Tagop Sesumbar Kalahkan Assagaff – Ambon Ekspres
Berita Utama

Tagop Sesumbar Kalahkan Assagaff

Said Assagaff

AMEKS ONLINE,–Bermodal basis primordial di Maluku Tengah (Malteng) dan Buru Selatan (Bursel), Tagop Sudarsono Soulisa sesumbar menumbangkan Said Assagaff pada Pilgub Maluku 2018. Ia juga mengklaim, telah mengetahui strategi politik Assagaff.

“Yang jelas, yang bisa lawan petahana Said Assagaff harus figur yang bisa mengetahuinya, seperti apa seluk beluknya. Dan, yang mengetahui itu hanya Bupati Buru Selatan,” ujar Tagop kepada wartawan saat Rakerda PDIP di Hotel Pasifik, Senin (8/5).

Dia sangat optimis menumbangkan Assagaff, bakal calon gubernur petahana. Karena secara perimordial kedaerahan, dia memiliki basis di Kabupaten Malteng dan Bursel.

Jumlah pemilih Malteng pada pilkada serentak 2017 sebanyak 313.083 orang. Sedangkan pemilih di Bursel pada pilkada 2015, sebanyak 40.888. Menurut dia, basis dua kabupaten itu sudah bisa ditaksir.

Terlepas dari faktor basis dan primodialisme, Tagop mengaku, sudah mengetahui strategi politik yang selama ini dipakai Assagaff. Termasuk kelemahan ketua DPD Partai Golkar Provinsi Maluku itu. “Sebagai bupati yang memenangkan pemilihan Bursel, sebanyak dua kali, tentu sudah mengetahui banyak strategi. Makanya yang bisa lawan Assagaff, itu hanya saya,” imbuhnya.

Tagop adalah Bupati Bursel dua periode (2010-2015 dan 2015-2020). Namun, dia terpilih dengan dukungan suara yang sedikit. Pada periode pertama atau pilkada Bursel 2010, Tagop dan wakilnya, Ayub Seleky hanya memperoleh 8.443 suara.

Selisih suara Tago-Ayub dengan pasangan Anthonius Lesnussa-Hadji Ali hanya 1.091 suara. Anthonius-Hadji memperoleh 7.352. Kemudian pasangan Mahmud Sowakil-Imanuel Teslatu 3.932, Nurain Patjina Fatsey-Alexander Leopold Lesbatte 3.381 suara,  Zainudin Booy-Yohanis Lesnussa 6.256 dan Abdul Basir Solissa-Didon Limau 2.392 suara.

Pada Pilkada serentak 2015, Tagop-Ayub adalah pasangan petahana. Mereka ditantang pasangan Rivai Fatsey-Antohnius Lesnussa yang diusung oleh Partai Gerindra (tiga kursi) dan PKS (dua Kursi). Sementara partai Hanura, PDIP, PKB, Golkar, Demokrat, PKP Indonesia, PPP dengan jumla 15 kursi.

Meski begitu, Tagop tidak menang mudah. Tagop hanya meraih 21.987 suara. Sedangkan, lawan mereka Rivai-Anthon mampu meraih 19.190 suara. Selisihnya hanya 2.797 suara dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT)  40.888.
Pengamat politik Universitas Pattimura (Unpatti) Johan Tehuayo menilai, meski Tagop serius bertarung, tidak akan menggerus kekuatan Assagaff. Ini karena kader PDI Perjuangan itu hanya mengandalkan basisnya di Bursel dan sebagian wilayah Kabupaten Buru.

Di Bursel pun, masih diragukan. Pasalnya, Tagop hanya meraih 21.987 suara pada pilkada 2015 lalu. Kala itu, pasangan petahana Tagop Soulisa-Ayub Saleky diusung oleh mayoritas parpol.

Sedangkan, lawan mereka Rivai Fatsey-Anthon Lesnussa yang diusung PKS dan Gerindra justru mampu meraih 19.190 suara. Meski menang, namun hanya dengan selisih 2.797 suara dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT) 49.687. “Basis dukungan politiknya di Kabupaten Buru dan Bursel. Tentunya tidak mempengaruhi kekuatan Assagaff sebagai petahana. Karena semakin banyak figur akan terjadi fragmentasi dukungan politik dari parpol dan dukungan suara di masyarakat,” kata Tehuayo kepada Ambon Ekspres belum lama ini.

MENANTI PDIP
Saat ini, Tagop sangat mengharapkan rekomendasi PDI Perjuangan. Tanpa rekomendasi partai ini, keinginan Bupati Bursel dua periode ini bisa tersumbat. Selain PDIP, Tagop juga telah membangun komunikasi dengan sejumlah partai politik lainnya. Jika PDIP yang memiliki 7 kursi DPRD mengusung dia, kemungkinan jumlah kursi yang akan peroleh sekitar 17.

Namun, ia belum mau menyebut parpol-parpol tersebut. “Komunikasi saya dengan partai lain sejauh ini, sudah dilakukan. Hanya tinggal menunggu PDIP. Dan kalau itu sudah selesai, maka kami miliki 17 kursi sebagai pendukung,” katanya.

Disinggung soal wakil, politisi PDIP ini mengatakan, secara peribadi dirinya lebih cenderung ingin berpasangan dengan Bupati Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) Barnabas Orno. Alasannya, keduanya sama-sama menjabat bupati, tentu memiliki kekuatan yang kuat di pilgub 2018. “Untuk wakil, kalau bagi saya secara pribadi, Bupati MBD, Barnabas Orno. Alasannya, karena kami berdua sama-sama bupati. Tentu punya basis dan dukungan yang kuat dari masyarakat,” tandasnya.

Dia menegaskan, persoalan pilgub jangan dilihat dari jumlah pemilih Bursel dan MBD, yang dianggap tidak terlalu banyak seperti daerah lain. Namun, keinginan dan kecintaan masyarakat. Karena Maluku sangat membutuhkan pemimpin muda dan berenerjik. ”Jangan dilihat dari jumlah pemilih Bursel dan MBD. Tetapi yang dilihat adalah bagaimana masyarakat berkeinginan untuk harus figur muda di provinsi ini. Dan Maluku sangat membutuhkan itu untuk bisa membawa perubahan dan menampung aspirasi masyarakat,” imbuhnya.

Banyak kader PDIP, baik internal maupun eksternal yang disebut-sebut ikut berkompetisi untuk mendapatkan rekomendasi, yakni Komarudin Watubun, Edwin Adrian Huwae dan Herman Adrian Koedeoboen. Namun, dia optimis diusung sebagai calon gubernur.  “Apapun yang terjadi, saya tidak bisa diposisi kedua, karena karena saya terlahir untuk posisi ke satu,” pungkasnya.

Sebelumnya, peneliti Index, Nendy Kurniawan menilai, langkah Tagop tidak mudah. Langkah pertama yang harus dilewati adalah kepastian rekomendasi partai berlambang Benteng Moncong Putih, PDI Perjuangan.
Di PDIP, tak hanya Tagop dan Abas. Kader murni, seperti Edwin Adrian Huwae dan Komarudin Watubun juga disinyalir ikut berkompetisi. Selain persaingan internal yang diprediksi bakal ketat, PDIP juga terganggu dengan lobi petahana bakal calon gubernur, Said Assagaff. Dengan membaca kecenderungan partai politik pada umumnya dan mekanisme PDIP yang mulai terbuka, Nendy menilai, Assagaff juga berpeluang diusung oleh partai pimpinan Megawati Soekarno Putri itu.(WHB)

Click to comment

Most Popular

To Top