Dampak Tol Laut Belum Terasa di Aru – Ambon Ekspres
Ekonomi

Dampak Tol Laut Belum Terasa di Aru

Salah satu pasar tradisional di Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru

AMEKS ONLINE,DOBO.– Upaya pemerintah untuk mengatur logistik dan harga barang melalui kebijakan ‘Tol Laut’ di sejumlah daerah kepulauan wilayah Indonesia timur.  Di  Provinsi Maluku, Kabupaten Kepulauan Aru, menjadi salah satu desain jalur ‘Tol Laut’ belum sepenuhnya merasakan penyaluran sistem logistik kelautan itu.

Dari penelusurun Ambon Ekspres di salah satu pasar tradisional di Kota Dobo, harga bahan pokok (bapok) sejak adanya pengoperasian kapal program Tol Laut belum bedampak besar bagi penurunan harga kebutuhan pokok maupun barang lainnya.

“Harga beras masih Rp16.000 sedangkan dalam program tol laut harusnya harga sama dengan daerah distributor, yakni Rp 12.500 per kilogram,” kata Stela (35), salah satu warga usai membeli bahan pokok, Minggu(7/5).
Hal yang sama juga masih dirasakan warga lainnya, Maria (45). Harga semen masih dijual dengan harga Rp80 ribu atau Rp85 ribu per sak bila diantar langsung oleh penjual.
“Kalau memang benar-benar pemerintah mau melayani masyarakat, seharusnya harga bisa sesuai dengan program itu,” imbuhnya.

Terpisah, Asisten II Setda Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Marthinus Legam membenarkan hal tersebut.  Salah satu penyebab harga bapok belum sesuai program tol laut, karena waktu bongkar muat di pelabuhan mencapai lebih dari dua pekan sebelum didistribusikan ke pasar.

“Alat  bongkar (crane) belum ada untuk mempercepat aktivitas bongkar muat, jadi sampai sekarang masih bongkar manual. Kadang sampai 18 hari baru selesai bongkar, makanya biaya (cost) tinggi otomatis pelaku usaha harga di pasaran belum bisa turun. Kami juga berharap agar peralatan pendukung aktivitas bongkar muat ini bisa ada, agar harga juga bisa sesuai dengan daerah distributor,” tuturnya.

Diakuinya, dari program tol laut ini, memang sejak 2016 program ini berjalan dampaknya hanya pada stok bahan kebutuhan pokok sangat mencukupi, tapi untuk harga belum ada perubahan signifikan.
“Yang  turun cuma harga gula dari Rp20.000 menjadi Rp16.000 per kilo. Itupun untuk di pusat Kota Dobo saja, kalau sudah disuplai ke desa-desa atau ke pulau-pulau harga bisa lebih dari Rp20.000,”akuinya.

Menyikapi kondisi ini, Pemkab Aru, kata dia, telah berupaya  memperluas area peti kemas. Ada pun, Sosialisasi mengenai ekspor langsung dari Dobo agar kapal yang datang juga tidak balik kosong. Sehingga input untuk masyarakat dari kegiatan ekspor itu bisa berdampak bagi pendapatan daerah.

“Kami sudah melakukan kerjasama untuk potensi-potensi yang bisa diekspor dari Dobo, misalnya rumput laut, teripang dan ikan. Diharapkan, dengan begitu PAD bisa meningkat dan masyarakat juga mendapat keuntungannya dari ekspor langsung tersebut,” harapnya. (IWU)

Prev1 of 2

Most Popular

To Top