Maryo E Pesurnay, Siswa SMKN 6 Peserta Sakura Sains High School Programe Japan – Ambon Ekspres
Berita Utama

Maryo E Pesurnay, Siswa SMKN 6 Peserta Sakura Sains High School Programe Japan

Siswa SMK Negeri 6 Ambon, Maryo Ebenhaezer Pesurnay saat melakukan kegiatan Sakura Sains High School Programe di Tokyo, Japan. Tampak Maryo menunjukan koran Ambon Ekspres saat berada di JICA Tokyo Japan International Coorporation Agency.

AMEKS ONLINE,-Mentas Banyak siswa berprestasi di Maluku. Salah satunya adalah Maryo Ebenhaezer Pesurnay. Dia menjadi satu-satunya siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) asal Provinsi Maluku yang terpilih mengikuti kegiatan Sakura Sains High School Programe (SSHSP) di Tokyo, Japan pada April lalu. Saat berangkat ke Negeri Sakura itu, dia sementara melaksanakan tugas PKL di Harian Ambon Ekspres.

Oleh: Resky Sohilait & Fredecia Wurlianty

Kebahagiaan terpancar dari wajah Maryo. Bagaimana tidak, iseng mengikuti seleksi, dia justru terpilih dari sekian siswa SMK dari seluruh Maluku. Maryo merupakan siswa kelas XI Jurusan Multimedia di SMK Negeri 6 Ambon.
Untuk lolos mengikuti program ini. Dia harus melewati seleksi panjang yang cukup ketat. Termasuk kemampuan Bahasa Inggris. Ada 20 orang siswa SMK secara nasional yang diseleksi untuk mengikuti kegiatan ini. Dan Eben, panggilan pelajar kelahiran Rantau Prapat (Sumatera Utara), 17 tahun silam ini menjadi salah satu pelajar yang terpilih. Dia berada pada peringkat 14 dari 20 siswa SMK dari seluruh Indonesia yang lolos seleksi. Prestasi yang sangat membanggakan.

“Dari 20  pelajar SMK yang ikut dalam program tersebut, saya berada diperingkat 14 dan berhasil mewakili Maluku,” ujar Eben sumringah.
Dia mengaku masih tidak percaya berhasil lolos seleksi. Apalagi, lanjut dia, seleksi sangat ketat dan para peserta dari berbagai sekolah juga cukup banyak. “Saya ikut test wawancara langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dan syukur pada Tuhan, hasilnya saya dipilih untuk mewakili Maluku ke Jepang untuk program tersebut. Masih tidak percaya, sebab saingannya se-Indonesia. Apalagi saya belajar Bahasa Inggris juga secara otodidak melihat dari internet,” imbuhnya.

Dengan keberhasilan ini, Eben bersama 19 siswa lainnya dari berbagai SMK di Tanah Air bisa melihat Negara Jepang. Mereka bergabung  bersama 30 orang teman lainnya dari Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Indonesia bisa melihat langsung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sains dan teknologi pada 9 – 15 April 2017 di Jepang. Selain dari Indonesia, program ini juga diikuti siswa dari Bangladesh dan Thailand.

Pelajar kelahiran 25 Februari 2000 pun bisa menceritakan pengalaman selama dia dan teman-temannya mengikuti kegiatan SSHSP di Jepang. Menurut dia, sebelum keberangkatan, mereka mendapat pembekalan dari Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Mereka juga mendapat sharing pengalaman dari teman-temann yang sudah pernah mengikuti program ini pada tahun-tahun sebelumnya. ‘’Jadi sebelum keberangkatan kita sudah mendapat pembekalan dan sudah tahu apa yang harus dilakukan di Jepang,’’ tuturnya.

Hari pertama di Jepang, mereka mengunjungi Kisarazu High School of Chiba Prefecture.  ‘’Di sekolah ini, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diajak menuju gym untuk menyaksikan beberapa pertunjukan tentang club activities dan Japanese culture. Seperti calligraphy, tradisional Japanese instrument, Physics dan Chemistry dan lain-lain. Sebelum kami memulai kegiatan, kami disuguhkan dengan pertunjukan bela diri tradisional jepang yaitu Kendo,’’ terang Eben yang hobi bermusik dan da olahraga ini.

