Obbe Norbruis dan Perjalanan Penelitian Arsitektur Bangunan Belanda – Ambon Ekspres
Ragam

Obbe Norbruis dan Perjalanan Penelitian Arsitektur Bangunan Belanda

SURABAYA, AE–Kota Surabaya dihiasi gedung-gedung peninggalan Belanda. Hingga kini, gedung-gedung itu terawat dengan baik. Di balik kukuhnya gedung-gedung tersebut, ada sosok arsitek yang kadang terlupakan.berkesenian.

OBBE Norbruis mengabadikan karya arsitektur Belanda di Indonesia dalam sebuah buku. Buku itu dibawanya saat mengunjungi Museum Bank Indonesia (BI) di Jalan Mayangkara, Surabaya, Kamis (30/3). Gedung tersebut menjadi landmark di ujung Jalan Raya Darmo dan Jalan Diponegoro.

Dia membalik-balik buku berwarna hitam putih itu di ruang baca perpustakaan. Isinya adalah karya arsitektur dari arsitek Belanda Eduard Cuypers dan Hulswit-Fermont Weltevreden. Setelah halaman yang dicari ketemu, dia menunjukkan isi buku tersebut kepada Freddy H. Istanto, direktur Surabaya Heritage Society, yang duduk di sampingnya.

Pustakawan Perpustakaan BI Imam Suwandi ikut-ikutan mengintip. Halaman yang dia tunjukkan membahas bangunan yang sedang kami masuki. Gedung yang dulu dikenal sebagai Museum Mpu Tantular.

Jauh sebelum digunakan sebagai museum, gedung itu dipakai sebagai rumah dinas Gubernur Javasche Bank W. Verploegh-Chasse. Obbe pernah mewawancarai keluarga Verploegh-Chasse. Dalam salah satu hasil wawancara, Obbe mendapati bahwa Cuypers adalah arsitek bangunan yang kini bernama Gedung Mayangkara tersebut.

Hal itu bertolak belakang dengan isi buku Sejarah Gedung Mayangkara yang diterbitkan Bank Indonesia. Disebutkan bahwa gedung tersebut dirancang biro arsitek Job en Sprij pada 1921.

’’Arsitek gedung ini sebenarnya Cuypers,’’ ujar Obbe dalam bahasa Inggris. Ucapan itu membuat Imam makin penasaran. Sebab, selama ini BI tidak memiliki cerita yang terperinci seperti yang ada di buku Obbe.

Obbe menceritakan, Cuypers membuat rancangan dari jarak jauh. Dia tidak pernah datang ke Indonesia. Desain yang dia buat lalu diterjemahkan arsitek dan kontraktor di Indonesia. Buku rancangannya dia kirim melalui kapal berbulan-bulan lamanya. Javasche Bank, tampaknya, tidak mau gedungnya digarap arsitek sembarangan yang ada di Indonesia.

Terbayang repotnya menyewa arsitek dari jarak jauh. Tidak ada fasilitas internet atau video call seperti saat ini. ’’Tapi, mereka berhasil melakukannya,’’ tutur pria yang tinggal di Amsterdam tersebut.

Selain Gedung Mayangkara, Obbe berencana mengunjungi sejumlah gedung karya Cuypers di Surabaya. Di antaranya, gedung Bank Mandiri di Jalan Pahlawan, Rumah Sakit St Vincentius A Paulo (RKZ) di Jalan Diponegoro, gedung PT Perkebunan Nusantara XI di Jalan Merak, gereja Katolik di Jalan Majapahit, dan gedung Jiwasraya di Jalan Jembatan Merah.

Ciri-ciri karya Cuypers adalah detail dan ornamen. Di Gedung Mayangkara, detail-detail itu bisa dilihat sebelum masuk ke ruangan. Pagar gedung tersebut menyerupai anatomi tubuh manusia. Pagar itu terbuat dari besi padat yang dicat silver. Besi-besi tersebut ditekuk dan dibentuk serupa mengelilingi seluruh bagian gedung.

Lubang pintu dan jendela didekorasi dengan motif linier dan geometris. Jendela-jendela dilindungi teralis besi setinggi 2 meter. Di atas, ratusan lubang ventilasi terlihat menganga. Angin dapat merangsek dengan bebas ke ruangan.

Di hall tengah ruangan, lubang ventilasi dibuat lebih tinggi daripada empat ruangan yang lebih kecil di setiap ujung gedung. Di ruangan yang lebih kecil, tinggi langit-langit mencapai 6 meter. Tinggi langit-langit di hall lebih dari 8 meter.

