Penyidik Ditreskrimsus Tidak Profesional – Ambon Ekspres
Berita Utama

Penyidik Ditreskrimsus Tidak Profesional

Ilustrasi/Net

AMEKS ONLINE, AMBON.––Penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku nyata-nyata tidak professional menangani kasus dugaan suap yang menjerat AKP Johanis Titus. Dalam persidangan terungkap, uang Rp 100 juta yang diberikan Jefri Tandra kepada polisi yang dinikmati terdakwa mantan Kasat Reskrim Polres Maluku Tenggara Barat (MTB) itu hanya Rp 20 juta.

Sisanya Rp 65 juta dinikmati Kepala Bidang Oprasional (KBO) Satreskrim, Iptu Johanis Lakear dan Kanit II Satreskrim, Raja Syaputra. Namun kedua oknum polisi justru tidak menjadi tersangka dalam kasus ini. Kondisi ini membuat hakim yang menyidangkan kasus ini heran. “Loh, saudara saksi juga menerima uang, kenapa tidak ikut dijadikan tersangka ? Dia kan juga menerima dana suap ini,” kata hakim Bendhart Panjaitan yang terlihat kaget.

Menurutnya, saksi juga harus dijadikan sebagai tersangka karena ikut menerima uang dengan nilai yang lebih besar dari terdakwa yakni Rp 65 juta sebagaimana pengakuan saksi. “Kenapa hanya satu orang saja yang dijerat sedangkan yang lainnya tidak dijerat termasuk pemberi suap, Djefri Tandra,” ungkap hakim bertanya.

Wadir Reskrimsus Polda Maluku, AKBP Harold Wilson Huwae yang dikonfirmasi terkait kejanggalan proses penyidikan kasus tersebut mengaku akan mengecek BAP kasus tersebut. ‘’Nanti akan saya tanya lagi penyidik yang menangani kasus itu. Termasuk pelajari berkas perkaranya. Untuk saat ini, penyidik yang menangani kasus itu sementara berhalangan dan tidak masuk kantor,” singkat mantan Kapolres Ambon itu, kepada koran, kemarin.

Kabid Humas Polda Maluku, AKBP Abner Richard Tatuh mengatakan, dalam proses penyelidikan dan penyidikan, penyidik tidak menemukan adanya keterlibatan pihak lain. “Dugaan saya, mungkin dalam proses penyelidikan dan penyidikan, tidak ditemukan keterlibatan pihak lain. Termasuk kedua orang itu, sehingga AKP JT ditetapkan sebagai tersangka sendiri,” kata Tatuh.

Dikatakan, bila memang berdasarkan fakta persidangan terungkap adanya keterlibatan dari kedua anggota polisi yang pernah menjadi anak buah AKP Johanis Titus, makanya pihaknya akan tetap memproses kembali kasus suap tersebut berdasarkan fakta-fakta yang ada. ‘’Kalau memang itu fakta, maka kami siap untuk kembali melakukan proses, termasuk menetapkan kedua orang itu, sebagai tersangka. yang pasti kami terbuka dan tetap proses sesuai fakta yang ada,” tandasnya.
PEMBERI SUAP BEBAS

Kasipidsus Kejari MTB, Denny Syaputra kepada Ambon Ekspres menjelaskan, tidak menutup kemungkinan perkara ini akan dibuka lagi oleh pihaknya dengan mengacu pada fakta-fakta dalam persidangan. Selain itu, menurut dia, awal proses di penyidikan JPU yang meneliti berkas perkara tersebut telah menyerahkan petunjuk kepada penyidik namun itu tidak dipenuhi. “Diketahui bahwa dalam kasus ini kami sudah memberikan petunujuk bagi mereka (penyidik) namun itu tidak dipenuhi. Dan itu kewenngan mereka selaku penyidik. Namun perlu kami tegaskan bahwa kasus tersebut akan kami buka setelah mendapat petunjuk dari pimpinan. Karena hasil sidang akan kita evalusai dan laporkan kepada pimpinan,” tegas Denny.

Sementara itu, praktisi hukum, Wendy Tuaputimain mengaku, penyidikan yang dilakukan Poda Maluku terhadap kasus ini dinilai sangat tidak adil dan terkasan sangat tebang pilih. “Apa yang menjadi istimwa oleh kedua saksi termasuk pemberi suap sampai mereka tidak dijadikan tersangka. Padahal perbuatan mereka telah terbukti lewat pengakuan mereka. Jangan tebang pilih dan segera menetapkan mereka sebagai tersangka tanpa harus ada putusan dari pengadilan terhadap perkara milik Johanis Titus,” tegas Wendy.

Menurutnya, baik pelaku pemberi maupun penerima gratifikasi atau suap itu harus sama-sama dimintai pertanggung jawabaan sebagaimana diatur dalam  pasal 5 jo pasal 12 huruf a dan huruf b UU No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Penerapan hukum apa yang dipakai penyidik. UU kan jelas baik pelaku pemberi maupun penerima gratifikasi atau suap itu harus sama-sama dimintai pertanggung jawabaan pidananya. Dengan demikian tidak ada alasan untuk mereka tidak ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Wendy.

JPU Deny Syaputra dalam dakwaanya menjelaskan, kasus ini bermula saat adan penanganan kasus penyerobotan tanah yang dilaporkan Jefri Tandra ke Polres MTB. Untuk mempercepat proses penyelidikan dan penyidikan, tersangka diduga disuap oleh Jefri berupa satu buah HP Iphone 6Plus dan uang tunai Rp 100 juta. “Merasa kecewa, Jefri kemudian melaporkan AKP Titus yang saat ini bertugas di SPN Polda Maluku, Passo Ambon ke penyidik Ditreskrimsus,” kata Denny.(NEL)

Most Popular

To Top