Hari berikutnya, tutur Eben, mereka berkunjung ke Japan Agency for Marine-Earth Science and Tecnology (JAMSTEC). ‘’Di fasilitas ini kami ditunjukkan satu simulasi tekanan air pada suatu objek. Juga melihat salah satu kapal selam besar yang digunakan untuk meneliti dalam laut. Kapal itu dinamakan SHINKAI 6500. Dinamakan seperti itu karena kapal selam tersebut dapat menyelam hingga kedalam 6.500 meter dibawah laut. Sangat mengagumkan,’’ terangnya.

Pelajar yang bercita-cita menjadi anggota TNI/Polri ini menandaskan, di Jepang mereka juga mengunjungi Chiba University. Salah satu universitas ternama di  Jepang yang juga sering menjadi pilihan warga Indonesia yang menuntut ilmu di negara itu. ‘’Di universitas ini ada bapak Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Beliau merupakan dosen asal Indonesia yang mengajar tentang Center for Environmetal Remote Sensing. Bahkan ada salah satu laboratorium di kampus itu yang namanya Josaphat Lab. Diambil dari nama professor yang mengajar di universitas itu. Kami juga sempat sharing pengalaman bersama professor dan mahasiswa dari Indonesia. Senang sekali rasanya,’’ terang dia.

Dalam kegiatan ini, lanjut Eben, dirinya bersama teman-teman sempat mengunjungi museum masa depan yang disebut “MIRAIKAN”. MIRAI artinya masa depan dan KAN yang artinya tempat. Ditempat itu, mereka bertemu direktur MIRAIKAN, Dr Mamoru Mori. ‘’Disitu kami melihat pertunjukan robot manusia “ASHIMO“ yang sangat terkenal. Robot ini disebut robot manusia karena dia dapat melakukan apa yang manusia lakukan seperti berlari, berjalan dengan satu kaki, menendang bola dan lainnya. Di MIRAIKAN banyak sekali peralatan-peralatan canggih. Salah satunya mesin peluncur roket,’’ bebernya.

Hari berikutnya, lanjut anak tunggal pasangan Fredy Pesurnay dan Suuriasi Sitompul ini, mereka melakukan kunjungan ke TSUKUBA University. ‘’Di kampus ini kami juga bertemu dengan beberapa mahasiswa yang berasal dari Indonesia untuk berbagi pengalaman selama menjalani pendidikan di universitas itu. Sangat berkesan,’’ terangnya.

Sebelum kembali ke tanah air, imbuhnya, juga dilakukan closing ceremony yang diisi dengan pagelaran budaya dari negara asal.  ‘’Malam perpisahan ada penampilan kebudayaan dari masing-masing negara. Pada kesempatan tersebut, Indonesia membawakan tarian tradisional Dayak. Thailand dan Bangladesh juga membawakan tarian tradisional dari negara mereka,’’ tandas dia.

Kepala SMK Negeri 6 Ambon, J Tiwery mengatakan, program tersebut merupakan tindaklanjut kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Japan Science and Technology Agency (JST) Jepang.
Dari 33 provinsi yang ada, kata dia, hanya 20 siswa SMK yang berhasil mengikutiprogram tersebut. Biaya kegiatan SSHSP ini untuk persiapan, lanjut dia, semuanya ditanggung Direktorat Pembinaan SMK Departemen Pendidikan dan Kebubadayaan. Sedangkan biaya perjalanan internasional untuk akomodasi dan konsumsi selama di Jepang akan ditanggung oleh pihak JST Jepang. “Kita bangga dan senang. Sebab salah satu siswa kita bisa lolos dan masuk 20 besar. Apalagi untuk mencapai hal tersebut bukanlah hal yang mudah karena saingannya cukup banyak se-Indonesia,” ujarnya.

Humas SMK Negeri 6 Ambon, Edo Luturmas menambahkan, siswa SMK ini selama di Jepang mendapat pelatihan, seminar dan workhsop di bidang sains dan teknologi. “Memang peserta acara ini merupakan siswa pilihan yang memiliki keahlian di bidang sains dan tehnologi. Selama di sana, siswa kami dan peserta dari Indonesia lainnya juga mempromosikan budaya Indonesia,” timpalnya.
(***)

 

Click to comment

Most Popular

To Top