Udara panas dari sekeliling pun terserap di bagian tengah. Karena itulah, gedung tersebut terasa dingin walau AC dimatikan. Namun, lubang-lubang itu tidak hanya berfungsi sebagai sirkulasi udara. Terdapat ornamen tanda plus di setiap lubang tersebut.

Banyak orang yang mengira di atap gedung terdapat ruangan lain. Sebab, ada tiga jendela yang terlihat jelas dari luar. Tetapi, jendela itu ternyata hanya dipakai sebagai lubang sirkulasi yang terhubung dengan lubang sirkulasi di hall.

Sebagian lubang angin ditutup lempengan besi yang diletakkan dengan kemiringan curam. Tujuannya, hewan seperti burung dan tikus tidak masuk ke ruang bawah atap.

Di bagian paling tinggi gedung, terdapat penangkal petir yang terbuat dari baja. Penangkal petir itu tidak hanya berbentuk besi meruncing yang lebih mirip linggis. Bentuknya bersegi delapan yang makin mengerucut ke atas. Di setiap lipatan, terdapat detail ornamen yang serupa dengan ambang pintu.

Namun, melihat bentuk atapnya, sang arsitek tidak membawa gaya arsitektur khas Belanda. Atap gedung itu memiliki konsep limasan yang mengadopsi bentuk pendapa khas Jawa. ’’Ciri khas Cuypers memang sering memadukan gaya Belanda dengan bangunan tropis,’’ jelas pria yang juga memiliki kesibukan sebagai urban designer tersebut.

Kedatangan Obbe kali ini dilakukan untuk melakukan riset lanjutan. Dia berencana memotret setiap detail bangunan. Dengan begitu, buku yang diterbitkan akan lebih berwarna. Obbe juga tidak pelit membagi informasi bukunya. Dia memberikan buku tersebut kepada Imam untuk difotokopi.

Imam menerangkan, selama ini tidak banyak buku yang membahas Gedung Mayangkara secara detail. Dengan kedatangan Obbe, dia kini memiliki data pembanding. ’’Selama ini kami cuma pakai buku ini,’’ ucap Imam sembari menunjukkan lembaran fotokopi buku Mayangkara yang dibuat BI.

Tetapi, perjumpaan dengan Obbe tidak berlangsung lama. Dia memiliki jadwal padat yang dikejar untuk menyusun risetnya.

Jawa Pos mendatangi lagi Gedung Mayangkara kemarin (4/4). Kali ini Jawa Pos ditemani Imam dan Humas BI Jatim Dandot Riawan. Mereka mengajak Jawa Pos berkeliling melihat lebih detail ruangan-ruangan yang jarang diketahui masyarakat. Salah satunya adalah toilet asli gedung.

Terdapat bak mandi dan kloset jadul di toilet tersebut. Iwan baru mengetahui bak mandi itu adalah bathtub setelah melihat film. Saat itu Presiden Soekarno memakai bathtub serupa yang ada di Gedung Mayangkara. ’’Tak kira bak mandi biasa,’’ katanya.

Gedung cagar budaya itu sudah beberapa kali diperbaiki. Kayu mulai keropos dan atap juga bocor. Terdapat pula penambahan besi penopang yang memperkuat landasan penumpu yang termakan usia. Namun, perbaikan yang dilakukan tidak boleh sembarangan. Memasang satu paku saja bisa jadi masalah. Karena itu, setiap perbaikan, pengelola selalu melibatkan tim cagar budaya pemkot.

Imam juga menunjukkan bahwa lantai bangunan sudah ditumpuk dengan marmer. Tetapi, terdapat ubin asli bangunan yang masih disisakan. Tepatnya pada ruang komputer di sisi utara bangunan. Pria asal Petemon itu lantas membuka pintu belakang. Di sana terlihat jelas bahwa bangunan dibangun tanpa bata. Tembok bangunan terbuat dari batu kali yang disemen.

Kini BI menunggu hasil riset lanjutan Obbe. Diharapkan, buku yang dia terbitkan nanti menambah koleksi perpustakaan BI. Dengan begitu, pengunjung perpustakaan dapat mengetahui secara detail sejarah sebenarnya Gedung Mayangkara. Sebab, sebagian besar isi perpustakaan adalah buku-buku mengenai perbankan dan arsip BI. (JPNN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!