Mengintip Kapal Perang INS Shivalik Milik India – Ambon Ekspres
Ragam

Mengintip Kapal Perang INS Shivalik Milik India

Dermaga utara Surabaya kedatangan tamu dari negeri Bollywood. Empat kapal perang India bersandar di Terminal Jamrud Utara
pada 1–5 Juni. Dan, selama dua hari, mereka mengadakan open ship. Seharusnya semua orang bisa masuk. Tapi, ada syaratnya.

Oleh : DEBORA DANISA SITANGGANG

AMEKS ONLINE.–’’WELCOME to the board, Ma’am!” sambut tiga anak buah kapal (ABK) berseragam putih. Jawa Pos baru saja menginjakkan kaki di atas Indian Navy Ship (INS) Shivalik Sabtu (3/6) pagi. Tepatnya pukul 10.37. Agak terlambat sedikit dari pembukaan open ship pukul 09.30.
Mulanya, satuan pengamanan kapal yang berjaga di bawah tangga menahan Jawa Pos sebentar. ’’Are you alone, Ma’am (apakah Anda sendirian, Red)?” tanyanya.

Dia bertutur, biasanya pengunjung INS datang berkelompok. Seperti rombongan siswa SMA berseragam biru-biru yang baru saja selesai tur ketika Jawa Pos (Grup Ambon Ekspres) tiba. Jawa Pos sempat khawatir tak diperbolehkan masuk. Petugas itu pun menawarkan bantuan. Dia memanggil salah seorang prajurit yang berjaga di atas kapal. ’’Yes, you can come in (Anda boleh masuk, Red),” ujarnya. Tak apa seorang diri. Prajurit di atas kapal siap mendampingi.

Setelah sambutan singkat dengan sikap hormat, prajurit bernama Pawan Sharma mengantar Jawa Pos ke bagian depan kapal. Di sana telah terpasang bendera dua negara, Indonesia dan India. Jangan bayangkan dek yang luas di areal itu. Sebab, bagian tersebut dipenuhi senjata. Pawan hanya menjelaskan secara singkat. Lengkapnya, dia serahkan kepada prajurit senior bernama Jay Kumar Rout. Dialah yang menerangkan persenjataan di bagian depan kapal. Lengkap dengan spesifikasinya.

Nah, inilah salah satu syarat jika ingin berkunjung ke INS Shivalik. Kemampuan listening bahasa Inggris harus apik. Sebab, prajurit seperti Rout menjelaskan dengan dialek India. Bila tidak terbiasa, pengunjung harus memastikan apa yang dia katakan agar tidak salah tangkap.
Bukan cuma masalah bahasa, pengunjung awam juga tidak bisa masuk sembarangan. Open ship INS tersebut memang ditujukan untuk umum. Namun, publik harus melewati pemeriksaan di depan pos Terminal Jamrud Utara. Setelah itu, ada lagi pemeriksaan oleh TNI-AL di dalam terminal. Tanpa izin jelas, warga tak mungkin bisa mendekati kapal perang berbendera India itu.

’’Shivalik is a fight ship or war ship,” jelas Rout. Kapal sepanjang 468 kaki itu memang merupakan kapal garda terdepan di antara empat kapal lain. Dia mempresentasikan foto kapal yang diambil di sudut 45 derajat di atas, lengkap dengan nama-nama senjatanya.
Di antara empat kapal yang merapat, INS Shivalik dan INS Sahyadri punya spesifikasi sama. Hanya dua kapal itu yang dibuka untuk kunjungan sepanjang hari. Sambil berjalan, pemuda 21 tahun tersebut kembali menjelaskan senjata terdepan INS Shivalik. Senjata-senjata kelabu itu merupakan buatan Rusia. Awak kapal ternyata telah mempersiapkan label nama yang ditempel di setiap senjata untuk membantu pengunjung awam.

Meski banyak barang, bagian dalam kapal tampak tertata. Bahkan, awak kapal juga telah menyiapkan kunjungan secara maksimal. Di setiap persimpangan koridor, bakal ada patung kertas bergambar tentara India dengan tangan teracung ke arah rute tur. Tanpa didampingi pun, sebenarnya pengunjung tidak akan tersesat di dalam kapal.

Sampai di tengah kapal, kami memasuki sebuah ruangan dengan sekoci besar berwarna abu-abu hitam di dalamnya. ’’We have two small boats for emergency (kami punya dua sampan untuk darurat, Red),” terang Pawan. Masing-masing berada di lambung kanan dan kiri kapal.
Jika dilihat dari luar kapal, dua sekoci itu terletak di bagian tengah, di balik plat berlubang-lubang kecil. Deretan plat abu-abu tersebut bisa dibuka, kemudian sekoci bisa diturunkan ke air.

Tur berlanjut. Kali ini, kami melewati koridor yang lebih terang daripada bagian dalam kapal yang lain. Di sisi-sisi koridor terpasang semacam mading. Majalah dinding. Foto-foto kegiatan prajurit angkatan laut India ditempel di sana. Baik kegiatan selama di kapal maupun saat bakti sosial di India. Beberapa foto menampakkan wajah kapten-kapten kapal Shivalik, berdiri gagah membelakangi matahari terbenam di tengah laut.

Jika tidak mampir-mampir, mungkin hanya butuh waktu satu menit untuk menyusuri kapal dari depan sampai dek belakang. Suasana dek belakang lebih ramai karena di sinilah pusat open ship mereka.
Dek yang biasa terbuka lebar itu dipayungi terop putih. Dek belakang memang lebih luas. Sebab, area tersebut sejatinya adalah tempat pendaratan helikopter. Ya, di bagian belakang kapal ada dua hanggar besar untuk parkir helikopter angkatan laut India.

Kelompok Indian Navy Band tampak berlatih di sana sepanjang open house. Drum band beranggota dua puluh orang tersebut memainkan sederet lagu populer India. Tak heran, sebelum naik ke kapal pun, Jawa Pos sudah mendengar samar-samar alunan Kuch Kuch Hota Hai dari atas kapal. Pada hari itu Indian Navy Band berlatih untuk persiapan penampilan di Taman Bungkul pukul 16.00 sorenya.

Berhubung sedang kunjungan kenegaraan, awak kapal mendapat kesempatan untuk ’’pesta” sejenak. Tentu saja pesta ala angkatan laut di kapal. Selagi kapten dan pejabat senior melakukan kunjungan ke markas TNI-AL, anak buah kapal perang India mengundang perwira-perwira muda AL ke kapal mereka untuk ramah tamah.’’Kami berpesta tadi malam,” cerita Deepu. Di sana, mereka menyuguhkan makanan-makanan India, seperti nasi kari, panir, dan roti nan.

Kuldeep menjelaskan, India punya empat musim berbeda. Musim panas, musim dingin, musim hujan, dan musim gugur. ’’Dan, semuanya bisa terjadi sekaligus,” terang pria setinggi 188 sentimeter tersebut. Misalnya, saat India Utara sedang musim dingin, India Tengah mengalami musim gugur atau hujan. Sedangkan India Selatan bakal panas, nyaris sepanjang tahun.

Tur kapal perang pun berakhir tepat ketika jam tutup, pukul 12.00. Kunjungan hari pertama memang belum begitu ramai. Namun, Deepu dan kawan-kawan memaklumi jika banyak yang tidak bisa mengintip bagian dalam INS Shivalik dan Sahyadri. ’’Ini kan areal terlarang,” ujarnya. Namun, mereka sudah cukup senang menerima sambutan hangat dari orang Indonesia.
(*/C7/DOS)

Most Popular

To Top