Warga Pertanyakan Ganti Rugi Lahan Kristiani Center – Ambon Ekspres
Amboina

Warga Pertanyakan Ganti Rugi Lahan Kristiani Center

Bangunan Kristiani Center di kawasan Talake, Kecamatan Nusaniwe Ambon

AMEKS ONLINE, -Pemilik lahan yang saat ini sudah dibangun Kristiani Center di Talake, Kecamatan Nusaniwe mendadak mendatangi DPRD Maluku, kemarin. Pemilik atas nama Sam Dahlan Uar bersama beberapa rekannya hendak mempertanyakan persoalan tukar guling lahan mereka yang saat ini sudah digusur Dinas PU Maluku untuk perluasan areal bangunan Cristiani Center. Ada sekitar 9 pemilik lahan yang masih bermasalah.

Menurut Dahlan, sejak Agustus 2016, pihaknya sudah berkomitmen dengan Dinas PU Maluku untuk lahan yang dimiliknya dengan  luas 120 meter persegi akan dilakukan tukar guling. Namun pada saat itu, bertepatan dengan proses pekerjaan gedung sehingga belum ada tindak lanjutinya.

Namun, kata dia, dari pembicaraan awal bersama dinas PU pada Agustus 2016 sampai Maret 2017 lalu, lahan seluas 120 meter itu akhirnya dilakukan pengusuran oleh Dinas PU Maluku. Namun sampai saat ini pembicaraan ganti lahan belum ditetapkan lokasinya. Sehingga dia mengadu ke  DPRD  untuk segera ditindaklanjuti. “Luas lahan milik saya 120 meter persegi yang sudah digusur sejak Maret lalu oleh Dinas PU Maluku untuk perluasan areal di Gedung Christiani Center. Dan ini, kami sudah bersepakat dengan PU. Tetapi sampai saat ini mereka belum juga menetapkan lahan yang mau diserahkan ke kami itu dimana. Sehingga kami datanggi DPRD untuk melaporkan agar bisa ditindak lanjuti,”  ujar Dahlan kepada wartawan diruang Komisi A  DPRD Maluku.

Dikatakan, sejauh ini laporan  tersebut tidak hanya disampaikan ke komisi A DPRD Maluku. Tetapi sudah disampaikan ke Asisten I Setda Maluku dan tembusanya ke Dinas PU Maluku. Olehnya itu, dengan adanya laporan ini, diharapkan agar  ada upaya percepatan pergantian lahan. “Jelas selaku pemilik lahan, kami tidak puas dengan persoalan ini. Kami minta untuk segera ditindaklanjuti pergantian lahan ini,”  katanya.

Selain tukar guling, kata dia, terdapat juga persoalan ganti rugi yang dilkeluhkan pemilik atas nama Hening Sihasale. Menurut dia, yang dituntut saat ini secara pribadi bukanlah persoalan lahannya  dengan luas 104 meter itu. Tetapi bangunan yang ada di atas lahan itu. Karena dari  perjanjian  awal, bersama Dinas PU pembayaran bangunan sebesar Rp 253 juta dan  itu sudah disepakati.

Namun, dari harga Rp 253 juta itu, lanjut dia, ternyata kembali diturunkan menjadi Rp 125 juta. Tentu ini sudah melawati perjanjian awal. Sehingga, perlu dilaporkan ke DPRD agar ditelusuri apa yang penyebab, penurunan harga bisa terjadi. Karena jelas, penurunan tersebut, dinilai sarat penipuan. “Kalau yang saya punya kronologisnya beda dengan yang lain. Karena sistimnya bayar bangunan, bukan lahan.  Karena saat pertemuan bersama dinas PU, lurah, camat dan Kadis Tata Kota pada  awal 2015 lalu kesepakatannya seperti itu. Bangunan yang ada di atas lahan 104 meter ini  akan dibayar dengan harga Rp 253 juta, bukan Rp 125 juta. Ini yang menjadi pertanyaan ada apa dibalik semua itu,”  tukasnya.

Dikatakan, saat mendengar harga pembayaranya hanya Rp 125 juta, pihaknya langsung menanyakan itu. Namun ada salah satu pegawai Bina Marga Dinas PU Maluku mengatakan, harga tersebut merupakan versi konsultan dari Jawa. Olehnya itu, dia menduga ada permainan dibalik ini. Karena waktu diminta untuk bertemu dengan konsultan  tetap tidak diizinkan.  “Dugaan kuat kami, ada permainan dengan harga bangunan ini. Karena kami minta ketemu langsung dengan konsultan tersebut, katanya beliau tidak bisa kami temui. Nah ini lebih mencurigakan  lagi, ada apa. Selaku pemilik lahan kami merasa ditipu dan dirugikan. Untuk itu, kami harapkan agar mereka tetap dengan komitmen sesuai kesepakatan awal,“ ungkapnya.

Ditempat yang sama, Ketua Komisi A DPRD Maluku Melkias Frans menambahkan, pihaknya akan mengandakan pertemuan dengan pihak terkait untuk mempertanyakan persoalan itu.  Karena dalam laporan yang disampaikan,  terdapat dua persoalan pada lokasi yang  sama.  Dimana, lahan digusur dengan sisitim tukar guling. Dan juga pembayaran bangunan yang  ada di atas lahan seluas 104 meter  itu. “Intinya kami akan mengagendakan untuk melakukan pertemuan dengan pihak pemerintah maupun dinas PU bersama pemilik lahan guna membicarakan hal ini. Karena yang pertama masalah tukar guling, lahan yang mau digantikan. Dan kedua pembagunan milik Hening Sihasale, terkait harganya yang dianggap tidak sesuai dengan perjanjian awal. Itu yang akan di tanykan nanti,” tutupnya.(WHB)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!