PERTARUNGAN OPINI DI PILKADA KOTA TUAL – Ambon Ekspres
Politik

PERTARUNGAN OPINI DI PILKADA KOTA TUAL

FOTO: Edwin Borut

Oleh: Edwin Borut
AMEKS ONLINE,-Genderang perang kontestasi electoral di Kota Tual sudah memanas, walaupun masih 13 bulan lagi menuju pemilihan. Namun dinamika politik sudah mulai dirasakan oleh masyarakat kota Tual. Proses kandidasi sudah diwacanakan diberbagai kanal media sebagai pencitraan, mulai dari media cetak, media eletronik, hingga media sosial dengan tujuan pencitraan terhadap figur yang maju pada pemlihan serentak 2018.
Kanalisasi Media dengan Pola Pencitraan

Hampir semua figur yang diwacanakan oleh masing-masing relawan maju bertarung di pilkada Kota Tual dengan memanfaatkan berbagai media untuk mensosialisasikan kandidat atau figur mereka dengan menggunakan berbagai isu politik untuk mempengaruhi voters, mulai dari incumbent hingga figur yang diwacanakan relawan sebagai penantang incumbent.

Pertarungan opini di Kota Tual saat ini kian masif dan eksesif ditengah beragam strategi persuasi oleh masing-masing tim relawan dari figure yang diisukan tersebut. Bermunculan propaganda hitam yang dilakukan tak hanya dijumpai pada media arus utama tapi juga menyeruak pada ruang media sosial.

Pergulatan politik seperti ini  membutuhkan kemampuan literasi politik yang baik untuk mempersuasifkan citra positif di tengah-tengah khalayak, artinya mengaduk strategi politik yang baik untuk tidak hanya memperkuat kekuatan pada simpul-simpul tertentu, akan tetapi juga bisa menetrasi basis yang mengambang.

Dalam prespektif komunikasi politik, ada kampanye positif (positive campaign) dan kampanye negatif (negative campaign). Kampanye positif fokus pada upaya mempengaruhi persepsi dan emosi khalayak yang berhubungan dengan hal positif dengan kandidat, yang tujuannya menaikan popularitas figure tesebut. Sementara negative campaign berfokus pada isu atau wacana negatif untuk mempengaruhi persepsi atau emosi khalayak dengan pola menyerang lawan politik.Tujuannya agar tingkat penerimaan, penolakan dan keterpilihan khalayak terhadap figur yang diwacanakan tersebut.

Menurut Michael dan Roxanne Parrot dalam buku persuasive communiacition campaign (1993) kampanye didefenisikan sebagai proses yang dirancang secara sadar, bertahap dan berkelanjutan serta dilaksanakan dalam rentang waktu tertentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang telah ditetapkan.

Untuk melihat potret pergulatan opini yang dikemas oleh masing-masing tim yang dijadikan sebagai kandidat untuk bertarung pada pilkada Kota Tual, mulai dari tim relawan Adam Rahayaan selaku incumbent dengan strategi pola bertahan, yakni apa yang sudah dilakukan maka terus dicitrakan, dan menepis isu-isu negatif dari lawan politik. sementara tim relawan Basri Adly Bandjar (mantan setda Kota Tual) dengan strategi menyerang incumbent, pola isu yang dilancarkan adalah persoalan pembangunan selama ini dijalankan oleh incumbent dinilai tidak mengalami perubahan secara signifikan. Begitu juga dengan Yunus Serang (wabub Maluku Tenggara) yang juga diwacakan akan bertarung di pilkada kota Tual. Strategi isu yang dimainkan juga memiliki pola yang sama dengan Basri Adlli Badjar, namun agak pasif dalam mewacanakan keberhasilannya di kabupaten selama dua periode selaku wakil bupati di Kabupaten Maluku Tenggara.

Dari pergulatan opini politik ini memberikan sinyal bahwa ada kecendrungan opini publik yang dibentuk agar mempengaruhi dan mengalihkan presepsi khalayak pada mainstream tertentu daripada target kelompok pengagitasi. Ini bisa jadi akan mebentuk sikap disonansi kognitif dari khalayak yang menjadi target isu-isu negatif tersebut.

Namun kampanye moderen yang positif agak jarang ditonjolkan oleh masing-masing tim relawan, sebagai modal untuk menetrasi pemilih secara kognitif, yang memang tidak nampak sosialisasi ide dan gagasan dipermukaan, kampanye modern yang positif adalah bagaimana masing-masing figure yang diwacanakan oleh tim tersebut tidak mewacanakan ide dan gagasan seperti apa yang bisa disosialisasikan oleh para relawan. Dan hal ini terjadi maka masyarakat akan ikut teredukasi secara politik dengan baik, sehingga pada level kognitif (pengetahuan) menjadi rujukan sikap pada level afektif.

Isu atau wacana yang sering di wacanakan adalah isu-isu negatif yang merupakan varian strategi menyerang dengan tujuannya melemahkan lawan politik, namun dalam komunikasi politik secara semiotic semakin tinggi serangan yang dilancarkan dengan wacana negatif maka bukan lagi menimbulkan antipati dari khalayak akan tetapi sebaliknya menimbukan simpati terhadap lawan yang dizolimi.

