Penyelundupan Cinnabar Kembali Digagalkan – Ambon Ekspres
Berita Utama

Penyelundupan Cinnabar Kembali Digagalkan

FOTO: ISTIMEWA Dok. Ameks online

AMEKS ONLINE,—Upaya penyelundupan bahan tambang cinnabar (merkuri) masih saja terjadi. Polisi kembali menggalkan cinnabar illegal saat hendak diselundupi melalui Pelabuhan Yos Soedarso Ambon, Kamis (25/5) sekira pukul 17.00 WIT.

Polsek Kawasan Pelabuhan Yos Soedarso (KPYS) kembali menyita cinnabar sebanyak 2 ton. Bahan tambang ini disita saat berada di lapangan penumpukan kontainer Pelabuhan Yos Soedarso. Hampir saja penyelundupan itu tidak diketahui.

Pasalnya, guna mengelabui petugas cinnabar diselipkan di dalam mobil truck pengangkut besi tua. Truk pengangkut berwarna biru bernomor polisi DE 8280 AA itu dikemudikan Migroji Nur Akbar Narahaubun (29), warga Desa Tulehu.

Hal ini terungkap saat buruh membongkar muatan besi tua yang akan dimasukkan kedalam kontainer. Kemudian datang petugas kepolisian yang melaksanakan patroli di dalam areal pelabuhan. Melihat truk itu, dia mulai curiga lalu menghentikan buruh yang lagi melakukan pembongkaran.

Isi truk langsung digeledah. Pisau ditancap ke karung yang dicurigai. Hasil pemeriksaan barang dibungkus tersebut berisi material cinnabar yang sudah halus menyerupai pasir.
Junaidi (40), pengumpul besi tua dikawasan Batu Merah dan pengemudi truk langsung diamankan beserta barang bukti. Dari keterangan Junaidi, cinnabar itu sebanyak 2 ton atau 80 koli.

Junaidi menyangkal sebagai pemilik cinnabar. Kata dia itu milik temanya yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Pemiliknya bernama Rialsyah. ”Dari keterangan dia (Junaidi) katanya milik temanya di Surabaya. Pernah datang di Ambon dan ke Desa Iha membeli cinnabar. Katanya barang ini hanya dititip saja ke dia untuk pengeriman ke Surabaya,” tandas Kapolsek KPYS AKP Roni Ferdi Manawan kepada Ambon Ekpres di ruangan kerjanya, Jumat (26/5).

Menurut Roni, modus dipakai menyelundup cinnabar itu merupakan modus baru dengan menyelipkan cinnabar saat pengakutan besi tua masuk ke dalam kawasan pelabuhan. ”Cinnabar di angkut dari salah satu tempat penampungan besi tua di Desa Poka. Ini modus baru yang baru kita ketahui,” tandas Roni.

Selain itu, penyelundupan ini sudah dilakukan Junaidi lebih dari satu kali. ”Dari keterangan Junadi sudah dua kali menyelundupi cinnabar. Setiap kali pengiriman dia mendapat jatah Rp 600 per kg dari pemilik. Jadi kalau dua ton dia dapat Rp12 juta,” jelasnya.

Barang bukti sudah diamankan di Polsek KPYS. Dipastikan, kasus ini akan dilimpahkan proses penangan di Polres Ambon untuk memproses lebih lanjut. ”Polsek hanya menangani kasus ringan saja. Kalau lespesialis sudah level kapolres. Jadi kasus ini akan kita limpahkan ke polres,” tandasnya.

Dipastikan, pengawasan dipelabuhan akan diperketat lagi. Pasalnya cinnabar sudah menjadi atensi pimpinan. ”Soal cinnabar ini juga sudah atensi pak kapolda. Makanya anggota yang saya tempatkan untuk pengawasan dipelabuhan yang memang bisa dipercaya. Makanya saya akan perketat pengawasan di pelabuhan. Sudah saya sampaikan ke anggota jangan ada main nakal persoalan cinnabar. Kalau ketahuan saya akan tindak tegas,” jelasnya.

Terpisah, juru bicara Polres Ambon Iptu Nikolas Frederick Anakotta yang dikonfirmasi terkait perkembangan penyidikan kasus Bos UD Amin Nurdin Fatta dengan ratusan koli cinnabar dan mesin pengolah, kemudian Manaf Kaliky pemilik 17 ton cinnabar dipastikan proses penyidikan masih terus dilakukan. ”Masih menunggu hasil labfor dan keterangan ahli soal ini. Karena walapun sudah diketahui umum bahwa itu cinnabar, tetapi yang bisa menentukan itu hanya ahli dan uji laboratorium. Sampel sudah dikirim ke labfor Makassar. Jadi, tinggal menunggu hasilnya saja,” kata Anakotta.

Dipastikan, penyidikan kasus ini masih terus berjalan. Setelah di dapatkan hasil labfor, barulah kemudian akan ditentukan status hukum yang bersangkutan. ”Proses penyidikan masih terus dilakukan. Yang menjadi sedikit terhambat itu hanya di saksi ahli dan hasil uji labfor. Jadi, beri kesempatan untuk anggota kita melakukan penyelidikan guna menuntaskan kasus ini,” tutup Anakotta.(ERM)

Most Popular

To Top