Kisah Karina Ramadini Yang Terus Mengejar Prestasi Dalam Kekurangannya – Ambon Ekspres
Berita Utama

Kisah Karina Ramadini Yang Terus Mengejar Prestasi Dalam Kekurangannya

Karina Ramadini Puspasari rasanya tidak punya kosakata minder dalam kamus hidupnya. Tangannya yang tumbuh tak sempurna tidak menghalangi rasa percaya diri gadis itu. Bahkan, prestasi demi prestasi terus diukirnya. Di dalam atau di luar sekolah.

Oleh :DWI WAHYUNINGSIH

HARI masih pukul 16.00. Langit masih terang. Azan magrib belum berkumandang. Buka puasa masih jauh. Tapi, Karina Ramadini Puspasari terlihat bersemangat latihan lari di lapangan olahraga KONI Jatim Selasa (30/5).

Ada Sri Andriani, ibunya, yang menemani di sisi lapangan. Lalu, ada juga seorang pelatih yang mendampingi latihan Karin, sapaannya. ”Hari ini cuma latihan tambahan. Jadi, ya yang mau saja,” jelas Karin.

Selain untuk meningkatkan performa, latihan tambahan itu menjadi salah satu cara untuk menjaga kondisi tubuhnya. ’’Dulu sewaktu belum ikut kejuaraan kayak gini, aku sering sakit,” lanjut siswi SMAN 19 Surabaya tersebut.

Karin memang memiliki tekanan darah rendah. Tak jarang, dia pingsan saat mengikuti upacara bendera. Sejatinya, gadis kelahiran 17 November 2001 tersebut tidak menyukai olahraga. Dia baru mengenal lari pada saat berusia 13 tahun. Itu pun karena dikenalkan oleh seorang pelatih. Tapi, sejak mengenal lari, pelan-pelan putri pasangan Sri Andriani dan Erwin Laskminto tersebut mulai menikmati olahraga atletik itu. ”Awalnya, cuma penasaran. Terus pengin nyoba. Lama-lama jadi suka,” tuturnya penuh senyum.

Dari sanalah karirnya sebagai atlet paralympic dimulai. Ya, Karin memang bukan atlet biasa. Dia adalah atlet difabel. Tangan kirinya tidak tumbuh sempurna. Tapi, kondisi itu tidak menjadi halangan baginya. Berbagai kejuaraan pun sudah dia ikuti. Mulai yang tingkat daerah hingga tingkat provinsi. Hampir dalam setiap pertandingan dia selalu membawa pulang piala. Entah sebagai runner-up atau peringkat ketiga.

Sebelum menjadi atlet seperti sekarang, Karin kecil sempat diejek oleh rekan-rekannya di sekolah. Namun, hal itu tak lantas membuatnya minder. Memang kala itu dia sering membalasnya dengan penuh emosi. Tapi, seiring berjalannya waktu, gadis yang tinggal di Tenggumung Baru Selatan tersebut mulai menanggapinya dengan lebih kalem.

Dia lebih memilih diam jika ada yang meledek. Jika sudah keterlaluan, dia justru membalasnya dengan bercanda. ’’Cuma tak bilang gini, kadang. Mau ta tak tuker sama tanganku? Nanti tak mintain sama Allah kalau mau,” lanjutnya mengenang. Prestasinya itu dia jadikan pembuktian bahwa kekurangan bukan sebuah hambatan untuk meraih mimpi.

Ketangguhan Karin tentu tidak didapat begitu saja. Didikan dari orang tuanya menjadikan gadis kelas X SMA itu sekuat sekarang. ’’Dari kecil memang sudah saya ajarkan untuk menerima kekurangannya,” tutur Sri, sang ibu. Sri pun selalu menanamkan kepada putri tunggalnya untuk tetap percaya diri meski kondisinya tidak sama dengan anak normal lainnya.

Selain rasa percaya diri, kemandirian juga dibekalkan kepada Karin. Keterbatasan fisik yang dimiliki Karin tidak membuat Sri memanjakan anaknya. Justru Karin dituntut untuk bisa melakukan apa-apa sendiri, tanpa harus bergantung pada orang lain.

’’Kalau ada masalah pun, saya biasanya cuma mendengarkan. Lalu, anaknya tak tanya, kamu bisa nggak ngatasin sendiri,” lanjutnya. Jika ditanya seperti itu, Karin biasanya berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketika tidak mampu, Karin baru akan meminta bantuan orang tuanya.
Karena didikan tersebut, Karin tumbuh sebagai gadis yang penuh percaya diri dan mandiri. Tak jarang, dia turut membantu pekerjaan sang ibu untuk membuat kerajinan di rumah. ”Biasanya, cuma bantuin nyusun manik-manik di benang. Nanti yang ngiket mama,” ucap penggemar Nanda Mei, atlet paralympic nasional, itu.

Meski fokus dengan lari, tidak berarti olahraga lain tidak dia coba. ”Pernah nyoba lompat jauh. Tapi, malah jatuhnya nyungsep. Mukaku penuh pasir. Habis itu enggak mau lagi,” tutur alumnus SMP Wachid Hasyim 1 Surabaya tersebut. Tolak peluru juga sempat dia jajal. Tapi, tolakannya tidak bisa kuat. Karena itu, pelatih memfokuskannya untuk menjadi atlet lari.

Meski terlihat gampang, tidak berarti Karin bisa terus berlari dengan mulus. Tidak jarang, dia kehilangan keseimbangan hanya karena ada kerikil kecil. Tapi, tentu saja itu tidak menjadi halangan berarti. Dengan rajin berlatih, keseimbangannya semakin membaik.

Memiliki karir yang cukup cemerlang di dunia atlet tidak membuat dunia pendidikan terabaikan. Namun, di bangku SMA, Karin sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan Kurikulum 2013. Meski begitu, nilai akademis Karin tidak pernah kurang dari 80.

Mimpi besarnya adalah tampil sebagai atlet internasional dan menjajal stadion baru yang tengah dibuat di Jepang. Meski begitu, dia tidak ingin meninggalkan dunia teater yang dikenalnya sejak di bangku sekolah dasar tersebut. ’’Penginnya kuliah di jurusan teater. Atau kalau nggak, ya jurusan olahraga,” ucapnya penuh semangat.
(*/c6/dos)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!