Harga Sayur-mayur Merangkak Naik, Bawang Putih Tembus Rp 120 Ribu – Ambon Ekspres
Ekonomi

Harga Sayur-mayur Merangkak Naik, Bawang Putih Tembus Rp 120 Ribu

Ilustrasi (Dok JawaPos.com)

AMEKS ONLINE, – Bulan puasa kerap dimanfaatkan para spekulan untuk meraup untung lebih. Harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional menjelang bulan suci ini pun merangkak naik.

Di Pasar Flamboyan Kota Pontianak, salah satu komoditi yang mengalami kenaikan harga drastis adalah bawang putih. Pedagang menjual si putih ini di kisaran Rp100 ribu perkilogramnya. Kenaikan hingga 40% itu terjadi akibat kelangkaan stok di sejumlah agen.

“Bawang putih ni dah tak tentu rudu dah. Sekarang saye jual dah 90 ribu rupiah perkilo. Padahal harge normalnye  Rp50 ribu sampai Rp 60 ribu perkilo,” ungkap Syahrul, salah seorang pedagang di Flamboyan, kepada Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Kamis (25/5).

Menurut dia, harga mulai melonjak tinggi sekitar sepekan terakhir. Karena harga yang berubah-ubah dalam waktu yang tidak bisa diprediksi, para pedagang di Flamboyan enggan mengambil bawang putih banyak-banyak dari distributor. Mereka takut merugi.

“Untok stok bawang putih, saye tak berani nyimpan karena hargenye tidak tentu. Kalau saye nyetok, nanti harge jatoh, rugi lah. Kalau bawang merah biase saje, tidak ade kenaikan. Hanye bawang putih jak,” papar Syahrul.

Ia tak mengetahui bawang putih didatangkan dari daerah mana. Yang pasti, Syahrul mengambilnya dari salah satu agen di Pontianak. Lanjut dia, jika kelangkaan stok seperti ini terus terjadi, maka bawang putih tidak akan cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Pontianak selama sepekan ke depan.

Pedagang lainnya, Abdul Azis, mengaku nominal yang harus dibayarka pembeli untuk mendapatkan sayuran memang mengalami sedikit peningkatan. Harga sawi keriting saat ini sudah mencapai Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu perkilogramnya. Dan, hanya untuk kangkung saja, warga Pontianak kini harus membayar hingga Rp 4-5ribu perkilogramnya.

“Harga sebelumnya cuma Rp 3ribu hingga Rp 3.500 perkilo. Kalau untuk harga kol masih standar lah, Rp 8 ribu. Untuk sayur itu kebanyakan didatangkan dari Sungai Selamat, Jalan 28 Oktober. Ada juga dari Sanggau dan Rasau. Secara keseluruhan, ada kenaikan mencapai 25%. Puasa nanti bisa jadi ada kenaikan lagi, terutama di daun bawang,” paparnya.

Di pasar tradisional besar lainnya, Nipah Kuning, bawang putih dijual di level Rp 95 ribu perkilogramnya. “Ini bawang (diambil dari agen,red) Selasa (23/5). Bawang mahal. Kita pedagang jadi tidak bisa ambil banyak,” ungkap salah seorang pedagang pasar Nipah Kuning, Heri, menunjukkan sisa-sisa stok bawah putih yang dimilikinya, kepada Rakyat Kalbar, Kamis (25/5) pagi.

Harga Rp 95 ribu ini, kata dia, merupakan harga bawang putih yang diambilnya dari Pasar Flamboyan Pontianak. Selasa itu, sudah mencapai Rp 80 ribu perkilogramnya. Kemarin (25/5), terakhir ia ke Flamboyan, harga bawang putih sudah mencapai Rp 120 ribu perkilogramnya.

“Harga setinggi itu siapa yang mau beli? Kalau kita beli bawang putih dengan harga tinggi begitu, mau jual ke pelanggan berapa lagi,” cetusnya.

Dengan tingginya harga tersebut, Heri tak kuasa menambah stok bawang putih di kios miliknya yang cuma tersisa dua ons saja. Rakyat Kalbar yang masih penasaran kembali berkeliling berkunjung ke pedagang lainnya di pasar Nipah Kuning. Dan, ternyata, selain di kios Heri, penampakan si putih tidak terlihat.

Kesusahan mulai mendera pedagang makanan kecil yang menggunakan bawang putih sebagai bumbu. Salah satunya dialami Nurbaiti, warga Jalan Pelabuhan Rakyat Gg. Karya Tani 2. Dia penjual pentol kuah di Jalan Komyos Soedarso Pontianak Barat.

“Untuk menggiling dan memasak kuah pentol, saya menggunakan bawang putih. Sekarang harga naik, saya jadi susah,” ungkapnya.

