TrotoArt’—suatu wadah untuk mereka berekspresi lewat seni.

“Karena minim panggung. Sementara kami ada banyak. Jadi kami ingin membuat panggung sendiri saja. Tanpa ada embel-embel,”tutur salah satu penggagas TrotoArt, Victor Latuperissa saat berbincang dengan Ambon Ekspres, 20 Januari.

Diberi nama TrotoArt, karena para penggagasnya sering berdikusi diatas trotoar jalan Sam Ratulangi—yang selanjutnya menjadi lokasi pentas. Juga karena bukan hanya musik, tapi ragam seni rupa dan tari juga diberi ruang di ‘TrotoaArt’.

Pada mulanya, TrotoArt sebenarnya merupakan sebuah pertunjukkan dalam pesta komunitas Ambon Face yang digagas pula oleh Victor dan beberapa temannya. Yang terdiri dari Road Show dan Festival Seni. Rencana itu tidak terlaksana, tapi pentas TrotoArt tetap digelar.

Pentas TrotoArt pertama (volume 1) pada Agustus 2012, malam, di atas trotoar jalan Sam Ratulangi. Beragam seni digelar, meliputi musik, Hip-Hop, Teater, Jazz, melukis, musikalisasi puisi dan lainnya. Ratusan warga—lebih dominan orang muda—datang menonton dan terhibur.

Meminjam Soundsystem
Malam itu, yang merupakan pentas seni TrotoArt ke-14 (volume 14), Victor dan Welson, tampak senang dan ceria. Senang karena TrotoArt masih eksis hingga saat ini dan perjuangan hebat dibaliknya.

Keceriaan dua orang muda ini bertambah, ketika pembawa acara memanggil mereka naik ke atas penggung mini berukuran panjang dan lebar 3 x 4 meter itu untuk berbagi cerita mengenai TrotoArt. Welson yang biasa disapa Willy menjelaskan, TrotoArt merupakan acara dari komunitas untuk komunitas.

“Ada kesederhanaan, kebersamaan. Dan yang pasti independen dan keren. Menurut saya, sampai kapanpun kalau TrotoArt masih dijalankan dengan cara yang sama, yaitu dari komumitas ke komunitas, TrotoArt akan tetap punya cita rasa sendiri dibanding acara lain,”ujar Willy disambut tepuk tangan penonton.

Tapi eksistensi berkesenian Ala TrotoArt hingga sampai pada malam itu, punya liku yang tak mudah. Pentas TrotoArt Volume 1, Victor dan Willy serta teman-temannya dari beberapa komunitas kreatif, meminjam soundsystem dari Ayah salah satu personil grup band Ikan Asar.

Pentas berikutnya, mereka patungan. Terkumpul uang sebanyak Rp2,5 juta. Rp1,5 juta dipakai untuk menyewas Soundsystem. Sisanya untuk mengurusi izin keramaian dan keperluan lainnya. Terus-menerus patungan ini digalakkan.

“Dulu, kami bayar izin murah. Tapi sekarang agak mahal, karena ada regulasi yang jelas dan kita ikuti,”ungkap Victor.

Pentas TrotoArt ini juga jarang dilirik oleh media massa lokal, paling kurang sebagai berita hiburan. Padahal, beberapa majalah musik, salah satunya Rolling Indonesia, pernah menulis artikel tentang TrotoArt.

Oleh karena itu, penyelenggara hanya mengandalkan media sosial untuk menyebarkan informasi. Terutama mengenai waktu, tanggal dan rangkaian acara serta performernya. ”Tapi kami bersyukur, masih bisa bertahan sampai saat ini,”kata Victor.

Menuju Kota Musik Dunia
Kota ini telah banyak melahirkan penyanyi-penyanyi handal dan profesional yang terkenal di tingkat nasional bahkan di dunia. Bukan hanya bernyanyi tapi juga bermusik lewat musik tradisi seperti hawaian, musik bamboo, zawat, totobuang, musik jazz, reagee dan musik etnik lainnya.

Hal ini yang kemudian membuat pemerintah provinsi Maluku dan kota Ambon melaunching Ambon City of Music atau Ambon sebagai kota musik pada tanggal 7 Oktober 2011. Sebuah monumen di desa Hative Besar yang bertuliskan “Ambon City of Music” pun dibangun sebagai pertanda.

Dari kota musik skala Indonesia, Ambon kini dipromosikan sebagai kota musik dunia. Ini merupakan program Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf). Pencangannya di Lapangan Merdeka Ambon, 30 Oktober 2016 lalu.

Untuk mewujudkannya, Bekraf melakukan lima rencana aksi yakni, inbfrastruktur, musisi dan komunitas, infproses belajar, pengembangan industri, dan nilai sosial budaya.

