BPOM Sita 3.107 Kemasan Pangan Illegal – Ambon Ekspres
Berita Utama

BPOM Sita 3.107 Kemasan Pangan Illegal

Ilustrasi/Net

AMEKS ONLINE, AMBON.— Melalui pengawasan produk dan pangan segar yang dilakukan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Ambon, Maluku bersama stakeholder dan DPRD Kota Ambon menyita 155 item (jenis) produk kadaluarsa serta tidak memiliki izin edar resmi.

Pengawasan secara bertahap ini, dilakukan di 71 sarana yang terdiri dari Kota Ambon ada 35 sarana, Maluku Tengah 24 sarana dan Tual ada 12 sarana. Sementara berjalan sekarang di Pulau Buru dan Namlea selanjutnya akan dilakukan di SBT dan MTB. ‘’Kami inginkan dan sudah masuk dalam perencanaan bahwa 11 kabupaten/kota di Maluku semua terjaring untuk dilakukan pengawasan hingga satu minggu sebelum lebaran. Kalau misalnya masih ditemukan lebih banyak lagi barang kadaluarsa, maka pengawasan akan kami tingkat sampai dengan satu minggu setelah lebaran,” kata Kepala BPOM Ambon, Sandra Lithin kepada awak media di Aula BPOM, Rabu(7/6).

Hasil temuan yang disita dan yang akan dimusnakan, sambungnya, ada 155 item (jenis) dengan jumlah 3.107 kemasan. Jika dilihat lebih banyak merupakan produk jenis makanan ringan. “Total harga dari barang yang disita adalah sekitar Rp 80 juta. Memang masih rendah,  tetapi tentu yang patut diwaspadai adalah bahwa makanan-makanan ini lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang kelas ekonominya menengah ke bawah. Seperti yang ditemukan dilapangan, misalnya kacang, kue kering dan makanan ringan (snack) yang tidak memiliki izin edar,” paparnya.

Dijelaskan, satu produk harus memiliki izin edar karena salah satu syarat bahwa makanan ini sudah terjamin ketika beredar adalah dengan memiliki izin edar. ‘’Kalau belum memiliki izin edar, maka kami tidak bisa memastikan bahwa makanan ini aman dan sehat,’’ terangnya.

Walaupun demikian, masih kata Lithin, bukan berarti bahwa ketika produk itu sudah memiliki izin edar maka pasti aman. Makanya tetap dilakukan sampling, inspeksi untuk menjamin apakah makanan ini tetap aman dan sehat. “Serta dilakukan pengujian di laboratorium untuk memastikan apakah memang makanan ini tidak mengandung bahan berbahaya atau mengandung microba melebihi batas,” jelasnya.

Sementara untuk takjil, sambungnya, telah dilakukan uji sampling terhadap 58 sampel yang ada di  kawasan Masjid Al-Fattah, Batu Merah, Wayame, Nania, Waiheru, Air Besar, Air Kuning, Poka dan Kebun Cengkeh. Untuk 58 item tersebut, semua tidak mengandung bahan berbahaya. “Ada 17 item sampling yang kemudian kita lanjutkan untuk diuji microbiologinya. Sampai dengan hari ini belum ada hasilnya. Diharapkan dari sampling yang diambil negatif semua artinya tidak ada mengandung bahan berbahaya,” harapnya.

Selain itu, kata dia, juga dilakukan pengujian untuk penganan segar di pasar modern atau di pasar tradisonal. Uji samplingnya pada ikan asin, ikan teri, tahu, ayam, bakso, mie basah dan udang. “Untuk pengujian mendeteksi apakah mengandung bahan berbahaya atau tidak. Setelah diuji, dari 47 item pangan segar yang diuji, semua negatif dari bahan berbahaya,” ungkapnya.

Lebih jauh Lihtin menjelaskan, terkait temuan dilapangan, produk-produk tersebut dikategorikan dalam beberapa hal. Kalau produk kadaluarsa dan rusak, artinya kemasannya sudah mengandung microba atau bakteri, yang kalau dimakan bisa menyebabkan tetanus. Produk ini harus dimusnahkan. “Sedangkan untuk produk tanpa izin edar, akan ditelusuri beli dimana sehingga kita amankan untuk melakukan proses selanjutnya.  Kemudian  makanan yang izin edarnya sudah tidak berlaku lagi. Ini tetap diamankan sementara karena kami harus mengecek ke pusat, apakah produk ini masa izin edar sudah habis dan tidak diperpanjang atau dalam proses perpanjangan, maka kita kan memberikan toleransi kurang lebih 6 bulan,” pungkasnya. (IWU)

Click to comment

Most Popular

To Top