Kelangkaan bawang putih ini sepertinya mulai menjalar ke kabupaten tetangga. Kepala Seksi Pengawasan dan Perlindungan Konsumen, Dinas Perindustrian Mempawah, Hendri K mengatakan, pasokan bawang putih di wilayahnya tak seperti biasa. “Memang pasokan yang ada saat ini mengalami penurunan dari biasanya,” ungkapnya, tadi malam (25/5).

Walaupun begitu, kekurangan pasokan yang terjadi tidak mempengaruhi harga bawang putih di Mempawah. “Pantauan di lapangan kisaran harga masih normal, ada yang jual Rp48.000 perkilo ada yang menjual Rp50.000 perkilo,” terang Hendri.

Ia memprediksi stok bawang putih hingga memasuki awal Ramadan masih cukup. “Kita pantau terus perkembangan setiap harinya, sudah ada petugas kita yang bertugas mengontrol,” tuturnya.

Masyarakat, dia meminta, untuk tidak panik. Tidak lantas melakukan pembelian bawang putih dalam jumlah besar. Menurut dia, hal itulah yang justru akan mempengaruhi harga pasar.

Beranjak ke Kota Singkawang, komoditas bawang putih di sana pun mengalami kelangkaan dan kalaupun ada harganya luar biasa memberatkan warga setempat.

“Bawang putih banyak stok yang kosong, banyak pedagang yang tidak menjual bawang putih, dan ini terpantau Rabu (24/5). Meskipun ada sebagian kecil pedagang yang menjual, namun kualitasnya rendah di harga Rp80 ribu perkilogram,” ungkap Kasi Distribusi Barang dan Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Singkawang, Helmi Aswandi kepada Rakyat Kalbar, Kamis (25/5).

Berdasarkan info dari agen bawang putih, lanjut Helmi, mereka di Singkawang tidak mendapat kiriman dari Pontianak sekitar 10 hari terakhir. ”Di Pontianak pun lagi kosong, dan bawang putih memang diimpor dari China (Tiongkok),” tuturnya.

Di Pasar Kuala Singkawang, bawang putih memang menembus angka Rp90 ribu perkilogram. “Kalau beli satu ons harganya Rp10 ribu. Tapi kalau satu kilo harganya Rp90 ribu, memang bawang putih agak langka dan mahal. Tak tau kapan akan normal lagi,” ujar Abun, salah seorang pedagang.

Bawang putih yang dijual pun kualitasnya tak seperti biasa. Warnanya tak putih cerah, agak menghitam.

Tak jauh dari Singkawang, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Kumindag) Sambas, Uray Tajudin juga menyebut harga bawang putih di wilayahnya sudah di level Rp80 ribu perkilogram. “Dari pantauan kami di pasar, selain mahal, barang juga kosong,” bebernya.

Untuk menyikapi hal ini, pihaknya telah menghubungi agen bawang putih di Pemangkat. “Dan dia berjanji akan mendatangkan bawang putih dalam minggu depan,” kata Tajudin.

Tak cukup itu saja, ia telah menghubungi dinas terkait di Pemprov Kalbar. “Kita bahkan menghubungi Kementerian Perdagangan dan mereka berencana akan mendatangkan bawang dari pulau Jawa ke Kalimantan melalui Bulog sebanyak 60 ton dengan kisaran harga Rp32 sampai Rp38 ribu perkilo,” pungkasnya.

Anehnya, kelangkaan dan mahalnya si putih yang melanda wilayah pantai utara (Pantura) ini tak terjadi di kabupaten ujung timur Kalbar, Kapuas Hulu. “Sampai hari ini belum naik, baru aja kita beli ke pasar pagi (Putussibau). Harga untuk bawang merah Rp45 ribu perkilo. Kalau bawang putih Rp60 ribu perkilo,” ungkap Ana, pedagang sembako di jalan lintas selatan, Kamis (25/5).

Stoknya juga mencukupi. Sehingga, Ana dan pedagang sembako lainnya tidak kesulitan mendapatkan bawang merah dan bawang putih.

Meski begitu, Ana mengakui, biasanya memang beberapa hari jelang puasa ada kenaikan. Bukan hanya bawang, juga komoditi lainnya.

Dijelaskannya, harga jual bawang perons beda dengan kiloan. Jika satu kilogram dijual Rp60 ribu, maka satu ons seharga Rp7.000 untuk bawang putih. Demikian juga bawang merah, Rp45 ribu perkilo sementara satu ons Rp5.000.

Belum adanya kenaikan harga bawang merah dan bawang putih juga diakui pembeli. Santi, warga Kedamin, Kecamatan Putussibau Selatan, membeli di pasar pagi Putussibau masih seharga Rp60 ribu perkilo untuk bawang putih. “Memang biasa jelang puasa harga bawang naik, tapi kita berharap tidak terlampau mahal, sehingga masyarakat tetap bisa mengkonsumsinya,” tutur Santi. (Rizka/Gusnadi/Ari/Suhendra/Sairi/Andreas/iQbaL/fab/JPG)

Most Popular

To Top