Pilar infrastruktur dengan mendirikan Ambon Music Office, regulasi produk rekaman, integrasi kota, provinsi dan pemerintah pusat, penyediaan arena dan sistem suara untuk musisi pemula, regulasi live music di hotel, kafe dan restoran serta akses masyarakat ke arena pentas musik.

Kemudian, standarisasi yang professional, membuat forum komunikasi lintas stakeholder, mendata penulis lagu dan penampil, pengembangan penonton musik. Ini merupakan implementasi dari pilar musisi dan komunitas.

Sedangkan untuk pilar proses belajar di antaranya, membuat seminar lokal dan internasional, mendirikan pendidikan musik dari tingkat SD hingga SMA/SMK serta PT, kunjungan ke konferensi dan pertukaran “know-how” dengan kota dan negara lain dan memberikan beasiswa dan dana riset untuk mempelajari musik di Ambon.

Rencana aksi lainnya, yakni melakukan riset pasar dan analisis dampak ekonomi, budaya dan sosial politik, memfasilitasi kawasan kuliner yang menampilkan live music, menciptakan strategi integrasi pariwisata dan musik.

Selain itu juga membuat konser musik terbuka skala kecil, membuat website resmi Ambon kota musik dunia, dan festival musik antargenre. Hal tersebut merupakan bagian dari pilar pengembangan industri.

Adapun pilar nilai sosial budaya, meliputi pengabadian latar belakang dan sejarah musik Ambon melalui pembangunan museum, mengoptimalkan musik sebagai alat integrasi antar komunitas dan regulasi yang mendukung pelestarian musik tradisional.

“Kita akan mendukung program ini agar terlaksana dengan baik. sehingga dengan banyaknya lulusan berkualitas, baik dari dalam maupun luar negeri, maka Ambon bisa memiliki banyak sekali potensi bakat dalam dunia musik,” tandasnya Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual Bekraf RI, Robinson Sinaga di Ambon, 27 Januari.

Pendiri grup Rapp Tahuri Hip Hop, Reza Philip Riry menilai, standarisasi pemusik dan penyanyi merupakan salah satu unsur penting. Jika diabaikan, grup band dan penyanyi solo lokal tidak akan bertahan.

Selama ini, para pemusik dan penyanyi dibayar dengan harga murah. Misalnya, bernyanyi di kafe biasanya hanya diupah Rp50.000. Di lain sisi, panggung bagi mereka mencari nafkah sangat sedikit.

“Kira rencana bikin standarisasi khusus Hip-Hop. Kalau tidak, lebih baik kita ke Jawa saja. Kita lebih dihargai di sana kalau menyanyi di café. Dan memang sudah ada bukti, ada penyanyi senior Maluku yang terpaksa mengembangkan karir di luar karena kondisi seperti ini,”kata Reza yang mulai belajar jadi Rapper sejak kelas 3 SMA (2005) itu.
Sedangkan bagi Victor, harus ada panggung permanen bagi seniman untuk berksenian. Terutama band Indie. Selama ini penyanyi dan band Indie hanya berbanyi di kafe-kafe.

Menurut dia, menjadi sebuah kota musik tidak hanya bertumpuh pada stok seniman (musik). Yang terpenting agar membumikan Ambon sebagai kota musik, adalah penyediaan ruang bagi seniman.

Untuk mengakomdir hal itu, pemerintah perlu membangun sebuah mini teater. Ini lebih penting, daripada anggaran daerah dipakai untuk membangun monumen kota musik—benda mati sebagai simbol semata.

“Semacam mini teater dan terbuka untuk teman-teman mengisi secara bebas. Dan kalau bisa disediakan listrik dan sound system. Itu saja udah cukup untuk menegaskan sedikit mengenai Ambon sebagai kota musik,”katanya.

Musisi tanah air asal Ambon, Glenn Fredly mengatakan, Ambon sudah punya modal sebagai kota musik. Salah satunya modal sosial, selain infrastruktur dan lainnya.

“Modal infrastruktur masih sangat jauh. Tapi masih dengan modal sosial, yakni para musisi, seniman, sastarawan, dan komunitas yang bisa melakukan kegiatan sosial menjadi kekuatan untuk membangun Ambon sebagai Kota Musik,” kata Glenn disela-sela acara Seni Beta, Januari lalu.

Kita tentu berharap, agar mimpi Ambon sebagai kota musik bisa terwujud. Pemusik lokal kita juga bisa hidup dari musik. Tak sekadar dibayar dengan recehan, atau bernyanyi tanpa panggung.(**)

Most Popular

To Top