He Is Back – Ambon Ekspres
Berita Utama

He Is Back

Richard Louhenapessy dan Syarief Hadler

Kuning, biru, hijau lebih spesial. Tiga warna
dominan Partai Golkar, NasDem, dan PPP bisa memenangkan pertarungan melawan sembilan partai politik di Pilkot. Ada aspek penting yang dimiliki Pak Richard, Pak Syarief kuat tertanam di hati rakyat yaitu personality.

Oleh:Martin Langoday

AMEKS ONLINE,-Ini keyakinan tokoh pers sekaligus politisi beringin Maluku, Machfud Waliulu. Suatu waktu, saat bincang berdua di kedai kopi samping markas Harian Ambon Ekspres, putra Luhu Seram Bagian Barat ini optimis pasangan Pemimpin Ambon Richard Louhenapessy – Syarief Hadler (PAPARISSA BARU) unggul atas Paulus Kastanya – Muhammad Armyn Latuconsina (PANTAS).

Syadan hari-hari sebegeni, sejak dilantik 22 Mei 2017, politisi rimbun beringin dan suci ka’bah, memimpin kota bertajuk Manise. Bukan lagi wacana, tapi fakta keberkahan dari doa, kerja keras di ladang politik. Richard – Syarief bersama timnya, sukses meminimalisir kecerobohan yang pada akhirnya bisa menimbulkan deterioration (keberantakan) saat berjuang meraih tampuk kekuasaan. Pernah menjabat Walikota dan Wakil Walikota, bukan berlebihan politisi kawakan, sepertinya hanya sementara pergi untuk kembali lagi.

Kedua sosok tidak diunggulkan, tapi dicintai menjadi pasangan paling aspiratif. Berhasil mematahkan opini publik yang dibentuk oleh lawan politik. Hasrat para politisi pragmatis, oknum pengusaha, pemimpin birokrasi, dan PNS yang secara sempit melihat politik sebagai upaya balas dendam, akhirnya kalah terkubur. Dendam yang tidak jelas. Sebab, dinamika Pilwakot kemarin, PAPARISSA BARU justru lebih banyak berteman air mata.

Kesantunan, kinerja dibarengi prestasi mentereng, diakui terabaikan begitu saja. Richard menjanjikan kepada banyak calon menjadi wakilnya. Syarief tak punya komitmen dan konsistensi dalam mekanisme pencalonan di internal PPP. Richard pun mengalami hal yang sama karena membawa Syarief berteduh ke beringin tanpa mengikuti aturan main. Pula upaya melakukan fait accomply diantara keduanya. Bahkan dibenturkan dengan elit partai pengusung termasuk Gubernur Maluku, Said Assagaff.

Siasat menghadang duet populis agar tidak mendapatkan rekomendasi Golkar, NasDem dan PPP. Soal SARA juga mendera. Isu korupsi apalagi. Padahal, saat deklarasi secara tegas dan jelas dihadapan ribuan warga, mereka bersepakat menandatangani kontrak politik bersama rakyat. Salah satu point penting yaitu perang melawan korupsi. Sesuatu yang tidak berani dilakukan oleh pasangan lain.

Isu, fitnah, beragam black campaign tentu dialami kubu PANTAS. Tetapi intensitas pemberitaan kurang berpihak kepada PAPARISSA BARU, rasanya PANTAS unggul segalanya. Dinamika selama proses Pilkot, baik PAPARISSA BARU atau PANTAS terlihat kelimpungan. Namun, seluruh kepentingan yang berkelindan, sejujurnya kapitalisasi media masif menempatkan Richard – Syarief di dasar tubir kekalahan. Diluar prediksi banyak kalangan, PAPARISSA BARU justru terpilih secara meyakinkan. Alhasil, karena politik selalu menampakan wajah abu-abu, maka kita tidak perlu terkejut atas kemenangan. Satu hal pasti dari seluruh diskursus ialah perubahan posisi kursi, pengaruh dan kuasa di Pemkot.

Seorang Richard Louhenapessy, Syarief Hadler, Poli Kastanya, Sam Latuconsina, given (terberikan) sebagai sutradara, tetapi sekaligus sebagai aktor. Hasil akhir seluruh skenario sutradara dan aktor jelas tertonton. Terbaca oleh rakyat, sekian bacaan politik para pengamat menggunakan kaca mata yang salah berujung buram, gelap. Sapa mo sangka PAPARISSA BARU akhirnya mulus melenggang menuju Balai Kota, sejalan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI).

Richard – Syarief bersama timnya, bergerak maju menggunakan panduan akademis dari LSI yang terukur mengalahkan seluruh wacana, analisa para pengamat dan kampanye bombastis tim sukses. Keberantakan PAPARISSA BARU yang digambar lukiskan malah buyar, bahkan sebaliknya. Kecerobohan berakibat keberantakan di pihak lawan. Wacana media patut diakui sukses membuka jendela untuk ramai-ramai diintip oleh publik yang peduli.

