Selamat Menunaikan Ibadah Puasa – Ambon Ekspres
Berita Utama

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

TARAWIH: Umat Muslim Kota Ambon, melaksanakan Sholat Tarawih di Masjid Raya Al Fatah Ambon, Jumat (26/5).

AMEKS ONLINE.––Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan bahwa awal Ramadhan 1438 Hijriah jatuh pada Sabtu 27 Mei 2017 hari ini. Penetapan ini berdasarkan pada sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin bersama dengam Dirjen Bimas Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Komisi VIII DPR, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Muhammadiyah.

Masyarakat muslim di Indonesia, diminta segera menyesuaikan untuk menjalankan ibadah puasa, termasuk di Maluku. MUI Maluku menghimbau agar masyarakat bisa mengikuti penetapan pemerintah pusat.
Berpuasa di bulan Ramadhan, merupakan salah satun rukun Islam yang wajib dijalankan oleh semua umat Islam yang telah Baligh. Dimana puasa merupakan perintah Allah SWT untuk dijalankan bagi setiap pengikut Nabi Muhammad SAW (Rasulullah SAW).

Puasa memiliki arti yakni menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, ucapan dan hal-hal negatif lainnya. Dimana puasa merupakan suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT. Yang dimulai sejak terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Dan penentu awal puasa dilakukan lewat pemantauan Hilal dengan memperhatikan proses perhitungan atau hisab. Dan berdasarkan keputusan pemerintah pusat lewat Menteri Agama RI, hari ini seluruh umat Muslim di Indonesia menjalankan ibadah puasa pertama.

Namun ada sejumlah pihak yang telah menjalankan ibadah puasa sejak Jumat (25/5) kemarin. Seperti yang terjadi di Maluku dan sekitarnya. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku menghimbau, agar hal ini tidak perlu diperdebatkan antara pemerintah dengan masyarakat. Dan seluruh pihak harus menerima perbedaan tersebut agar tidak menimbulkan miss presepsi.

Sekretaris Komisi Dakwah MUI Maluku, Ustadz Arsal Tuasikal mengatakan, masyarakat Maluku bisa tetap mengikuti awal Ramadhan yang diumumkan pemerintah pusat. Lewat kajian para ulama dan Menteri Agama RI. Dengan alasan memiliki peralatan pemantauan hilal yang canggih dan didukung oleh sejumlah Ahli. Menurutnya, penetapan awal Ramadhan yang terjadi di Indonesia lewat pemerintah pusat, dilakukan dengan mekanisme sidang Isbat. Setelah melalui proses pemantauan Hilal (bulan) dan memperhatikan proses perhitungan atau Hisab.

“Mekanisme lewat kedua metode tersebut merupakan hal yang wajar dan dipakai dalam Islam. Sehingga merupakan cara yang tepat untuk digunakan. Dimana sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama inilah yang akan menentukan awal Ramadhan,” tandas Tuasikal.

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Maluku, Abidin Wakano mengatakan, Ramadhan harus memberikan penekanan pada satu kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang saat ini mulai surut secara perlahan-lahan. “Dari Maluku orang bisa belajar tentang pentingnya menguatkan kembali Nasionalisme Indonesia, yang saat ini sudah mulai surut. Disitulah pentingnya Ramadhan untuk memberikan efek yang positif,” kata dia, kemarin..

Dikatakan, Ramadhan kali ini harus menjadi bulan untuk mengoreksi dan mengevaluasi diri, atas kondisi bangsa saat ini sehingga nantinya usai Ramadhan, bisa membawa sebuah perubahan atas apa yang telah terjadi. “Ramadhan harus katong kalesang diri untuk membangun negeri yang aman dan sejahtera. Kalesang ini dengan makna puasa tidak hanya untuk menggugurkan kewajiban, tapi puasa punya efek positif yang berlimpah dengan nilai-nilai kearifan, kasih sayang, kejujuran, keadaban yang lain,” tuturnya.

Wakil Ketua MUI Maluku ini menambahkan, puasa dalam konteks hidup berbangsa dan bernegera, sudah seharusnya berada level yang tertinggi dalam mewujudkan cita-cita luhur negeri ini. “Katong puasa bukan hanya belajar untuk dipahami, tetapi orang yang puasa itu juga  belajar untuk memahami. Orang yang puasa itu harus membawa rahmat, bukan kemudian membawa beban bagi yang lain. Ada sebuah fenomena, kita setuju orang batasi caffe dan sebagainya oke, tetapi jangan memberi kesan orang yang berpuasa itu dijaga seolah-olah seperti menjaga telur diujung tanduk,” timpalnya.

Wakano menambahkan, apa artinya berpuasa jika hanya untuk menjadi beban bagi yang lain. Justru kata dia, orang yang berpuasa itu, harus berkorban untuk yang lain. “Puasa itu memontum untuk membakar nafsu-nafsu politik, keserakahan dan sebagainya. Apa arti puasa kalau kita masih menggunakan politik kekerasan, politik polarisasi, adu domba dan diskriminasi. Saya kira puasa bukan hanya untuk kewajiban. Jadi mari kita berpuasa untuk merekonsiliasi yang membakar seluruh hawa nafsu yang berpolitik untuk menghancurkan keberadaban,” terangnya.
(ISL/AHA)

Most Popular

To Top