Latief Karie Protes Eksekusi Jaksa – Ambon Ekspres
Berita Utama

Latief Karie Protes Eksekusi Jaksa

AMEKS ONLINE,–Terpidana kasus korupsi dana penerimaan negara bukan pajak tahun 2011 di Fakultas Ekonomi Unpatti, Latief Karie dieksekusi jaksa ke Lapas Klas II A Ambon, Kamis (18/5). Namun eksekusi itu diprotes yang bersangkutan. Pasalnya, Latief mengaku belum menerima pemberitahuan putusan Mahkamah Agung RI atas putusan yang diterimanya.

Bahkan protes juga dilayangkan kepada wartawan yang meliput proses eksekusi di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku. Latief dieksekusi tim eksekutor Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon berdasarkan putusan MA yang menjatuhkan vonis selama 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan.

Sebelum digiring naik mobil Operasinal Kejari Ambon dengan nomor poliis DE 1472 AM, awak media sempat berusaha mewawancarai Latief. Namun dia tegas menolak. “Jangan foto, harus tulis berita yang benar,” sebut terpidana dengan nada keras sambil didampingi istrinya bersama penasehat hukumnya, Ali Tukan.

Dia mengatakan, sangat keberatan dengan eksekusi yang dilakukan pihak kejaksaan terhadap dirinya. Karena dia belum menerima pemberitahuan putusan dari pengadilan selaku lembaga yang berkewenangan untuk meneruskan putusan MA ke masing-masing pihak. “Saya nyatakan keberatan walaupun saya ditelah dieksekusi. Saya belum dapat pemberitahuan putusan akan tetapi jaksa telah melakukan eksekusi terhadap saya. Ini kan sudah menyalahi aturan. Saya sudah cek ke pengadilan dan itu belum ada. Kok bisa jaksa melaksanakan eksekusi terhadap saya,” kata Latief dengan nada tinggi.

Dalam putusan MA itu, terpidana bukan hanya dipidana badan saja, akan tetapi juga dibebankan membayar uang pengganti senilai Rp 882,6 juta dan harta bendanya akan disita untuk dilelang kepada negara. Dan bila tidak mencukupi maka kepadanya dikenakan hukuman tambah berupa kurungan selama 9 bulan.

Kasipidsus Kejari Ambon, Irwan Sombah kepada wartawan mengatakan, itu hak terpidana dalam mengatakan hal demikian. Akan tetapi jaksa selaku eksekutor menjalankan perintah berdasarkan putusan MA yang telah kami terima berupa petikan putusan. “Biarkan saja. Itu hak dia. Dan tentunya kita tetap eksekusi. Eksekusi dilakukan oleh tim eksekutor berdasarkan pada petikan putusan dari MA yang diterima oleh kami. Dalam putusan MA itu, terpidana di pidana penjara selama 4 tahun denda Rp 200 juta subsider 6 bulan dan uang penggantinya sebesar Rp 882,6 juta subsider 9 bulan kurungan,” jelas Sambo.

Diketahui, putusan MA juga lebih tinggi dari putusan majelis hakim Pengadilan Tinggi Ambon yang sebelumnya menghukum terdakwa selama 3 tahun 6 bulan penjara.
Dalam tahun anggaran 2011, Fakultas Ekonomi Unpatti Ambon mendapatkan kucuran dana penerimaan negara bukan pajak senilai Rp 1,599 miliar. Kemudian terdakwa yang saat itu masih menjabat Pembantu Dekan II Fekon Unpatti dalam mengelola anggaran tersebut memerintahkan bendahara pengeluaran, Carolina Hahury membelanjakan barang-barang keperluan fakultas.

Namun dalam pelaksanaannya, terdakwa bersama bendahara membuat laporan penggunaan dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 1,2 miliar.

Dalam persidangan di Pengadian Tipikor pada PN Ambon, terdakwa Latief Kahrie diganjar 3 tahun penjara, denda Rp 50 juta subsider 6 bulan kurungan dan membayar uang pengganti Rp 882,6 juta subsider 8 bulan kurungan.
Sementara Carolina Hahury divonis 1 tahun 6 bulan penjara, denda Rp 50 juta subsider 2 bulan, dan membayar uang pengganti Rp 488,1 juta subsider 4 bulan kurungan.

Untuk terdakwa Carolina menyatakan menerima keputusan majelis hakim, sedangkan Latief Kharie melakukan upaya banding dan terakhir kasasi ke Mahkamah Agung RI.(NEL)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!