Hal ini pantas dilakukan karena tiga partai pengusung adalah harta bersama. Media seyogianya membuka bangunan politik Richard – Syarief dan semua orang berhak menentukan sikap, ibarat sebelum terjun masuk kolam, terlebih dahulu bebas memilih warna baju renang, lengkap dengan mereknya yaitu Golkar, NasDem, dan PPP. Agar tidak berada atau terperangkap bacaan buram gelap, maka thema besar tentang perubahan yang terjadi di Pemkot saat ini, bolehlah disepakati sebagai satu-satunya yang tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri.

Alhasil, merasakan perubahan lantas mendongak, terpana, kemudian pasrah sesungguhnya jauh dari kebijaksanaan. PNS Pemkot tak perlu takut atau ditakuti terhadap perubahan karena akan tetap berjalan dan mustahil dicegah. Diperlukan sikap responsif, elegan penuh kepedulian. Kurang elok berdiam diri menunggu nasib seperti hilang akal, kritis, dan mati. Sebagai bagian dari makhluk sosial, sangat naïf jika perubahan diabaikan. Karena yang terjadi merupakan sebuah realitas. Mempercakapkan penyebabnya sah-sah saja. Menduga-duga penyebab dan solusi, benar semata-mata. Tetapi sejarah mengajarkan, berpegang pada satu jawaban solusi, itu bukan jawaban.

Berkah bagi PAPARISSA BARU sebetulnya jauh dari ekspektasi lawan politik yang berusaha menjegalnya di Pilwakot kemarin. Mengungkit masa lalu adalah tindakan konyol. Menuding media tidak netral merupakan simplifikasi permasalahan yang berbahaya. Ada baiknya kita mendalami ungkapan avorisme, “If we can not figth it, let adapt to it”. Semua makhluk hidup akan melakukan tiga taktik bilologi jika terjadi cekaman yaitu avoidance (menghindar), ameliorate (mengubah) dan adapt (menyesuaikan). Akan ada tindakan menghindar ketika masih mungkin. Sudah pasti ada perubahan sikap dan cara hidup jika tidak mungkin menghindar.

Sungguhkah media menjadi penyebab utama? Benarkah media memperkokoh posisi mempengaruhi massa pemilih? Apa perlu perubahan yang jauh dari ekspektasi para politisi pragmatis, tim sukses, oknum pengusaha, pemimpin birokrasi, PNS, para pengamat disikapi dengan kecerobohan ? Menjadi lebih indah perubahan politik dijalani penuh tanggung jawab. Orang Ambon bilang, potong di kuku rasa di daging. Jadi mari sama-sama keku jang kuku.

Saatnya mengubah kebiasaan agar mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan. Berdamailah bersama semua yang terjadi. Lakukan mulai dari hati, lalu keluarlah membawa tekad berpartisipasi mendukung seluruh program pembangunan. Sudah waktunya mengajak semua orang ramai-ramai peduli.

Sakali lai inga bae-bae, satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Simplikasi masalah akan menuntun orang kepada solusi bersifat in complete. Kurang komprehensif. Anda mengira penyebab PAPARISSA BARU pasti kalah di Pilkot kemarin lantaran tidak punya uang. Mungkin benar mungkin pula tidak. Nyatanya ada penyebab lain. Opini, agitasi, provokasi di ruang publik gagal menghadapi ketulusan hati berikut kecerdasan pemilih menelisik rekam jejak figur.

Di simpul ini, sinyalemen Machfud Waliulu tepat. Personality Pak Richard dan Pak Syarief kuat tertanam di hati warga. Lepas dari kekalahan PANTAS, kepemimpinan baru diperhadapkan pada konsolidasi internal setelah masing-masing orang, kelompok di birokrasi lebih suka friksi, klik dan interest bertensi tinggi. Kini PNS yang berseberangan punya tiga pilihan taktik biologi. Avoidance, ameliorate, atau adapt ? Sssstt, semua sudah tersedia di depan anda.

Sementara untuk tantangan eksternal, otomatis pembangunan menuju kesejahteraan, maju dan berdaya saing dengan daerah lain. Lima tahun kepemimpinan, Richard – Syarief harus membuktikan mereka memang pasangan paling aspiratif. Mampu mendaratkan program seperti disampaikan pada masa-masa kampanye. Ambon bersih, sehat, aman, sejahtera, cerdas serta Ambon City of Music. Dalam bahasa Gubernur Maluku, Said Assagaff, “Jangan sia-siakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh warga masyarakat kota”. Salamat lai bapa Ris, bapa Syarief. Pergi untuk kembali. Taruuuss Benahi Ambon. TABEA..!! (***)

Most Popular

To Top