Heboh.! Pasien Diusir Dari RSUD Haulussy – Ambon Ekspres
Berita Utama

Heboh.! Pasien Diusir Dari RSUD Haulussy

TERLANTAR: Ny Paulin Tanasale bersama anaknya Fransisco Imanuel saat menjalani perawatan di RS Bhakti Rahayu Ambon, Kamis (8/6).ARS HAMDIN/AMEKS

AMEKS ONLINE, AMBON.––Pelayanan di RSUD dr M Haulussy Ambon kembali mendapat sorotan negatif. Kali ini sejumlah petugas medis di rumah sakit itu pada Rabu (7/6) diduga mengusir pasien yang seharusnya mendapat pelayanan kesehatan.

Ironisnya, pasien Fransisco Imanuel alias Noel masih balita. Usianya baru 2 tahun 8 bulan. Dia menderita penyakit diare dan panas tinggi. Saat masuk rumah sakit, dia tidak mendapatkan pelayanan medis dari pukul 19.00 WIT hingga 24.00 WIT Kamis dini hari.

Merasa diacuhkan oleh dokter dan tenaga kesehatan, membuat Paulina Tanasale (36), ibu pasien melayangkan protes. Aksi protes orang tua pasien ternyata tidak mendapatkan respons dengan baik. Namun yang didapat adalah tindakan pengusiran dari RSUD oleh sejumlah tenaga medis. ‘’Anak saya sakit dari Selasa malam. Keesokan harinya (Rabu), sekitar pukul 18.00 WIT, saya bawa ke RSUD Haulussy. Saat tiba kami langsung dapat tindakan dari dokter. Kata dokter ada dehidrasi dan diinfus. Setelah itu kita diminta ke ruang observasi bagian belakang UGD, tunggu sambil lihat perkembangan kalau ada perubahan. Kalau bisa pulang maka pulang, tetapi kalau tidak rawat inap,” kata Paulina Tanasale kepada wartawan di RSU Bhakti Rahayu, Kamis (8/6).

Dia menuturkan, setelah mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Noel, dirinya kemudian mengikutinya. Duduk diruang observasi, sambil diinfus hingga sekira pukul 22.00 WIT, pihak RSUD tidak lagi menghampir mereka. Melihat kondisi anaknya, yang semakin menurun, Paulina berinisiatif untuk mengurus seluruh administrasi guna menginap di RSUD Haulussy’ tanpa ada perintah dari dokter. “Karena tunggu terlalu lama dari jam 19.30 WIT hingga 21.30 WIT, sementara anak saya terus muntah dan buang air, kemudian kondisinya lemas. Saya langsung menemui dokter dan meminta urus adminstrasi agar kita rawat inap. Setelah urus adminstrasi selesai, kita disuruh tunggu lagi,” tuturnya.

Sekitar pukul 24.00 WIT, pasien tak kunjung mendapat perhatian dari pihak RSUD. Dia kemudian protes kepada pihak petugas kesehatan. Sayangnya aksi protes itu, berbuntut pada tindakan pengusiran. “Sekitar pukul 24.00 WIT, sementara anak saya semakin rewel dan kondisinya sudah semakin menurut, pas ada salah satu mantri lewat, kemudian saya tanya, sampai kapan kita tunggu disini. Kalau tidak ada pelayanan mendingan kita pulang saya. Pak mantri, langsung mengatakan silahkan pulang saja, malah itu lebih baik,” jelas dia.

Tak lama, setelah dipersilahkan salah seorang petugas itu, datanglah petugas yang lain, dan langsung mencabut infus yang berada ditangan pasien. “Suster itu datang dan mengatakan, ibu minta pulang jadi mari kita kasih pulang. Saya bilang iya, karena dari tadi saya tidak dapat pelayanan. Kemudian saya dan suster beradu mulut. Dia paksa untuk cabut infus dari anak saya dan mengatakan silahkan ibu tinggalkan

RSUD ini, kami tidak mau lagi layani ibu. Silahkan ibu laporkan kami,” kata dia menirukan pembicaraan sang suster.
Sebelum keluar warga yang mendiami kawasan Mangga dua, ini, sempat menemui dokter jaga yang awalnya melayani pasien. “Saya ribut di depan UGD, karena kecewa dengan pelayanan. Kemudian dipanggil oleh dokter jaga. Saya sampaikan dari jam 19.00 WIT, usai pasang infus, tidak ada satupun yang datang melihat kami. Kemudian sekitar pukul 21.30 WIT, kami urus administrasi, kami disuruh tunggu. Dan sampai 24.00 WIT, tidak ada yang antar kami ke ruangan inap maupun melayani kami. Mendengar itu dokter langsung pergi,” bebernya.

Dirinya, terpaksa meninggalkan RSUD Haulussy ditengah hujan deras mengguyur Kota Ambon. “Kami ini, tidak ada BPJS, demi anak saya. Saya akan berkorban, biaya administrasi sudah kami selesaikan. Tetapi yang terjadi tidak dapat pelayanan. Inikah pelayanan RS pemerintah,” sesalnya.

Tanasale sangat menyayangkan pelayanan yang terjadi di RSUD kebanggaan masyarakat Maluku itu.“Yang bukan pengguna BPJS saya seperti ini (tidak dapat pelayanan red), bagaimana dengan yang BPJS, atau orang tidak mampu. Wajarlah bila miskin dilarang sakit,” terangnya.