Pemanfaatan Konflik
Mengamati konflik di setiap pilkada sesungguhnya tidak selalu negatif dan merusak. Dari perspektif teori konflik, sosiolog Amerika, Lewis Coser (1913-2003) dalam artikel Dr. Gungun Herianto dengan judul Meredam Api Pilkada memandang konflik tidak selalu merusak sistem sosial. Konflik dan integrasi sebagai dua sisi yang memperkuat dan memperlemah satu dengan yang lain.

Coser membedakan dalam dua tipe dasar konflik yakni konflik realistik dan non realistik. Konflik realistic adalah konflik memiliki sumber yang kongkrit atau bersifat material. Seperti sengketa memperebut posisi kekuasaan yang berimbas pada pengelolaan kekuasaan. Sehingga konflik semacam ini ketika usai pilkada maka proses sengketa pilkada akan dilimpahkan pada ranah hukum.

Namun konflik nonrealistic adalah konflik yang dimunculkan oleh keiginan yang tidak rasional yang cenderung bersifat ideologis yang antara lain konflik antar kepercayaan, entnik hingga agama. Konflik sejenis ini sulit menemukan solusi dan merajut perdamain.

Kita tahu bahwa suhu politik di kota Tual mulai memanas, diantara tim relawan dari masing-masing figur mulai melancarkan serangan dengan memanfaatkan konflik internal figur yang diwacanakan, mulai dari pencopotan Adli Bandjar oleh Walikota Tual, Adam Rahayaan dari jabatannya sebagai Sekkot Tual), hingga konflik perebutan ketua DPD II Golkar Kota Tual yang kompetitornya adalah Yunus Serang selaku Wakil Bupati Maluku Tenggara dan Fadila Rahwarin selaku Ketua DPRD Kota Tual.

Dari konflik-konflik tersebut dapat dimanfaatkan oleh masing-masing tim relawan untuk mempersuasifkan proses kandidasi demi mendapatkan citra positif dari khalayak. Akan tetapi koflik tersebut bisa dipetakan dalam dua pola pemanfaatan konflik oleh masing-masing tim relawan, yakni konflik konstruktif dan konflik deskruktif.

Pemanfaatan konflik konstruktif dengan tujuan sebuah kemajuan, artinya dengan adanya konflik maka bisa dapat mempersuasifkan keadan politik dengan kesadaran bernegosiasi dan melahirkan sebuah konsensi yang saling menguntukan. Sementara Konflik dekskrutif tidak akan memberikan sebuah kepastian, karena tujuannya untuk memcahkan kongsi kekuatan dan mensuport dengan sikap yang represif, disini yang sering menjadi korban konflik politik adalah partisipasi dari masyarakat grassroots dan cenderung ideologis.

Kampanye pencitraan dengan pola isu-isu negatif yang bersumber dari konflik personal figur yang diwacanakan sampai pada kenerja walikota selama ini. Artinya seluru data dan informasi dimunculkan ke permukaan untuk mendelegitimasi lawan politik dan memungkinkan untuk diperdebatkan pada ruang-ruang media arus utama sampai pada ruang-ruang media sosial. Serangan bisa saja pada patahana Adam Rahayaan atau kepada Adli Bandjar dan Yunus Serang.

Sementara itu kampanye hitam yang juga sulit dihindari  pihak-pihak yang tidak bertanggung jawabkan atas rumor dan gosip yang tidak pasti sumber informasi. Namun tetap digunakan sebagai senjata untuk melemnahkan lawan politik, bahkan  dengan isu seperti ini sering bergerak pada operasi gelap dan tak tersentuh oleh proses dialetika yang baik, biasanya pada media sosial sering diperankan oleh akun-akun palsu yang identitasnya tidak jelas, dan ini sangat massif dilakukan. Inilah disebut dengan propoganda yang tidak professional dengan melahirkan stigma buruk terhadap lawan-lawan politik.

Dari kondisi opini yang dikanalisasikan tentu akan memiliki tujuan yang akan menjadi target dari semua competitor politik yang tidak lain adalah mempengaruhi persepsi khalayak, namun kita tahu seberapa jauh intensitas opini yang lancarkan kepada khalayak atau kelompok target opinion tersebut.

Pergulatan opini seperti ini dengan tujuan mempengaruhi opini publik maka pada titik kulminasi sudah pasti ada tingkat penolakan dan penerimaan dari khlayak akibat opini yang diwacanakan. Maka saatnya mulailah para relawan dari figur yang diwacanakan seharusnya tidak lagi mewacakan isu-isu negatif yang mengarah pada penghakiman terhadap lawan politik tertentu dan setidaknya dari masing-masing competitor politik memberikan literasi politik yang baik kepada khlayak agar khlayak tidak terdisonansi dengan isu-isu yang memiliki efek domino dan melahirkan konflik yang berkepanjangan.*

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jaya Baya, Jakarta

Click to comment

Most Popular

To Top