Dia berharap, pemerintah bisa memperbaiki pelayanan yang ada di RSUD dr Haulussy. Karena jika tidak maka akan adalah lagi korban-korban pengusiran maupun yang tidak mendapat pelayanan dari pihak RSUD. “Semoga cukup terjadi buat anak saya. Jangan lagi terjadi buat orang lain,” ingatnya.

Kini Paulina membawa sang anak ke RSUD Bhakti Rahayu untuk mendapat perawatan. Lantaran kondisi sang anak masih lemas. “Kami keluar dari dari RSUD dan langsung kerumah. Tadi malam hujan besar, maka tadi pagi sekitar pukul 10.00 WIT (kemarin), baru kita bawa kesini (Bhakti Rayahu), karena kondisi anak kami sangat lemas. Anak saya trauma dengan insiden tengah malam, sehingga ketika lihat orang yang baju putih selalu menangis,” tandasnya.

Terpisah, Allen Risakotta selaku adik dari ibu pasien meminta agar ada sanksi yang diberikan pemerintah daerah lewat dinas terkait. Pasalnya, saat Paulina Tanasale mengeluhkan soal pelayanan, justru ditertawai oleh para suster, mantri termasuk dokter yang bersangkutan. “Alasan saya mengabadikan video tersebut, agar ada perhatian dari pemerintah serta masyarakat Maluku khususnya untuk bisa melihat secara langsung seperti apa pelayanan RSU dr Haulussy. Karena itulah fakta yang terjadi,” terangnya.

Menurutnya, sebagai pelayan masyarakat, harusnya para suster dan mantri harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Apalagi kata dia, pasien datang untuk berobat sebagai pasien umum bukan pasien BPJS Kesehatan. “Saya kesal dan heran, kok bisa seperti ini. Kita masuk sebagai pasien umum bukan BPJS. Kalau yang umum saja seperti ini, apalagi pasien BPJS. Harus ada sanksi yang diberikan kepada suster, mantri dan juga dokter tersebut. Agar tidak ada lagi korban lainnya yang diperlakukan sama seperti kami. Dan sebagai masyarakat, saya harap gubernur Maluku bisa bertindak tegas dan adil,” pintanya.

Wakil Ketua KNPI Maluku, Stevi Paliama menambahkan, sebagai perwakilan pemuda di Maluku merasa prihatin atas apa yang menimpa Noel Tanasale. “Ini perbuatan tidak manusiawi yang telah dilakukan pihak rumah sakit lewat suster maupun mantri RSU dr Haulussy Ambon. Dan saya minta gubernur Maluku segera bertindak tegas. Bukan saja sebatas koordinasi, tetapi bisa memberikan sanksi kepada oknum-oknum yang telah melanggar sumpah dan janji sebagai pelayan masyarakat,” pinta dia.

Dikatakan, KNPI Maluku akan terus melakukan pengawalan terhadap persoalan ini. Bahkan hingga tingkat pelaporan ke DPRD, pemerintah daerah maupun hingga ke kepolisian. “KNPI siap mengawal persoalan ini hingga selesai. Dan kita tidak akan berhenti hingga persoalan ini benar-benar selesai. Dan para oknum yang melanggar aturan harus diberikan sanksi tegas. Sehingga ada efek jera dan tidak akan terjadi hal yang sama di kemudian hari,” ingatnya.

Gubernur Maluku Said Assagaff, geram dengan aksi oknum perawat di RSUD Haulussy. Assagaff bahkan, meminta untuk pasien yang telah diusir itu segera dikembalikan guna menjalani perawatan lanjutan di RSUD tersebut. “Model apa itu ? Kita sudah cape kerja untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kok masih saja ada tindakan seperti itu. Itu tidak boleh terjadi lagi,” tegas Assagaff.

Assagaff mengatakan, jika tindakan yang lagi viral dimedia sosial itu benar terjadi maka suster yang melakukan tindakan itu akan dikenakan sanksi tegas.
Kepala Dinas Kesehatan Meykal Pontoh mengaku, sangat menyesali tindakan perawat. Menurut dia, mestinya, pihak RSUD dr Haulussy memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, termasuk pasien tersebut. “Pertama-tama kami sangat menyesali tindakan itu. Apapun alasannya. Perawat tidak pelu melakukan tindakan seperti. Wajar jika orang tua pasien marah dan mengeluarkan kalimat seperti itu, karena tidak mendapat pelayanan,” kata Pontoh terpisah.

Pontoh meminta, agar Frisco Imanuel, dirujuk ke RSUD Tulehu, dengan biaya perawatan ditanggung pemerintah. “Kasihan sekali. Kalau bisa kami minta supaya segera dirujuk ke RSUD Tulehu. Persoalan ini, nanti kita sikapi bersama,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur RSUD dr Haulussy Ambon, Justini Pawa terkesan membela anak buahnya. Melalui Karo Humas dan Protokeler Setda Maluku, Mohammad Janaries, dia mengatakan, tidak ada aksi pengusiran. Namun itu semata-mata karena orang tua pasien yang meminta pulang. “Karena tidak mendapatkan perhatian, maka orang tua pasien minta untuk pulang. Karena minta pulang maka kami pulangkan. Jadi tidak ada pengusiran,” ungkap Janaries menirukan komentar Dirut RSUD Haulussy.(AHA/ISL)

Most Popular

To Top